Cabai Gendot, si Super Pedas dari Dataran Tinggi Dieng

- detikFood Senin, 28 Jan 2013 16:07 WIB
Foto: Detikfood Foto: Detikfood
Jakarta - Cabai ini berukuran mini dan gendut-gendut, dengan permukaan kulit yang agak meliuk dan teksturnya halus. Banyak ditemui di dataran tinggi, di kawasan Dieng, Wonosobo. Jangan tanya rasa pedasnya. Dua buah cabai gendot untuk meracik satu jenis masakan sudah bisa membuat lidah terbakar!

Di kawasan Dieng Plateau di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, cabai gendot banyak terlihat ditanam. Tak hanya tampak pada area perkebunan di sisi kanan dan kiri obyek wisata, namun cabai ini juga banyak dijual secara eceran di warung ataupun toko oleh-oleh.

Warnanya yang cerah menyala mengingatkan akan cabai paprika yang rasanya tak pedas. Namun jangan salah, cabai gendot justru punya rasa yang benar-benar pedas. Bahkan ada yang mengatakan jika rasa pedasnya setara dengan cabai habanero yang tingkat kepedasannya mencapai 350.000 skala Scoville.

Cabai gendot punya biji yang hitam di dalamnya dan mudah dibuang. Biasanya, masyarakat sekitar membuang biji-biji hitam ini agar rasa makanannya tak begitu pedas menusuk. Umumnya ditambahkan dalam menu tumisan agar rasanya lebih menyengat.

Ditanam di ketinggian sekitar 6.802 kaki, cabai gendot tumbuh dengan sangat subur di kawasan ini. Karena identik dengan wilayah ditanamnya, Dieng, cabai gendot juga sering disebut dengan cabai Dieng.

Para penjual cabai gendot menjual cabai ini secara grosir. Harganya sekitar Rp. 10.000 per kilo. Rangkaian cabai gendot dengan berat sekitar 1/4 kg juga banyak dijual dengan harga Rp. 2.500.

Biasanya para penjual juga menyediakan hasil tani lainnya, seperti aneka jenis kentang dan olahannya, carica atau pepaya khas Dieng, juga terong Belanda dan jamur. Karena tak mudah busuk ataupun layu, cabai ini juga sering jadi pilihan buah tangan pengunjung dataran tinggi Dieng.



(flo/odi)