Wedangan Pak Wiryo: Wedang Jahe Mantep Plus Sandwich Jadah Tempe Bacem

- detikFood Selasa, 06 Agu 2013 13:31 WIB
Foto: Detikfood
Jakarta - Jangan sampai meninggalkan Solo tanpa mampir ke warung wedangan. Apalagi wedangan yang tertua di Solo ini. Wedang jahenya kental mantep, menghangatkan badan. Dinikmati dengan jadah pulen yang diisi tempe bacem. Uenaak, sedep!

Seorang sepupu yang tinggal di Solo selalu mengajak mampir ke Warung Wedangan Pak Wiryo yang ada di Jl. Perintis Kemerdekaan. Wedangan atau sering disebut angkringan memang menjadi ciri khas Solo. Disebut angkringan karena memang dijual di angkring (gerobak) dan populer dengan sebutan HIK (hidangan istimewa kampung).

Sebenarnya angkringan ini berkembang sesuai dengan komunitas. Karena tak sekedar makan tetapi juga bertukar info dan gossip di lingkungan. Ciri khasnya penerangannya remang-remang dan wedang atau minuman panas yang jadi andalan. Hidangannya nasi kucing plus aneka jajanan dan lauk.

Karena itu pula jenis wedangan juga ada yang murah dan ada yang sedikit mahal karena sudah berupa warung dan bukan angkringan. Seperti wedangan pak Wiryo ini yang sudah menempati warung dengan 3 buah meja panjang yang di kiri kanannya diberi bangku panjang.

Di sisi kiri terletak dapur tempat meracik aneka wedang plus memanggang makanan yang dipesan. Seperti menu wedangan lain, di meja panjang berderet aneka lauk. Di ujung ada baskom berisi bungkusan daun pisang mungil berisi nasi kucing. Di sampingnya ada baki plastik berisi irisan jadah yang ditutupi daun pisang.

Mau lauk apa? Sate kerang, sate telur puyuh, tahu dan tempe bacem, perkedel, telur pindang, tempe goreng, sate usus, sate hati dan ampela, tempe goreng dan tahu goreng. Jangan kaget kalau ada pengunjung dari meja yang lain menghampiri meja kita untuk mengambil lauk-pauk.

Buat menyantap nasi kucing, sate usus, sate telur puyuh, perkedel, tempe goreng dan tahu gorengpun dipanggang dulu di atas api arang. O, ya yang wajib dicicip ya jadah atau gemblong dan wedang jahe. Sekali ini kami memilih wedang tape dan wedang jahe teh. Buat pilihan wedang juga ada jahe coklat, jahe kopi, jahe susu atau wedang jahe saja.

Beberapa menit kami menunggu antrian lauk yang dipanggang. Sebungkus nasi kucing yang disebut nasi bandeng memang porsinya kecil. Sekitar 2 sendok makan penuh nasi putih diberi sepotong kecil ikan bandeng yang dibalut sambal kemerahan.

Hmm..aroma wangi daun pisangnya lengket di nasi. Pedas gurih rasa ikan bandengnya. Paling pas disuap dengan tempe bacem yang meski kehitaman rasanya tidak terlalu manis. Yang juara adalah tahu goreng. Bagian luarnya garing, dalamnya lembut gurih.

Jadah atau gemblongpun selesai dibakar dan disajikan hangat. Tentunya dengan aroma ketan dan kelapa yang gurih wangi. Penganan ini dibuat dari ketan kukus yang ditumbuk dengan kelapa muda parut hingga mulur. Wah, jadahnya lembut mulur gurih. Nyaris tak ada jejak ketan yang keras.

Usai menyantap jadah ini barulah saya ingat kalau jadah ini basanya dipipihkan, diisi sepotong tempe bacem dan dilipat lalu dibakar seperti sandwich. Waduh, aroma wangi kelapanya menyatu dengan tempe bacem yang legit gurih.

Telur pindangnya yang kecokelatan kusam ternyata gurih wangi. Ini lantaran direbus lama dengan daun jambu biji sehingga kulitnya kusam. Namun, rasanya sungguh gurih enak. Ternyata dengan 3-4 macam lauk plus jadah perutpun terasa kenyang.

Ketika selesai makan, barulah kami menghirup wedang jahe tape yang sudah hangat. Tapenya dibungkus daun mungil dan ditambahkan saat terakhir, ada di dasar gelas. Beberapa wedangan menyajikan wedang jahe dengan cara digeprek. Namun, di sini jahe segar agaknya dihaluskan sehingga air wedang sedikit keruh.

Slruup...rasa hangat legit jahe pun membasahi tenggorokan. Pas dihirup selagi hangat. Tape ketan yang lembutpun terasa legit dan menyelingi hirupan wedang jahe ini hingga tetes terakhir. Uuh, sendawapun mengiringi langkah kami membayar makanan. Tak lebih dari Rp. 25.000,00 untuk berdua keluar dari kocek. Wedang jahe dan jadahnya bakal bikin kami kembali ke sini!

Wedangan Pak Wiryo
Nasi Bandeng
Jl. Perintis Kemerdekaan
Solo

(dyh/odi)