Peringati Hari Kopi Internasional Dubes Australia Seduh Kopi Flores Bajawa

Odilia Winneke - detikFood Jumat, 30 Sep 2016 12:59 WIB
Foto: detikfood
Jakarta - Pagi tadi hari kopi internasional diperingati dalam acara Klinik Kopi. Sebuah pemberdayaan petani kopi dan promosi kopi Indonesia.

Pencinta kopi dunia merayakan Coffee Day atau International Coffee Day kemarin (29/9). Hampir semua cafe dan coffee shop memberikan hadiah dan suguhan kopi special di hair terse but.

Jum'at (30/9) pagi di tengah cuaca mendung, Duta Besar Australia, Paul Grigson bersama PRISMA menggelar "Klinik Kopi'. Acara ngopi istimewa ini diadakan di Anomali Coffee, Menteng Jakarta Pusat.

Dalam acara ini juga dipresentasikan hasil kerja PRISMA, sebuah badan yang didukung pemerintah Australia untuk peningkatan produksi kopi Indonesia. Juga ekonomi petani lokal. Kali ini kopi dari Flores, Nusa Tenggara Timur. PRISMA (Promoting Rural Income through Support for Markets in Agriculture), sebuah badan kerjasama Australia Indonesia untuk pemberdayaan petani local. Salah satu yang terlihat nyata adalah komoditi kopi.

'Sebagai penyuka kopi saya selalu tertantang dengan budaya minum kopi. Kopi bisa disajikan panas, dingin bahkan dalam bentuk latte art yang cantik,' ungkap Paul Grigson dalam sambutannya.

'Kerjasama Australia dan Indonesia yang dilakukan melalui PRISMA sudah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Sudah ada 2200 petani bergabung dan diharapkan akan mencapai 10.000 produser kopi di tahun 2018,' pungkas dubes yang hobi ngopi di berbagai daerah di Indonesia.

Menurutnya, kopi sudah berkembang menjadi gaya hidup. Banyak barista Indonesia yang belajar kopi di Australia dan sebaliknya. Makin banyaknya kafe di kota-kota besar menunjukkan orang makin suka ngopi. Kebutuhan akan kopi lokal yang unik baik di Asutalia maupun Indonesia makin meningkat.

'Berbeda dengan lembaga lain yang memberi bantuan langsung pada petani. Kami mengembangkan model bussiness dalam bentuk kemitraan,' ungkap Daniel Setiawan Nugraha dari PRISMA.


Di Flores ada 60.000 petani kopi setengahnya membudaidayakan kopi Arabica yang bagus di pasaran. Sayangnya hanya 10% yang memenuhi standar mutu dan sisanya dijual sebagai komoditi asalan di pasar lokal.

Dengan kemitraan yang dijalin PRISMA para petani belajar menanam kopi dengan tata cara dan standar internasional. Dua orang petani kopi Flores, Christophorus Silla dan Manani Husalus turut hadir berbagi pengalaman. Dari petani yang terjerat rentenir hingga sukses menjual kopi dengan harga layak.

Untuk membuktikan kelezatan kopi Flores Bajawa, Dubea Australia, Paul Grigson, ditemani Irvan Helmi dan Agam, founder Anomali Coffee serta Mimi, barisata Anomali melakukan coffee cupping.


Sedangkan untuk menyeduh, Paul Grigsonpun melakukan manual brewing kopi Bajawa. Kopi dengan aroma nutty, asam yang sedang dan rasa cokelat yang kuat ini dibagikan kepada beberapa tamu.

Kopi Arabika Bajawa, berasal dari dataran tinggi Ngada, Flores Tengah. Keunikan kopi Bajawa digambarkan sebagai 'caramel, medium dark chocolate dan asam sedang' oleh Mimi, barista Anomali Coffee.


Kopi Flores bisa dinikmati di Anomali Coffee baik diminum di tempat, berupa kopi bubuk atau biji kopi. Sebagai pendukung kopi lokal Indonesia, Dengan misi 'Promoting & Curating Indonesia Specialty Coffee Trhough Educatioan and Experiences'. Kopi Indoensia pun terus dipromosikan di dalam dan di luar negeri. (odi/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com