Di Paviliun Indonesia Bisa Mencicip Kopi Mandheling, Wild Luwak, hingga Flores Bajawa

Laporan dari Kuala Lumpur

Di Paviliun Indonesia Bisa Mencicip Kopi Mandheling, Wild Luwak, hingga Flores Bajawa

Lusiana Mustinda - detikFood
Sabtu, 05 Sep 2015 15:00 WIB
Foto: Detikfood
Jakarta - Kecuali destinasi wisata, pavilliun Indonesia di MATTA Fair juga ada aneka kopi Indonesia. Keunikan kopi nusantara inipun menarik perhatian pengunjung.

Tak hanya pojok spa dan common stage, Indonesia juga punya booth 'Indonesian Coffee' di acara MATTA Fair 2015 yang diselenggarakan di Kuala Lumpur. Acara yang merupakan kerjasama dari Kementerian Pariwisata Indonesia dengan Malaysia ini berlangsung mulai tanggal 4 hingga 6 September mendatang.

Disini para wisatawan asing ataupun lokal, bisa mendapatkan stamp card dengan cara berkunjung ke paviliun Indonesia yang berada di Hall 3 booth no. 3216-3238. Para pengunjung dapat mendapatkan kartu dengan me-like facebook Indonesia.travel atau follow Instagram dan Twitter indtravel dengan kopi asli Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada empat jenis kopi yang disuguhkan. Mandheling, Wild Luwak, Flores Bajawa dan juga King Gayo Indonesia. Secara umum, setiap jenis kopi memiliki karakteristik. Misalnya saja, kopi yang berasal dari Mandheling punya ciri kekentalan yang baik dan juga tingkat keasaman yang medium.

Selain itu, rasanya cenderung floral dengan rasa akhir yang manis. Kopi jenis ini ditanam di daerah pegunungan bukit barisan, Sumatera Utara.

Untuk kopi Flores Bajawa, memiliki karakteristik kekentalan yang tinggi plus aksen rasa lebih coklat dan vanili. Kopi jenis ini banyak ditanam di Pegunungan Flores, Nusa Tenggara Timur.

Menurut Jonsen selaku pemilik kebun peternkan luwak, King Gayo merupakan salah satu jenis kopi Arabika yang varietasnya mirip dengan Aceh Gayo. Hanya saja King Gayo lebih banyak memakai varietas Tipika. Merupakan produk jantan pea berry yang memiliki biji tunggal, alias tidak berbelah.

Yang paling membuat penasaran para pengunjung adalah kopi luwak. Kopi yang diambil dari kotoran luwak atau musang kelapa ini terkenal dengan rasanya yang khas dan harganya yang cukup mahal. Hal ini dikarenakan, hewan luwak dapat memilih biji kopi yang berkualitas baik.

Selain itu, karena luwak hanya memakan daging buah kopi, biji kopinya terfermentasi di saluran pencernaan. Enzim akan memecah protein biji kopi, sehingga kadar pahitnya berkurang dan rasanya juga akan berubah.
 
“Kopi luwak cenderung memiliki rasa yang lebih mild dan cenderung fruity dibandingkan jenis kopi lainnya. Sedangkan kopi Mandheling lebih soft,” jelas Jonsen Huang, sambil meracik kopi para pengunjung.

Ia pun meracik biji kopi Flores Bajawa yang di-roasting medium. Rasanya cenderung asam dengan sedikit aksen rasa pahit. “Rasa asam berasal dari proses roasting yang medium alias tidak sampai dark roasting. Sehingga aciditynya lebih kuat dan asamnya cenderung mirip seperti apel,” tutur Jonsen kepada detikFood (04/09/15) dalam acara MATTA Fair 2015 di Putra World Trade Center, Kuala Lumpur.



(tan/odi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads