'Nggaluh Jenang' Meriahkan Peresmian Agenda Banyuwangi Festival 2017

Putri Akmal - detikFood Kamis, 26 Jan 2017 08:00 WIB
Foto: detikcom
Banyuwangi - Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas ikut mengaduk jenang saat peluncuran agenda Banyuwangi Festival 2017. Jenang jadi simbol memulai kerja keras.

Sekumpulan pria berbaju hitam khas using yang sedang serius mengaduk jenang dodol aren tiba-tiba didatangi Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Dengan santai, orang nomor satu di Banyuwangi itu ikut berpartisipasi 'nggaluh jenang' atau mengaduk jenang.

"Ini kalau di Banjar namanya 'nggaluh jenang', ngaduk jenang. Dimasaknya perlu berjam jam, nanti di cicipi ya," ucap Anas sambil tak henti mengaduk jenang dodol aren khas Banjar di Desa Banjar, Kecamatan Licin, Banyuwangi, Rabu (25/1/2017).

Seperti jenang dodol pada umumnya, bahan dasarnya yaitu tepung ketan. Diolah dengan santan untuk menambah rasa gurih dan gula aren yang diambil dari pohon nira perkebunan rakyat desa setempat.
'Nggaluh Jenang' Meriahkan Peresmian Agenda Banyuwangi Festival 2017Foto: detikcom

Kepala Desa Banjar, Nur Hariri menambahkan, untuk mengolah bahan dasar jenang dodol diperlukan wajan penggorengan berdiameter minimal 50 cm. Api dari tungku kayu bakar sengaja dipilih supaya panas yang dihasilkan bisa merata. Diperlukan waktu kurang lebih 2 jam untuk menghasilkan jenang dodol aren yang 'kemoleh'.

Kemoleh dalam bahasa using berarti kenyal dan legit. Untuk lebih memikat rasa, jenang dodol aren yang sudah kemoleh ini disajikan dengan dibungkus daun pisang. Sendok untuk mencolek si legit aren ini juga dibuatkan khusus dari daun pisang.

"Yang disuguhkan jenang yang lagi 'kemoleh' jenang yang kenyal dan legit. Makannya pakai bungkusan daun pisang, atau ya didulit (dicocol) saja pakai jari," jelasnya. Jenang dodol aren khas Banjar ini disajikan hanya saat tertentu saja, yaitu saat seseorang punya gawe atau hajat. Semisal, hajatan menikahkan anak dan akan memulai masa tanam padi.

Rasanya yang manis itu, sambung Nur Hariri, punya maksud penyimpan energi supaya yang mengonsumsinya bisa bersemangat ketika beraktifitas. Masyarakat Banjar memiliki kepercayaan jika saat akan memulai hajat tidak melakukan tradisi jenang dodol aren dan tidak dibagikan ke tetangga, maka usai hajatan, badan akan terasa sakit.

"Ini jenang penyemangat. Bisa memulihkan tenaga dan semangat dengan rasa manisnya. Orang yang punya gawe semua pakai ini (jenang dodol aren), di suguhkan ke tetangga biar barokah. Kalau tidak dijenangkan ya sakit semua," pungkasnya. (odi/odi)