Cegah Obesitas, Bonus Mainan di Menu Anak Resto Cepat Saji akan Dilarang

Cegah Obesitas, Bonus Mainan di Menu Anak Resto Cepat Saji akan Dilarang

- detikFood
Kamis, 28 Agu 2014 10:30 WIB
Foto: Getty Images
Jakarta - Menurut data badan kesehatan federal CDC, 17% anak dan remaja di Amerika Serikat gemuk atau obesitas. Salah satu penyebabnya diyakini adalah bonus mainan untuk setiap pembelian menu anak di restoran cepat saji.

Seperti diberitakan AFP (22/08/2014), anggota dewan New York dari Partai Demokrat Ben Kallos mengajukan rancangan undang-undang pelarangan hadiah mainan untuk menu anak di restoran cepat saji jika tak memenuhi kriteria gizi tertentu.

Mainan tak boleh dijadikan bonus jika makanan anak melebihi 500 kalori, 600 mg garam, lemak lebih dari 35% kalori, dan gula di atas 10%. Kallos juga mengusulkan memasukkan setengah cangkir buah dan sayur dalam menu anak serta membatasi kalori 150 jenis minuman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Langkah ini diambil karena anak-anak di AS mengonsumsi 25% kalori hariannya dari restoran cepat saji. Hadiah mainan semakin menarik anak-anak untuk membeli junk food meski tak sehat. Merekapun jadi berisiko obesitas.

Jika aturan tersebut jadi diterapkan dan restoran melanggar, mereka akan didenda $200-500 (Rp 2,3-5,8 juta) untuk kali pertama. Denda akan bertambah jika pelanggaran diulangi. Entah RUU ini akan disepakati atau tidak, mengingat upaya mantan walikota New York Michael Bloomberg dalam melarang soda ukuran besar beberapa waktu lalu gagal.

Kekhawatiran akan bonus mainan di menu anak sudah lama muncul. Tahun lalu, seorang politisi Chile mengajukan larangan serupa. McDonald's di Brazilpun didenda 3,2 juta reais (Rp 16,6 miliar) karena memasarkan Happy Meal, paket menu anak dengan hadiah mainan.

Mainan dilarang, McDonald's Inggris tak kehabisan akal. Mereka menggunakan buku cerita sebagai hadiah untuk mempromosikan Happy Meal kepada anak-anak.

(fit/odi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads