Weleh-weleh demi semangkok soto, orang rela antri berjubel. Terus terang akibat provokasi seorang teman yang orang Medan, saya jadi terbujuk mencicipi soto Medan. Padahal di benak saya soto Medan itu berkuah santan kental, kuning dan tentu saja gurih banget. Itu yang membuat saya sedikit ragu mencicipi soto Medan. "Pokoknya yang satu ini beda dan harus dicicipi kalau sampai Medan," demikian komentar mas Popon.
Lokasi warung makan yang terletak di Jalan Sei Deli ini persis di ujung jalan, tak jauh dari jalan Gatot Subroto dan kawasan Petisah. Meskipun sudah hampir pukul 09.30, warung soto yang buka sejak jam 07.00 masih penuh sesak. Masuk lewat pintu samping, tempat mencuci piring dan dua lemari untuk meracik soto tidak terlihat bersih,bahkan nyaris agak kumuh. Tetapi pengunjung toh tetap berjubel. Menunggu beberapa saat barulah kami mendapatkan meja kecil dan kursi yang ditata berhimpitan. Suasananya nyaris pengap dan panas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Semangkuk soto ayam yang saya pesan, disajikan di mangkuk berikut sepiring nasi. Kuah soto yang panas mengepul menebarkan aroma kapulaga dan jintan yang wangi. Ternyata setelah saya aduk, kuahnya tidak kental dan warnanya kuning agak butek tidak kuning mencolok. Saat sesendok kuah mampir di mulut, terasa sangat gurih, serpihan rempah berupa butiran halus berwarna hitam menyebar di keliling kuahnya. Deteksi saya menyatakan kuah ini memakai banyak rempah, ada kayu manis, jintan, cengkih, kapulaga, pala dan tentu saja merica. Bukan aroma bumbu kari yang tajam tapi paduan rempah yang lembut gurih. Inilah yang membuat kuah soto Medan Sei Deli ini sangat berbeda.
Daging ayamnya yang digoreng, disuwir halus, rasanya renyah gurih. Hanya sayang nasi putihnya terasa βperaβ keras buat saya. Soto sapinya juga tak kalah enak juga digoreng dulu. Di sini ada soto sapi, babat atau paru. Tempat meraciknya terlihat berantakan dengan panci besar berisi kuah yang terus mengepul. Dengan taburan emping goreng, rasa kuah soto jadi makin sedap saja. Makin enak kalau disantap dengan rempeyek udang yang besar lebar dan gurih krenyes-krenyes.
Menurut mas Popon, soto Medan ini sudah jadi menu sarapan wajib orang Medan termasuk dirinya sejak masih kecil. Konon warung ini dibuka oleh Hajjah Yurdanis seorang Padang yang merantau ke Medan. Hmm..mungkin itulah sebabnya aroma kari tidak terlalu βmenonjokβ pada soto racikannya ini. Meskipun baru makan setengah porsi nasi saya sudah cukup kenyang. Keringatpun mulai mengucur dari dahi.
Agaknya kami tak bisa mengobrol lama-lama karena teriakan pelayan di sisi meja kami seolah βmengusirβ kami secara halus mengingat banyak pengunjung menanti meja kosong di luar warung. O,ya harga soto Medan ini cukup terjangkau Rp. 12.000 per mangkuk (ini kalau nggak salah lihat karena saya hanya bisa mengintip saat mas Popon membayar bon makan!). Wah, sajian brunch yang cukup menyenangkan. Cocok disantap sebelum berputar-putar ke Pajak Petisah! Tak salah jika teman saya menganjurkan mencicipi soto legendaris ini.
Soto Sei Deli
RM Sinar Pagi
Jalan Sungai Deli 2 D
Telpon: 061-4530728 (eka/Odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN