detikfood
Selasa, 08/03/2016 18:27 WIB

Layanan Antar Makanan Ini Pekerjakan Pengungsi Irak dan Nepal Sebagai Chef

Andi Annisa Dwi Rahmawati - detikFood
Layanan Antar Makanan Ini Pekerjakan Pengungsi Irak dan Nepal Sebagai Chef Foto: NY Daily News
Padatnya penduduk New York membuat banyak layanan antar makanan bermunculan. Namun ​berbeda dengan ​Eat Offbeat ​yang memperkerjakan​ para pengungsi sebagai chef.

Adalah Badan Pemukiman Pengungsi Amerika melalui International Rescue Committee yang merekrut para pengungsi untuk dipekerjakan sebagai chef di perusahaan startup baru, Eat Offbeat. Kriteria perekrutan hanyalah mereka yang hobi dan berpengalaman masak, bahkan jika hanya untuk keluarga sendiri.

Saat ini ada 3 chef yang bertugas menyajikan masakan khas negaranya masing-masing. Mereka berasal dari Eritrea, Irak, dan Nepal.



Eat Offbeat sendiri didirkan dua bersaudara Manal dan Wissam Kahi yang merupakan imigran asal Lebanon. Manal pindah ke New York tahun 2013 untuk kuliah di Columbia. Ia terinspirasi mendirikan usaha makanan karena tidak bisa menemukan hummus favorit seperti buatan neneknya di Suriah.

Lalu Wissam yang berprofesi sebagai konsultan manajemen menyarankan sang adik untuk mendirikan Eat Offbeat. Ide menjual hummus akhirnya berubah menjadi layanan antar makanan ketika keduanya bertemu chef profesional Juan Suarez de Lezo. Dana awal untuk startup ini berasal dari Center for Social Ventures at Columbia.

Lezo kini menjabat sebagai "Chief Culinary Officer" Eat Offbeat. Ia bertugas melatih para chef dalam menyiapkan makanan, menjaga higienitas, dan membuat makanan dalam jumlah besar.



"Semua bakat memasak di sini asli dari negara masing-masing. Juan tidak ikut campur dalam resep sama sekali, ia hanya menjamin kualitas makanan," tutur Kahi seperti diberitakan Huffington Post (08/03).

Saat ini Eat Offbeat masih dalam tahap soft launching dan hanya melayani kelompok besar yang terdiri dari sekitar 10 orang. Manal dan Wissam Kahi bahkan mengantar menu pesanan sendiri menggunakan mobil.

Tiap menu yang terdiri dari 3-4 hidangan seorang chef dijual 20 USD atau sekitar Rp 263.000 per porsi. Beberapa minggu ke depan, dua bersaudara ini berencana membuka pesanan individual bagi penduduk Manhattan lewat situs mereka.

Dalam memasak, para chef berkreasi di dapur komersial bersama di Long Island City. Mereka saat ini bekerja paruh waktu, tetapi dengan meningkatnya pesanan, mereka mungkin bekerja penuh.



Kahi mengatakan makanan terpopuler Eat Offbeat saat ini adalah Cauliflower Manchurian. Berupa kembang kol bumbu yang digoreng dan ditambahkan saus pedas manis. Menu ini dibuat chef Rachana Rimal dari Nepal.

Tujuan akhir dari Eat Offbeat adalah menyediakan lapangan kerja bagi para pengungsi yang punya kemampuan.

Kahi mengatakan mereka tidak hanya ingin mengubah hidup para pengungsi menjadi lebih baik tetapi juga ingin warga Amerika bersikap lebih baik pada pengungsi. "Kami ingin warga New York melihat para pengungsi punya banyak kemampuan yang bisa ditawarkan. Kami ingin mereka melihat para pengungsi membawa sesuatu yang baik. Dan kami bisa menunjukkannya lewat makanan," pungkas Kahi.

(odi/adr)



Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com
Telepon 021-7941177 (ext.524).
Cari Tempat Makan