Global Sushi Challenge 2015 telah menobatkan Jun Jibiki dari Jepang sebagai juara pertama. Namun, dua hari persiapan dan kompetisi kelas internasional ini juga memberi pelajaran berharga untuk chef Slamet Basuki dari restoran Umaku yang jadi finalis dari Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
βUntungnya saya sudah beberapa kali ke Tsukiji. Meskipun demikian tetap saja saya tak bisa menemukan piring saji yang saya inginkan. Sudah bawa dari Jakarta tetapi saya ingin cari yang lebih bagus. Saya lihat peserta Jepang bisa membeli hiasan unik. Mungkin karena dia sudah hafal Tsukiji,β cerita chef Uki seusai acara final GSC pada detikfood (25/11).
Soal aturan persiapan, kebersihan dan pemakaian alat sangatlah ketat. βTerutama kebersihan, cara persiapan ikan, kerang dan seafood. Juga soal sampah. Sampah di sini harus dibuang sesuai jenisnya. Beberapa peserta masih juga ada yang kurang tertib. Soal kebersihan paling utama,β jelasnya.
Penjurian berlangsung sangat ketat. Semua elemen dalam sushi secara ketat berkiblat pada sushi Jepang. Hal inilah yang menjadi pedoman chef Uki saat membuat sushi. Nyatanya tampilan sushinya yang bergaya Jepang asli dikomentari positif oleh dewan juri.
βSaya teliti memang dalam persiapan saya juga melakukan banyak kekurangan. Seperti waktu yang mepet juga piring saji dan pernak-pernik hiasan yang saya inginkan tak semuanya saya dapatkan. Namun, saya belajar banyak dari kompetisi ini,β tambah chef berkacamata ini.
Meskipun tak mengunjungi restoran para finalis di negara masing-masing dan mencicipi sushi mereka, namun chef Uki belajar banyak.
βSaya jadi tahu gaya sushi dari negara-negara mereka tanpa harus mengunjungi negera tersebut. Dari situ saya bisa memicu diri untuk membuat yang lebih baik. Di Jakarta nantinya hal-hal positif terutama soal persiapan dan kebersihan akan saya terapkan di restoran,β tutup chef Uki dengan bangga.
Β
(odi/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN