Salak Madu Deliserdang 'Go Internasional', 400 Kg Diekspor Perdana ke Thailand

Budi Warsito - detikFood Selasa, 27 Agu 2019 13:33 WIB
Foto: Budi Warsito/detikcom Foto: Budi Warsito/detikcom
Deliserdang - Salak madu asal daerah Tiga Johar, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara (Sumut) tembus pasar ekspor. Sebanyak 400 Kg salak milik petani Deliserdang diekspor perdana ke Thailand.

Dengan dilakukannya ekspor perdana tersebut, maka semakin bertambah jenis hasil pertanian Sumut yang merambah pasar ekspor. Kementerian Pertanian lewat Badan Karantina Pertanian (Barantan) pun memberikan apresiasi kepada petani dan eksportir di wilayah Sumut.

"Kita patut apresiasi prestasi yang demikian. Kita bantu dari sisi informasi dan pemenuhan phytosanitary nya," ungkap Kepala Barantan.
Salak Madu Deliserdang 'Go Internasional', 400 Kg Diekspor Perdana ke Thailand Foto: Bagus Kurniawan/detikcom
Baca juga : Wanita Ini Sukses Mengolah Salak Asam yang Terbuang Jadi Cake dan Sambal Lezat

Ali Jamil saat melepas perdana ekspor salak madu dari Deli Serdang ke Thailand bersama Bupati Deliserdang H. Ashari Tambunan dan Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Medan Hafni Sahara di Kantor Karantina Pertanian Medan di Kualanamu, Selasa (27/8/2019).

Ali Jamil mengungkapkan, sebelumnya, berbagai daerah telah melakukan ekspor salak ke mancanegara. Seperti petani salak asal Yogyakarta, Denpasar dan Semarang. "Sekarang giliran petani di Kabupaten Deliserdang yang mempu membawa buah bernama latin Salacca edulis ke pasar luar negeri," terangnya.

Untuk memastikan buah yang diekspor merupakan kualitas yang baik, target pemeriksa karantina pada buah salak salah satunya adalah terhadap lalat buah ( Bactrocera spp_). Jenis hama lalat buah yang menjadi perhatian utama untuk negara Thailand, sebagai negara tujuan ekspor perdana kali ini.

Pemeriksaan dilakukan oleh petugas di laboratorium yang telah terakreditasi secara internasional. "Selaku otoritas karantina, Barantan menjadi penjaminnya," jelasnya.
Salak Madu Deliserdang 'Go Internasional', 400 Kg Diekspor Perdana ke Thailand Foto: Budi Warsito/detikcom.Kepala Barantan Ali Jamil saat melepas perdana ekspor salak madu dari Deli Serdang ke Thailand bersama Bupati Deliserdang H. Ashari Tambunan dan Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Medan Hafni Sahara di Kantor Karantina Pertanian Medan di Kualanamu, Selasa (27/8/2019).

Selain itu, juga ada layanan pemeriksaan ekspor yang dilakukan dengan sistem jemput bola. Pemeriksaan di tempat pemilik, rumah kemas yang tujuannya agar meningkatkan efektifitas dan mempercepat arus barang saat di bandara atau pelabuhan.

"Jika diperlukan, petugas karantina juga dapat memberi pelatihan bagi petani maupun rumah kemas agar produknya terhindar dari organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) sesuai yang dipersyaratkan negara tujuan. Sehingga mengurangi rejectsaat penyortiran," terangnya.

"Untuk budidaya dan penerapan 'good farming practice', kita juga bekerjasama dengan instansi terkait di daerah. Supaya kita dorong bersama, kita kibarkan merah putih di berbagai negara," tandas Ali Jamil.

Direktur CV Sinar Ponti sebagai petani sekaligus eksportir Dedi Juliardi mengaku senang atas dukungan dari Kementan. Harga pasar ekspor bisa jauh lebih tinggi dibandingkan harga lokal. "Dari informasi harga ekspor bisa mencapai Rp. 68.000,- per kg sedangkan pasar lokal sekitar Rp. 20.00p,- per kg," ujarnya.
Salak Madu Deliserdang 'Go Internasional', 400 Kg Diekspor Perdana ke Thailand Foto: Budi Warsito/detikcom
Baca juga : Salak Gula Pasir, si Mungil yang Manis Harganya Capai Rp 90.000/kg

Sementara itu, Bupati Deliserdang Ashari Tambunan mengucapkan terimakasih kepada Menteri Pertanian dan semua pihak yang ikut membantu.

"Atas nama masyarakat petani dan penggiat ekspor, saya menyampaikan penghargaan dan terimakasih yang sebesarnya kepada Bapak Menteri Pertanian kepada Kepala Badan Karantina Pertanian, Kepala Balai Karantina Pertanian yang telah banyak memberikan bantuan, dorongan motivasi kepada masyarakat Deliserdang khususnya pada para penggiat ekspor. Sehingga kegiatan ini bisa dilaksanakan," tandasnya.

Dari data Kementerian Pertanian, ekspor buah salak terus meningkat. Pada tahun 2017 tercatat hanya mencapai 965 ton, sedangkan pada 2018 ekspornya mencapai 1.200 ton atau senilai Rp. 19,7 miliyar. Dengan tujuan ekspor ke lebih dari 30 negara mitra dagang, seperti China, New Zealand, Saudi Arabia, Singapura dan Belanda.

Selain melepas 400 kg salak ke Thailand, juga dilakukan pelepasan berbagai komoditas ekspor dari Medan. Diantaranya, bambu; rempah-rempah; kopi; bunga potong; daun jambu dan sirsak, ubi jalar; getah pinus; sarang burung walet dan gigi taring babi ke berbagai negara.

Negara tujuan ekspor itu seperti Jepang, Jerman, Korea Utara, Australia, Kamboja, Vietnam, Hongkong, UK, USA, China dan Rusia dengan total nilai Rp. 131,3 miliar.



Simak Video "Ternyata Salak Bisa Jadi Saus, Begini Cara Pembuatannya!"
[Gambas:Video 20detik]
(dvs/odi)