Gorengan Bisa Enak dan Sehat Jika Digoreng dengan Minyak yang Tepat

Andi Annisa Dwi Rahmawati - detikFood Selasa, 01 Des 2015 18:40 WIB
Foto: Detikfood Foto: Detikfood
Jakarta - Gorengan jadi menu favorit masyarakat Indonesia. Padahal makanan ini berisiko sebabkan berbagai penyakit. Hal ini terjadi ketika minyak goreng yang dipilih ​sembarangan​.

Dalam temu media bersama Mazola (01/12), chef Joshua berbagi informasi mengenai minyak goreng. Ia mengatakan terdapat dua jenis minyak goreng di pasaran yaitu cooking oil dan vegetable oil.

Minyak goreng ini dapat dibedakan menjadi 8 tingkatan berdasarkan kualitas nutrisinya. Mulai dari Extra Virgin Oil, Virgin Oil, Pure Oil, Light Oil, Extra Light Oil, Refined Oil, Double Refined Oil, dan Shortening.

Jenis minyak yang termasuk vegetable oil atau minyak sayur ialah Extra Virgin Oil hingga Extra Light Oil. Sementara yang termasuk cooking oil atau minyak goreng adalah Refined Oil hingga Shortening.

“Keduanya punya kualitas nutrisi yang amat berbeda. Nutrisi minyak goreng umumnya tidak alami alias ditambahkan. Sementara minyak sayur secara alami mengandung vitamin dan asam lemak yang dibutuhkan tubuh,” ujar chef Joshua.




Ia juga menjelaskan karakteristik tiap minyak. “Extra Virgin Oil terdiri dari minyak kelapa dan zaitun. Minyak ini mengandung klorofil dan nutrisi paling tinggi. Sayangnya karena nutrisi yang terlalu sempurna, minyak ini mudah rusak ketika dimasak atau bahkan hanya terpapar udara. Karenanya Extra Virgin Oil hanya dipakai untuk flavoring atau seasoning.”

Sementara Virgin Oil bisa dimasak karena sudah dicampurkan beberapa bahan yang membuat nutrisinya tidak rusak meski terkena panas. Untuk Pure Oil, nutrisinya paling stabil.

“Jika minyak dipanaskan hingga mencapai smoke point atau digunakan untuk sekadar menumis, tidak jadi masalah. Nutrisinya tetap terjaga.”

Chef Joshua menambahkan Mazola adalah jenis pure oil yang terdiri dari 4 varian, Corn Oil (minyak jagung), Canola Oil (minyak canola), Sunflower Oil (minyak bunga matahari), dan Soybean Oil (minyak kedelai).



“Tiap varian minyak tersebut punya keunggulan. Kalau ingin warna masakan menarik dan rasanya renyah, gunakan Corn Oil. Sementara Canola Oil digunakan untuk campuran salad atau sambal karena minyak ini tidak berbau,” ujar chef bertubuh besar ini.

Minyak bunga matahari dipakai jika ingin menghasilkan rasa masakan yang nutty. Dan minyak kedelai yang punya milky taste bagus untuk memasak produk dairy seperti susu dan telur.

Dalam kesempatan yang sama chef Joshua mengingatkan agar menghindari minyak goreng shortening. “Minyak ini kualitasnya paling buruk karena isinya 100% lemak jahat yang bisa menyebabkan kolesterol.”

Ciri-ciri minyak shortening adalah menghasilkan tekstur makanan yang sangat garing atau crispy. Pemakaiannya juga bisa berkali-kali, bahkan bisa 1 bulan. “Mengonsumsi makanan yang digoreng dengan minyak ini dapat meningkatkan risiko kanker karena sifat karsinogeniknya,” ujar chef Joshua.



Ia menerangkan jumlah penggunaan minyak membedakan minyak goreng dengan minyak sayur. “Kalau minyak sayur hanya bisa dipakai 1 kali saja. Memang terdengarnya lebih boros, tetapi penggunaan minyak ini jelas lebih baik bagi tubuh. Ibaratnya kita melakukan investasi kesehatan jangka panjang dengan menggunakan minyak sayur,” jelas Chef asal Sumatera Utara ini.

Di pasaran, Mazola tersedia dalam 4 ukuran yaitu 450 ml, 950 ml, 1.5 liter, dan 3.5 liter. Minyak sayur yang pertama kali diperkenalkan tahun 1911 di Amerika ini mengandung omega 3, omega 6, dan vitamin E yang cukup tinggi.

(msa/odi)
Load Komentar ...