Ya, buaya meskipun merupakan binatang yang dianggap menyeramkan ternyata memiliki tempat istimewa bagi masyarakat Betawi. Konon menurut cerita masyarakat betawi jaman dulu setiap sungai dihuni oleh sepasang buaya putih. Buaya sendiri merupakan binatang yang dianggap paling setia, karena buaya jantan hanya akan memiliki seorang pasangan buaya betina sampai si pasangan mati.
Nah, oleh karena itulah dibuat sepasang roti yang menyerupai buaya betina dan jantan sebagai simbol masyarakat Betawi dalam mengadakan perhelatan pernikahan atau lamaran. Hal tersebut untuk mencerminkan keluarga yang langeng seperti pasangan buaya yang saling setia tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di salah satu restoran di Jakarta, sebelum mencicipi hidangan utama saya disuguhi sebuah roti buaya sang pelayan. "Silahkan bu, compliment dari kami dalam menyambut HUT Jakarta," ujarnya kepada saya ramah. Wah, terpesona dengan si roti buaya yang menggemaskan saya pun tak kuasa untuk menjempretkan kamera kearahnya sebelum mencicipinya!
Konon sebelumnya roti buaya terbuat dari singkong, namun seiring waktu adonan singkong berubah menjadi roti. Kalau dulu roti buaya dibuat dari adonan roti yang keras supaya mudah dibentuk dan tahan lama, sekarang dibuat dari adonan roti manis dengan aneka isi. Ya, seperti roti buaya yang saya santap ini ketika dibelah, ternyata berisi cokelat. Rasanya lembut, dengan cokelat yang cukup padat menyelimuti roti dari leher hingga buntut buaya.
Dalam sekejap, sang buaya telah berpindah ke dalam perut. Happ... nyam nyam! Rasanya sebuah roti buaya tidak cukup, jadi pengen tambah dan tambah lagi! Hmm... benar kan? Hati-hati dengan Betawi punya buaye!
Roti Lauw
Jl. RS Famawati 40, Jakarta Selatan
Telp: 021 7398290
Soes Merdeka
Jl. Balai Pustaka Timur No.11 Rawamangun
Telp: 021 4757603
(dev/Odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN