Kolong Raksasa, Camilan Khas Pacitan yang Gurih Renyah

Purwo Sumodiharjo - detikFood Minggu, 20 Sep 2020 11:30 WIB
Kolong Raksasa, Camilan Khas Pacitan yang Gurih Renyah Foto: dok. detikFood/ Purwo Sumodiharjo
Pacitan -

Bagi masyarakat Pacitan kolong sudah sangat populer. Penganan tradisional berbahan baku singkong ini biasa disantap sebagai camilan.

Sejalan kemajuan peradaban inovasi pun muncul. Ini seperti dilakukan Sutini (55), warga Desa Sedeng. Dari kios sederhana miliknya tercipta varian kolong yang berbeda dari biasanya. Dia menyebutnya 'Kolong Raksasa'.

"Karena (ukurannya) besar itu. Jadi pelanggan lebih mudah mengingat," papar Sutini berbincang dengan detikcom di kiosnya, Jl alternatif Pacitan-Solo, Desa Sedeng, Sabtu (19/9/2020) siang.

Kolong Raksasa, Camilan Khas Pacitan yang Gurih RenyahKolong Raksasa, Camilan Khas Pacitan yang Gurih Renyah Foto: dok. detikFood/ Purwo Sumodiharjo

Bagi nenek empat cucu tersebut, membuat kolong sudah dia lakoni sejak kanak-kanak. Kegiatan itu dia lakukan untuk membantu kedua orang tuanya yang juga pembuat kolong. Hanya saja makanan olahan itu dibikin dalam ukuran kecil.

"Saat itu bikinnya ya kolong kecil seperti yang biasa kita jumpai di pasaran itu," tambah istri dari Tumadi tersebut.

Lazimnya lingkar kolong memang hanya berdiameter sekitar 5 centimeter. Namun kolong bikinan Sutini berukuran dua kali lipat dari biasanya. Ukuran jumbo itu akhirnya menjadi ciri khas makanan tradisional ciptaan Sutini.

Kolong Raksasa, Camilan Khas Pacitan yang Gurih RenyahKolong Raksasa, Camilan Khas Pacitan yang Gurih Renyah Foto: dok. detikFood/ Purwo Sumodiharjo

Diakuinya, sejak pertama kali diperkenalkan dua tahun lalu kolong raksasa langsung digemari pelanggan. Tak hanya makan di tempat, banyak pula pembeli yang memborong hingga puluhan biji untuk dibawa pulang.

Tentu saja ada pula aneka jenis jajanan lain yang disajikan di lapak miliknya. Sebut saja ketan, tempe, sukun, pisang, dan tahu. Semuanya serba digoreng. Sutini juga menyediakan makanan berat berupa lontong pecel.

"Pokoknya tiap harinya itu bisa bikin 400 biji (kolong raksasa) dan selalu habis terjual. Malah kadang-kadang masih kurang," imbuhnya seraya menjelaskan dia menghabiskan bahan baku berupa 1 kwintal singkong per hari.

Awalnya penjualan kolong raksasa hanya sebatas melayani pelanggan sekitar. Namun seiring makin dikenalnya varian makanan tersebut, pembelinya makin banyak. Tak sedikit pengguna jalan yang sengaja berhenti untuk jajan.

Tidak itu saja, kolong raksasa buatan Sutini bahkan sudah merambah pasar antar provinsi tak hanya di Pacitan. Banyak warga setempat yang memborong untuk memenuhi pesanan kerabatnya di luar kota. Mulai dari Yogyakarta, Malang, hingga Surabaya.

Kolong Raksasa, Camilan Khas Pacitan yang Gurih RenyahKolong Raksasa, Camilan Khas Pacitan yang Gurih Renyah Foto: dok. detikFood/ Purwo Sumodiharjo

"Kalau yang dikirim ke luar kota begitu biasanya belinya mentahan (belum digoreng)," tambahnya.

Harga jual kolong raksasa sangatlah terjangkau. Untuk kolong yang siap santap, per bijinya hanya dibanderol Rp 1.000. Adapun kolong basah yang masih belum digoreng harganya lebih murah. Cukup merogoh kocek Rp 10.000 pembeli dapat 13 biji kolong.

Sutini mengatakan untuk membuat kolong raksasa caranya tidak terlalu sulit. Singkong yang sudah dikupas diparut lalu dicampur dengan pati (tepung kanji), garam, dan kelapa parut. Adonan ini diremas-remas hingga merata sebelum dikukus.

Kolong Raksasa, Camilan Khas Pacitan yang Gurih RenyahKolong Raksasa, Camilan Khas Pacitan yang Gurih Renyah Foto: dok. detikFood/ Purwo Sumodiharjo

Setelah matang adonan lalu dibentuk menyerupai gelang. Langkah selanjutnya adalah menggoreng kolong basah tersebut hingga matang dan kering. Tahap terakhir inilah yang membutuhkan keahlian khusus.

"Jadi kalau salah memperlakukan kolong bisa meletup saat digoreng. Kalau sudah seperti itu apinya harus segera dikecilkan," ucap Sutini yang wajahnya pernah terkena percikan minyak panas saat masih anak-anak.



Simak Video "Kolong Raksasa, Jajanan Tradisional Khas Pacitan"
[Gambas:Video 20detik]
(sob/odi)