Proses pencarian nasi liwet yang murah meriah dan uenak... ini cukup panjang ceritanya yang akhirnya menemukan juaranya. Bukan di resto atau di jalan khusus nasi liwet (lupa nama jalannya, yang jelas kanan kiri semuanya berderet-deret penjual nasi liwet dengan ikon yang sama), tetapi di pinggir jalan, si mboknya nongkrong tiap pagi di bruk/buk pojokan gang di depan hotel Wisnu. Tetapi rumah si mbok nasi liwet ini justru bukan di kampung situ, tetapi di Baki (terkenal sebagai daerah produsen nasi liwet).
Jualannya cukup satu bakul yang dialasi daun pisang, tapi isinya rekk... muacem-macem. Memang nasi liwet ini menu paling ribet. Wadahnya praktis, cukup pincuk daun pisang, pertama ditaruh nasi dulu (nasinya gurih, butirannya besar-besar), terus dikasih suwiran ayam kampung, telur separo, seciduk sambel goreng labu siam, telur areh yang warnanya kuning dan terakhir diberi topping kumut. Kumut ini dari santan yang dicampur putih telur, rasanya gurih banget.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Itu belum cukup, si mbok ternyata juga bawa ketan kinco (gula merah) sama ketan bubuk (kayaknya kacang tanah yang dihaluskan), so sarapan nasi liwetnya dilanjutin makan setengah siang sama menu ketan bubuk. Hmm.. kapan lagi makan yang kayak gini?
Dua hari di Solo dengan menu yang sama (pagi nasi liwet, malem susu segar) ternyata belum membosankan, kalo ada hari ketiga tampaknya menunya akan sama juga. Dan belum lengkap kalo pulangnya gak bawa oleh-oleh roti santen (tulisan di plastiknya kayak gitu). Aku penasaran, ada yang punya resepnya roti santen gak ya?
Pengirim: Wiwik Setyawan, wiekcp@xxx.com
(dev/)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN