Pagi itu saya dikagetkan dengan suara seperti klakson kapal. Toot..toot! Kencang plus mengagetkan sekali. Setelah saya longok dari luar pagar grontol jagung sedang lewat di depan rumah. Duh, sudah lama sekali saya tidak pernah menemukan jajanan seperti ini.
Dulu, tukang jajanan pasar ini sering terlihat di sekolah-sekolah. Penjualnya umumnya mbok-mbok gendongan seperti jualan pecel dan biasanya dibarengi dengan candil berwarna-warni. Tapi sekarang sudah lebih modern, karena penjualnya menggunakan gerobak dorong, meskipun tidak dilengkapi dengan jualan candil lagi.
Dulu, grontol jagung disajikan dalam daun pisang atau sering disebut dengan pincuk. Saat ini grontol jagung disajikan dalam wadah plastik, mungkin karena daun pisang sudah jarang dan pastinya lebih mahal dibandingkan dengan plastik. Tapi tetap saja yang menjadi sendoknya adalah suru. Daun kelapa yang dipotong sepanjang kurang lebih 10 cm dan lebar 3 cm lalu ditekuk jadi dua. Hmm..aromanya jadi harum saat grontol masuk ke mulut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT