Usai Klepon 'Tidak Islami', Santri Pesantren Ini Bikin Klepon 'Hijrah' Isi Kurma

Dian Utoro Aji - detikFood Kamis, 30 Jul 2020 09:00 WIB
Makanan klepon hijrah buatan santri Ponpes Al Mawaddah, Kudus Foto: Dok. Ponpes Al Mawaddah
Kudus -

Pondok Pesantren (ponpes) Entrepreneur Al Mawaddah yang terletak di Honggosoco Kecamatan Jekulo, Kudus memiliki cara tersendiri untuk membuat makanan bernuansa Islam. Santri mereka membuat klepon "hijrah" yang berisi kurma.

"BLK (balai latihan kerja) ini, BLK pengolahan hasil pertanian, namun pada angkatan keempat (tahun 2020) ini kita mengadakan produksi kue dan roti. Minggu lalu ada makanan khas yang dibully, katanya tidak islami. Karena BLK dibawah pesantren akhirnya santri peserta pelatihan punya usul, gimana kita bikin klepon yang islami. Akhirnya kita bikin adat Jawa lama ini, itu (klepon) dikasih isinya dari kurma. Jadi menarik, yang dianggap tidak islami kan jadi islami," kata Pengasuh Ponpes Al Mawaddah, Sofyan Hadi saat ditemui di ponpesnya di Desa Honggosoco Kecamatan Jekulo, Rabu (28/7/2020).

Sofyan begitu sapaan akrabnya mengatakan, klepon hijrah itu perpaduan dua akulturasi budaya. Yakni budaya Jawa dan Arab. Tradisi Jawa berupa klepon dan kurma merupakan makanan khas dari Arab.

Pengasuh Ponpes Al Mawaddah, Sofyan HadiPengasuh Ponpes Al Mawaddah, Sofyan Hadi Foto: Dian Utoro Aji/dok. detikcom

"Itu kurmanya bukan utuh. Itu kurmanya sudah diblender. Jadi masih ada khas klepon dicampurkan gula aren," kata dia.

Lebih lanjut, Sofyan mengatakan, klepon ini terbilang unik. Karena makanan tersebut sangat sederhana. Makanan klepon ini mencerminkan tradisi lokal. Terutama untuk tetap menjaga moral asli Indonesia.

"Klepon ini unik, karena kesederhanaan, bahan makanan lokal. Kalau makan klepon tidak boleh ngomong kalau makan klepon sambil bicara akan bisa muncrat (isinya gula aren)," ujar dia.

Sejak membuat klepon tersebut dia mengaku sudah banyak pesanan datang bagi peserta pelatihan. Peserta pelatihan ada sebanyak 16 orang, terdiri dari santri dan masyarakat sekitar.

Makanan klepon hijrah buatan santri Ponpes Al Mawaddah, KudusMakanan klepon hijrah buatan santri Ponpes Al Mawaddah, Kudus Foto: Dok. Ponpes Al Mawaddah

"Ada 16 peserta mereka terdiri dari santri dan masyarakat sekitar. Pelatihan 24 hari ini itu diajarkan tidak hanya diajarkan buat roti dan kue yang menunya banyak ada 20 menu, diberikan pelatihan secara bergantian. Termasuk juga pemasaran bagaimana juga dilakukan lewat pemasaran," ujar dia.

Ditambahkan, Staf BLK Al Mawaddah, Muhammad Luthfi Syaf mengatakan, klepon hijrah ini karena perpaduan klepon berisi kurma. Klepon merupakan makanan khas dari Jawa sedangkan kurma berasal dari timur tengah. Menurutnya klepon juga merupakan makanan kesukaan Nabi Muhammad SAW.


"Klepon itu dinamakan klepon hijrah karena perpaduan antaranya klepon dengan kurma. Itu perpaduan antara klepon makanan tradisional Jawa dan kurma merupakan makanan dari timur tengah, kurma itu disukai oleh nabi Muhammad Saw," kata dia.

Makanan klepon hijrah buatan santri Ponpes Al Mawaddah, KudusMakanan klepon hijrah buatan santri Ponpes Al Mawaddah, Kudus Foto: Dok. Ponpes Al Mawaddah

Lutfhi mengatakan harga klepon hijrah dibandrol dengan harga Rp 3 ribu hingga Rp 5 ribu. Tergantung ukuran klepon. Setiap satu bungkus ada sebanyak empat biji klepon hijrah.

"Kalau disini isi kurma dipatok harga Rp 3 ribu sampai dengan Rp 5 ribu isi empat biji," tambah Lutfi.

Diketahui sebelumnya belakangan dihebohkan dengan makanan klepon tidak islami. Banyak beredar di media sosial bahwa makanan klepon bukan makanan islami.



Simak Video "Viral Klepon Tidak Islami, Pedagang Klepon: dari Mananya?"
[Gambas:Video 20detik]
(adr/adr)