Laporan dari Singapura

Pedagang Street Food Hadapi Tantangan Pertahankan Bisnis Makanan

Odilia Winneke Setiawati - detikFood Jumat, 10 Apr 2015 09:53 WIB
Foto: detikfood Foto: detikfood
Jakarta - Pedagang makanan kaki lima di seluruh dunia menghadapi masalah yang sama. Mempertahankan bisnis sementara harga makanan dan sewa tempat makin mahal. Sedangkan daya beli masyarakat terbatas.

Dalam sesi dialog dan hackaton, peserta dialog memberi banyak tanggapan tentang kesinambungan street food. Karena kini sebagian besar bisnis street food masih dijalankan oleh generasi tua selama puluhan tahun.

Generasi baru penerus usaha umumnya sudah mengenyam pendidikan tinggi dan segan untuk berbisnis. Mereka lebih suka bekerja di kantor. Meski demikian ada beberapa juga yang mau melanjutkan usaha orang tua atau membangun bisnis street food yang baru.

Dalam sesi World Street Food Congress yang berlangsung hari kedua kemarin. Banyak tukar pendapat yang menarik dari pelaku bisnis street food terutama dari kalangan pelaku bisnis street food atau ‘hawkerpreneur’

Douglas Ng (24 tahun) pemilik gerai Fish Ball Story, Golden Miles hawker centre juga menghadapi masalah lokasi. Lokasi gerainya yang kurang strategis membuatnya sulit menambah keuntungan. Sementara lokasi bagus harga sewanya mahal.

“Sebagai anak muda yang menjual masakan tradisional bukan hal mudah. Kita perlu mengajarkan anak muda untuk menghargai street food sehingga bisa terus dilestarikan,’ komentarnya.

Sedangakan Catherine Ling pemilik blog ‘Camenberu’ menyarankan street food harus mencari bentuk baru yang lebih memikat anak muda. Baik tampilan maupun menu makanannya.

Lain halnya dengan Daren Teo, lulusan sekolah kuliner Temasek Plytechnic menyarankan agar sekolah tak hanya mengajarkan kuliner Prancis. Namun, juga harus memberikan ketrampilan memasak makanan tradisional.

KF Seetoh, founder Makansutra yang menjadi penyelenggara WSFC ini memandang perlu untuk memberikan pengetahuan sejarah tentang bisnis street food yang dijalankan. Juga riwayat hidangan yang jadi andalan dan penentuan harga yang juga harus disesuaikan dengan lokasi.

Tentu saja ada kecemasan di kalangan pelaku bisnis street food di Singapura dan dunia mengenai kelanjutan bisnis mereka. Jika banyak anak muda tak tertarik untuk melanjutkan bisnis orangtuanya tentu saja bisnis akan punah bersama warisan kuliner yang dijualnya.

WSFC 2015 digelar mulai tanggal 8 April hingga 12 April. Dibuka dengan 2 hari kongres yang mengahdirkan ahli kuliner dan pelaku bisnis street food dari berbagai negar. Juga World Street Food Jambore dari 12 kota yang berloasi di area Parco, di dekat stasiun MRT Bugis.




(odi/odi)