Pada pengujian mie instan Korea yang mengandung babi, BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) memakai pengujian PCR, bukan tes cepat. Karena PCR sudah lengkap dan sangat peka.
Foto: Pengujian kandungan DNA babi dengan PCR (iStock) |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dr. Arief Budi Witarto, Dosen Program Studi Bioteknologi Universitas Teknologi Sumbawa, menjelaskan perbedaan kedua pengujian. Menurutnya, pada rapid test (tes cepat) yang diperiksa potongan protein dari babi, baik lemak atau daging. Sementara pada tes PCR yang diperiksa DNA dari babi tersebut.
"(PCR) lebih akurat, tapi mahal dan harus di laboratorium. Sebab akurasinya juga berdampak kalau ada kontaminan, ikut terdeteksi, jadi yang negatif terbaca positif," ucap Arief saat dihubungi Detikfood (21/6).
Tes PCR melalui tiga tahapan. Ada ekstraksi, reaksi PCR dan elektroforesis. Sehingga waktu pengujiannya tidak sebentar. Arief mengatakan, "(Proses tes PCR) setengah hari, paling lama 8 jam kerja selesai kalau sudah rutin mengerjakan. PCR sendiri 2-3 jam, elektroforesis 1/2-1 jam, ekstraksi 1 jam paling lama."
Arief kemudian memaparkan teknis dari tes PCR. Pertama, dilakukan ekstraksi DNA keseluruhan dari sampel yang diperiksa. Misalnya pada produk mie. Semua DNA terambil, baik dari babi, gandum, dan lainnya. Prinsip kerja ekstraksi adalah memisahkan DNA dengan komponen lain dengan menggunakan membran silika bermuatan positif, alkohol, sentrifugasi, dan sebagainya.
Selanjutnya reaksi PCR yaitu amplifikasi atau perbanyakan fragmen DNA spesifik babi menggunakan primer atau potongan urutan DNA yang jadi target. Menurut Arief, umumnya DNA target adalah sekuen yang terdapat pada DNA mitokondria bukan DNA inti sel. Karena jumlah kopi DNA-nya lebih banyak jadi lebih mungkin didapat.
Foto: Pengujian metode PCR dalam mie instan (iStock) |
"Tapi sekuen DNA-nya setiap lab dan peneliti bisa punya target berbeda. Misal, menurut majalah InfoPOM edisi Jan-Feb 2017, BPOM pakai sekuen gen sitokrom B. Banyak peneliti Indonesia menggunakan gen ini. Tapi di Malaysia sekuen DNA target yang digunakan kebanyakan LINE-1 yaitu sejenis gen transposon. Selama divalidasi, perbedaan gen ini tidak jd masalah utk mendapatkan hasil yg sama," ungkapnya lebih lanjut.
Terakhir berupa visualisasi hasil menggunakan teknik elektroforesis dan pewarnaan dye. Seperti etidium bromida atau sybrsafe untuk melihat pita produk PCR. "Di sini perlu kontrol positif dan kontrol negatif yaitu sampel yang pasti mengandung DNA babi yang disiapkan dan yang pasti tidak mengandung berupa air steril," tambahnya.
Arief juga sempat memberi catatan mengenai kekurangan teknik PCR dibanding tes cepat. "Kemungkinan adanya senyawa inhibitor (penghambat) maka reaksi PCR terutama dari bahan pangan olahan bisa dikira negatif (tidak ada pita) tapi sebenarnya ada kandungan bahan babi cuma reaksi PCR tidak bekerja. Selain kelemahan itu, (PCR) mahal, perlu tenaga ahli, lab terakreditasi, dan juga kemungkinan pencemaran dalam penyiapan (false positive)," Arief menjelaskan.
Baca juga: Soal Mie Instan Korea Mengandung Babi, Ini Kata Penjual Produk Makanan Korea
Foto: Bumbu dalam sachet bisa mengandung DNA babi (iStock) |
Terkait mie instan, Arief mengatakan kebanyakan DNA babi ditemukan pada bumbu. Ia memberi contoh pada mie instan di Jepang.
"Kalau pengalaman di Jepang, di bumbunya bukan mienya. Bumbu yang dalam sachet. Jadi mienya yang dari gandum umumnya aman. Kalau bumbu, mie instan rasa seafood di Jepang pun bisa tertera mengandung babi karena jadi bagian dari kaldunya. Kalau di sana, kandungan bumbu itu tertera lengkap di kemasan. Jadi tanpa pengujian kita bisa tahu isinya," pungkas Arief yang sempat tinggal di Jepang selama 17 tahun. (msa/odi)

Foto: Pengujian kandungan DNA babi dengan PCR (iStock)
Foto: Pengujian metode PCR dalam mie instan (iStock)
Foto: Bumbu dalam sachet bisa mengandung DNA babi (iStock)
KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN