Kalau Belum Makan Nasi Belum Kenyang, Bisa Jadi Tanda Kecanduan Karbohidrat

Maya Safira - detikFood Selasa, 18 Okt 2016 18:00 WIB
Foto: iStock
Jakarta - Keinginan makan berlebihan kerap terjadi pada kebanyakan orang. Saat mengalami food craving, makan tidak lagi jadi penghalau rasa lapar.

Hal tersebut dibahas oleh PT Unilever, Tbk bersama ahli kesehatan dalam Jakarta Food Editor's Club (JFEC) Gathering di Crematology Jakarta (18/10). PT Unilever Indonesia Tbk, sebagai salah satu produsen makanan dan minuman, melihat pentingnya edukasi pengawasan asupan makanan kepada konsumen untuk mencapai hidup sehat melalui kegiatan JFEC.

"Komitmen kami ingin meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Dan itu dilakukan dengan dua cara. Pertama dari produk-produknya sendiri dengan mengembangkan produk pangan yang mengurangi dampak kurang baik. Disamping kandungan produk, edukasi juga tidak kalah penting. Karena konsumsi berlebihan atau tidak sesuai juga tidak baik," ungkap Maria D. Dwianto, Head of Corporate Communications PT Unilever Indonesia Tbk, di hadapan media.

Kalau Belum Makan Nasi Belum Kenyang, Bisa Jadi Tanda Kecanduan KarbohidratFoto: Detikfood


JFEC kali ini mengusung tema "Siasati Food Craving dan Carbohydrate Addiction: Perhatikan Asupan Gula, Garam dan Lemak Berlebih". Ini merupakan salah satu bentuk implementasi Unilever Sustainable Living Plan. Sosialisasi konsumsi makanan bergizi dan sehat menjadi bentuk dukungannya kepada pemerintah yang mengajak masyarakat lebih memperhatikan konsumsi gula, garam dan lemak.

Isu food craving dan carbohydrate addiction pun dibahas dalam JFEC. Turut hadir pakar diet dan pengamat gaya hidup Dr. Grace Judio-Kahl yang memaparkan tentang keinginan kuat konsumsi makanan tertentu yang berbeda dari rasa lapar pada umumnya.

Menurut Dr. Grace, adiksi terhadap makanan lebih sulit dijelaskan. Berbeda dengan adiksi terhadap narkoba, rokok, maupun sekedar kopi.

Kalau Belum Makan Nasi Belum Kenyang, Bisa Jadi Tanda Kecanduan KarbohidratFoto: Detikfood


Adiksi sendiri memiliki ciri dimana seseorang tidak bisa hidup tanpa sumber adiksinya tersebut dan penyalahgunaan fungsi. Jadi dalam kasus makanan, makan bukan lagi karena lapar. Bisa karena faktor emosional, hormonal maupun gabungan proses biokimia.

"Seringkali tidak mendengar "meteran" tubuh bisa jadi permulaan adiksi makanan. Orang Indonesia yang suka makanan tinggi tepung atau karbohidrat punya kecendurang mengalami adiksi," ucap Dr. Grace.

Ciri adiksi makanan yang sering dialami masyarakat adalah ketergantungan konsumsi makanan yang memiliki kandungan karbohidrat olahan, pemicu tingginya asupan gula, garam dan tepung. Salah satu adiksi makanan yang tanpa sadar dialami masyarakat Indonesia yaitu adiksi karbohidrat.

Kalau Belum Makan Nasi Belum Kenyang, Bisa Jadi Tanda Kecanduan KarbohidratFoto: iStock


Hal tersebut disebabkan pola makan masyarakat yang sangat bergantung pada karbohidrat olahan yang dikonsumsi dari pagi, siang hingga malam. Seperti kecenderungan merasa belum kenyang tanpa makan nasi, mengonsumsi mie dan kentang sebagai lauk, camilan tepung digoreng, hingga teh manis.

"Saking banyak makan, makanan hanya ditampung dan tidak dibakar oleh tubuh. Ini bisa menimbulkan berbagai penyakit. Misalnya diabetes, hipertensi dan lainnya. Kalau bisa makan seperlunya saja jangan sampai adiksi," saran Dr. Grace.

Kalau Belum Makan Nasi Belum Kenyang, Bisa Jadi Tanda Kecanduan KarbohidratFoto: Detikfood


Di akhir acara, Chef Yuda Bustara memberikan demo dua minuman berbahan Buavita. Minuman sari buah ini disebut telah mengurangi penambahan gula hingga 36% dan menyumbang asupan zat gizi mikro.

Chef Yuda meracik Guava Berry Float dengan campuran Buavita, buah strawberry dan topping es krim. Selain itu, chef Yuda membuat Mangonana Smoothies yang terinspirasi dessert Taiwan. (msa/odi)