Keracunan Makanan

Cut The Crab: Kami Sering Disabotase

- detikFood Rabu, 26 Feb 2014 15:28 WIB
Foto: Detikfood
Jakarta - Baru-baru ini, para pengguna Twitter dihebohkan dengan kabar keracunan makanan di restoran Cut The Crab (CTC) Cikajang, Jakarta Selatan. Restoran dengan menu andalan kepiting tersebut juga tiba-tiba menghilang dari Twitter.

Setelah mendengar kronologi dari sisi korban, Detikfood berusaha mendapatkan tanggapan pihak restoran dengan mendatangi langsung CTC Cikajang pada Selasa (25/02/2014) malam.

Meski diterpa rumor, restoran ini tetap buka dan ramai dikunjungi pelanggan walau tak sampai penuh. Mereka rata-rata memesan kepiting berukuran besar. Beberapa kali kami mendengar pujian "Enak!" dari beberapa meja berbeda.

Menurut manajer CTC Yvette, pemilik restoran yakni Teddy Yulianto sedang tidak ada di CTC Cikajang. Ia sedang di Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, mengurusi cabang CTC yang belum genap dua minggu beroperasi.

"Nomornya ganti karena ponselnya dicuri. Kalau mau, besok datang lagi saja ke sini, bertemu dengan istrinya," jawab Yvette saat kami meminta kontak Teddy.

Soal kabar keracunan makanan yang sedang ramai di Twitter, Yvette mengaku tak tahu dan malah meminta penjelasan kepada kami. Begitupula dengan perihal akun Twitter CTC yang kini di-suspend.

"Saya baru tiga minggu di sini. Saya tidak tahu soal website, Twitter, dll, karena saya hanya mengurusi restoran," ujar Yvette yang ternyata saudara jauh Teddy.

Usai mengobrol dengan kami, Yvette tampaknya berdiskusi dengan para staf restoran. Ia kembali ke meja kami dengan membawa informasi baru. Menurutnya, para staf menduga ini black campaign oleh restoran pesaing.

"Kami meminta nomor (ponsel) para korban, tapi mereka mengaku tidak tahu. Aneh kan, masa tidak tahu nomor temannya sendiri?" ujar Yvette dalam bahasa Inggris. Wanita berambut pendek ini memang tidak bisa berbahasa Indonesia.

Kami kemudian berbicara dengan salah satu staf, Tini, soal peristiwa keracunan makanan pada Jumat (21/02/2014). "Mungkin kelebihan kolesterol, atau mungkin kebanyakan makan," jawab Tini terkait penyebab sakitnya beberapa pelanggan usai bersantap di CTC.

Tini juga menduga saat itu di restoran tinggal tersisa saus dengan tingkat kepedasan 'XXX' atau paling pedas. Padahal, normalnya ada tingkat kepedasan 'non spicy' dan 'medium'. "Jadi mungkin perutnya nggak kuat," katanya.

Ia sendiri mendengar kabar dari bosnya, Teddy, bahwa pelanggan yang jatuh sakit ada empat orang. "Dari awal buka, baru kali ini ada (kasus keracunan makanan) seperti ini," kata Tini yang baru bekerja selama tiga bulan di CTC.

CTC mulai beroperasi sejak April 2013. Selain di Cikajang dan PIK, restoran ini juga akan dibuka di Bandung. Menunya berupa kepiting lokal dari Papua dan Kediri serta beberapa sajian seafood seperti udang, kerang, dan cumi-cumi.

Konsep makannya unik, yakni seafood disantap tanpa piring maupun alat makan. Hidangan dituangkan begitu saja di meja berlapis kertas, lalu disantap dengan tangan.

Menurut situs CTC, kepiting dipesan tiga kali sehari (siang, sore, malam) dan diterbangkan ke Jakarta di hari yang sama dengan waktu ditangkapnya. Jadi, restoran ini menyajikan kepiting segar yang dimasak hidup-hidup, bukan beku.

"Karena itulah beberapa kali kami kehabisan kepiting karena pesawat yang menerbangkannya rusak atau terlambat sampai," tulis CTC. Restoran ini menambahkan, kepiting yang tidak laku tapi masih hidup diberikan kepada orang-orang yang kurang mampu.

Terkait harga kepiting di CTC yang diklaim murah, restoran ini beralasan tidak mengambil untung banyak dan agar kepiting cepat habis terjual. Hal ini, menurut CTC, membuat para pesaing tidak suka dan menganggap CTC merusak harga pasar.

"Beberapa kali kami disabotase dan dituduh di media sosial menyajikan kepiting tidak segar. Kenyataannya, pelanggan kami dari negara-negara bersih seperti Denmark dan Selandia Baru tidak komplain," tulis CTC.

Kemarin (25/02/2014) malam, Detikfood juga sempat memotret halaman FAQ website CTC. Tertulis alasan mengapa CTC diam saja ketika disabotase.

"Bersama media partner, kami langsung ke rumah penyabotase untuk menginvestigasi. Namun, semua sumber telah ditarik. Atau, mereka meminta uang. Mungkin orang-orang yang menyabotase kami takut bertemu media dan bersembunyi di internet. Atau mereka takut dipenjara karena melanggar hukum dengan membuat tuduhan palsu," kata CTC yang melengkapi tulisannya dengan serangkaian pasal hukum.

Di situs tersebut juga tertulis: "Cut The Crab tetap memegang moto 'Cut The Crap' atau 'Cut The Bullshit'. Nggak usah banyak omong, kerjain aja." Namun, sejam yang lalu kami kembali mengunjungi halaman FAQ, bagian ini dan beberapa kalimat lain telah dihapus.


(fit/odi)