William Wongso Bicara Potensi Menu Nusantara agar Semakin Dikenal

Nurcholis Maarif - detikFood Senin, 24 Agu 2020 21:22 WIB
William Wongso Foto: dok. William Wongso
Jakarta -

Pakar Kuliner Indonesia William Wongso menyebut Indonesia punya banyak keragaman kuliner, bahkan dalam satu jenis makanan yang tergantung wilayahnya masing-masing. Dari keragaman tersebut, seharusnya ada satu komposisi otentik yang bisa dikenalkan ke publik.

Ia mencontohkan soal rendang yang belakangan viral di luar negeri sejak tayangan Gordon Ramsay. Kata dia, Gordon Ramsay baru menjajal satu jenis rendang padahal ada 951 nagari di Sumatera Barat yang berarti ada 951 jenis rendang.

"Tapikan kita bisa mengambil satu kunci komposisi mana yang kita ambil, kita ambil yang paling lengkap. Misalnya ada 15 bahan untuk masak satu daging, hasilnya harmonis dalam rasa," ujar dia dalam virtual talkshow 'Inovasikan Pangan Indonesia' yang digelar Accelerice, Senin (24/8/2020).

"Aku anjurkan mulai sekarang, sebut juga mau makan rendang mana, kalau soto, soto mana. Itu menunjukkan Indonesia itu kaya dengan keragamannya. Semua makan tuh ada embel-embelnya," imbuhnya.

Ia juga mengusulkan setiap pemerintah daerah harus memberikan satu resep khas dari varian yang ada di daerahnya. Satu resep ini untuk mengenalkan ke luar daerah tersebut, sedangkan untuk belajar lebih banyak variannya harus datang ke masing-masing daerah.

Bicara soal bumbu dan kuliner Indonesia ia mencontohkan di swalayan Amerika Serikat, porsi bumbu Indonesia masih mendapat porsi sedikit jika dibandingkan dengan bumbu Thailand yang sudah satu rak dan bumbu India yang bahkan sudah satu toko.

"Kita mencanangkan Indonesia spice up the world. Kita memilih bumbu yang baik, habis COVID-19 ini mau menyerang Afrika dengan bumbu Indonesia, terutama fokus makanan mereka yang kering semua, dibumbui dengan bumbu Indonesia jauh berubah," ujarnya.

William Wongso bilang toko kuliner Indonesia yang laku dalam negeri belum tentu laku saat buka di luar negeri jika tidak menyesuaikan dengan budaya mereka. Selain itu, orang Indonesia kerap tidak berkomunitas di luar negeri dan ini berefek ke lemahnya market kuliner Indonesia.

"Aku pernah usulkan harus banyak meninjau kinerja diaspora, itu didulukan, di-skill up, didanain agar profilnya lebih naik karena harus dipilih. Restoran indonesia di luar negeri tidak bisa template. Laku di Indonesia, diterapkan di Tokyo belum tentu," ujarnya.

"Misalnya saya mengusulkan konsep sate bar. Semua bumbu harus dari Indonesia. Semua bisa di-centralized, jadi mereka tinggal masak. Bumbu dari Indonesia, berarti ada ekspor value, itu membantu supaya petani menghasilkan produk kualitas bumbu yang baik."

"Orang barat ngerti makanan yang dibakar, terus mereka makanan sate itu cocok dengan bir dan wine. Beda dengan di Indonesia, dia hanya makan pakai nasi. Konsep ini harus dipertimbangkan," imbuhnya.

Sebagai informasi, dalam virtual talkshow 'Inovasikan Pangan Indonesia' tersebut, turut hadir pembicara lain, yaitu Bapak Teknologi Pangan Indonesia Prof. Dr. F.G. Winarno dan Direktur Utama Smesco Indonesia Leonard Theosabrata.

Adapun Accelerice sebagai penyelenggara acara merupakan ini merupakan akselerator food startup Indonesia. Lewat acara #FutureFood Day tersebut, Accelerice ingin mewadahi food innovators yang memiliki ide, riset, dan solusi dalam bentuk bisnis untuk dikembangkan dalam skala

(prf/ega)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com