Ya! Itulah jawabannya. Saat ini ia sedang mencari lokasi yang tepat, entah di Bali atau Jakarta. Namun, ia memperkirakan restoran fine dining Indonesia akan lebih sukses di Bali dibanding Jakarta.
"Di Jakarta lebih susah karena orang-orang ingin makan hidangan Barat. Tidak ada respek terhadap masakan Indonesia. Mereka lebih suka makanan tradisional rumahan daripada hidangan Indonesia berkelas," Meyrick berpendapat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, masyarakat Indonesia belum siap dengan konsep hidangan tradisional yang dipadukan dengan atmosfer yang menyenangkan, seperti cocktail, bar, dan musik. Makanya, agar restorannya tak sia-sia, ia mau membuat orang Indonesia lebih akrab dan menghargai hidangannya sendiri.
Caranya adalah dengan membangun awareness terlebih dahulu lewat acara Street Food Chef. "Kami ingin membuat masakan Indonesia terkesan lebih menyenangkan lewat televisi," ujar Meyrick. Kemudian, usaha ini akan dibarengi promosi lewat blog, social media, panduan makan, dll.
Meyrickpun akan berusaha menyajikan hidangan Indonesia seasli mungkin. Ia bisa menjamin karena ia sendiri yang turun ke kampung-kampung untuk mencuri ilmu dari para ibu rumah tangga.
"Saya juga sering bertanya kepada para staf restoran saya, apakah rasanya asli dan sama seperti di warung-warung," ujar pria yang dijuluki street food chef ini.
Berbeda dengan para pelaku usaha kuliner yang menyesuaikan citarasa hidangan Indonesia agar lebih mudah diterima lidah internasional, Meyrick percaya diri menghadirkan citarasa asli. "Saya kan memasak untuk orang Indonesia, bukan orang asing," tegasnya.
Meyrick memang ingin mengangkat hidangan Indonesia agar bisa dihadirkan di restoran fine dining, setara dengan hidangan internasional. "Saya ingin mereka menikmatinya dengan atmosfer yang menyenangkan, misalnya di bar," ujar Meyrick.
(fit/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN