Untuk Tingkatkan Laba, Produsen Makanan Tambahkan Kandungan Protein pada Produk

Untuk Tingkatkan Laba, Produsen Makanan Tambahkan Kandungan Protein pada Produk

- detikFood
Jumat, 19 Sep 2014 18:20 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Dalam beberapa studi, konsumsi protein telah dibuktikan dapat menurunkan berat badan hingga meningkatkan energi. Manfaat ini menjadi potensi meraup laba bagi para produsen makanan besar. Karenanya makin banyak produk yang berlabel 'enriched' atau fortified' protein.

Pada bulan Mei, General Mills Inc (GIS.N) memperkenalkan Cheerios kaya protein yang difortifikasi protein dari kacang kedelai dan kacang polong. Sementara pada bulan Februari, Kraft mulai menjual 'protein pack' dengan isian daging, keju, dan kacang.

Kedelai, lentil, dan bubuk polong diekstrak dan digunakan untuk produk pasta hingga susu. Ahli nutrisi menyatakan kandungn protein mirip dengan yang ada dalam steak dan telur. Tapi, banyak produk seperti granola, sereal, dan breakfast bar kaya akan lemak, garam, dan gula.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Disamping itu, kebanyakan masyarakat Amerika Serikat sudah melebihi batas asupan protein. Menurut United States Department of Agriculture, rata- rata masyarakat Amerika Serikat mengonsumsi 79 gram protein per hari, sedangkan pria hanya butuh 56 gram dan wanita 46 gram.
 
Beberapa studi menyatakan konsumsi makanan tinggi protein bisa membuat perut kenyang lebih lama dan menjaga berat badan lebih baik. Sayangnya, studi terbaru menyatakan journal Cell Metabolism diet kaya protein hewani bisa memicu kanker dan diabetes.

“Konsumen berpikir protein adalah kalori yang bekerja keras sendiri,” tutur Ken Powell selaku Chairman dan CEO General Mills. Dengan permintaan protein bar hingga greek yogurt yang meningkat, General Mills melihatnya sebagai kesempatan untuk meraup keuntungan.

Tingkat permintaan tersebut pastinya berdampak besar terhadap pemasok, khususnya Kanada yang memproduksi sebagian besar bubuk protein untuk perusahaan Amerika Serikat. Menurut Pulse Canada, asosiasi yang mewakili kelompok petani dan pengolah di Kanada membuat 6 juta ton bubuk tahun 2013.

Menurut Robert Moskow selaku analis investasi Credit Suisse produsen makanan bersemangat untuk mencari sumber pendapata baru. Melihat penurunan konsumsi makanan kaya karbohidrat menurun lima persen, sementara makanan kaya protein meningkat 7 persen di Amerika Serikat.

(dni/odi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads