Sahur Enak dengan 'Kuntilanak'

- detikFood Jumat, 20 Agu 2010 11:26 WIB
Jakarta - Nasinya mengepul hangat dan wangi. Lauknya pun bisa pilih sesuka hati. Disuap dengan empal yang empuk gurih, tempe goreng yang tipis renyah, plus sate usus yang kenyal empuk. Hmm.. sedap! Dicocol sambal yang menggigit plus emping yang tipis rasanya makin dahsyat! Yuk, sahur di sini!

Mencari makan sahur yang sedap dan mantap plus murah memang tidak mudah. Gara-gara cerita soal nasi uduk jadilah menjelang pukul 12 malam kami melacak keberadaan Nasi Uduk Kuntilanak di kawasan Jembatan Merah, Manggarai, tepatnya di pasar Menteng Pulo. Warung ini baru buka pukul 24.00 tiap hari. Mungkin karena itu diberi sebutan 'kuntilanak'.

Di tengah malam tentu saja pasar mulai disibuki dengan pedagang sayur yang membongkar muatan dan menata dagangan. Warung nasi uduk berada di bagian agak ujung jalanan pasar. Bentuknya seperti warteg biasa, dengan papan bercat biru, lemari pajang yang lebar plus beberapa kursi dijajar di sebuah meja panjang sederhana.

Karena baru 30 menit lewat pukul 12 malam, warung belum dipadati pelanggan. Yang penting, lauknya masih komplet, panas mengepul. Namun, begitu mendekati lemari tempat memajang lauk-pauk, kamipun jadi bingung. Kok banyak ya pilihannya dan semuanya menggiurkan!

Nasi uduk yang warnanya agak kusam, panas mengepul di dalam baskom plastik, menebarkan wangi santan. Jajaran lauk yang bisa dipilih antara lain ayam goreng, empal, tahu goreng, tempe goreng, tahu dan tempe bacem, mi goreng, rendang daging, semur kentang, telur mata sapi, telur mata sapi yang ditumis dengan kecap dan cabai, satai usus, hati dan ampela ayam.

Hmm... pilihan laukpun akhirnya jatuh pada empal, ayam goreng, tahu bacem, sate usus dan tempe goreng. Jumlah lauk yang disediakan cukup banyak karena ditata dalam baskomdan piring besar. Makin malam menjelang pagi biasanya pengunjung juga makin padat. Bisa dibungkus atau dimakan di tempat!

Karena pengunjung yang belum ramai maka kami bisa duduk manis menikmati sepiring nasi uduk berikut lauk pilihan. Kalau dilihat dari jenis lauknya, racikan nasi uduk ini bukan gaya asli Betawi tetapi lebih gaya warteg saja. Namun, konsistensi menyajikan lauk yang segar, beragam dengan harga terjangkau merupakan andalan para pekerja malam.

Nasi uduknya sedikit pera tetapi empuk, wangi dan terasa gurih santan yang mantap. Sekali gigit terasa gurihnya kedelai yang padat merapat pada irisan tipis tempe goreng. Empalnya juga empuk dengan aroma ketumbar dan bawang yang enak. Yang paling berkesan justru ayam goreng plus satai usus ayamnya.

Kulit ayam gorengnya yang berkerut renyah garing, mudah dikupas. Sementara daging ayamnya lembut gurih dengan bumbu gurih bawang yang wangi. Sate usunya juga bersih, rapi dibentuk dalam tusuk satai. Nyam.. nyam.. makin mantap disuap dengan nasi gurih dan cocolan sambal yang menggigit.

Makin larut malam, rombongan ABG dan beberapa keluarga mulai memadati warung yang dikelola oleh bu Endang dan keluarganya sejak tahun 1970 an ini. Suasana warung yang tenang, bersih, dan para kucing yang berseliweran, serasa bagai makan sahur di rumah. Apalagi pos keamanan di samping warung ini memutar lagu-lagu Koesplus cukup keras. Waduh, makin top dan asyik makan sahur kami!

Ternyata buat menikmati makan sahur yang nikmat plus suasana bersih dan 'full music' ini tidak perlu biaya besar. Seporsi nasi uduk, ayam goreng, tempe bacam dihargai Rp 11.000,00 sedangkan nasi uduk dengan empal, sate usus dan tempe goreng dihargai Rp 14.000,00. Nah, kalau ingin makan sahur dengan suasana beda, mampir saja nanti malam jam 24.00 di warung ini!

Nasi Uduk 'Kuntilanak'
Pasar Menteng Pulo
Jl. Jembatan Merah
Manggarai, Jakarta Selatan




(dev/Odi)
Load Komentar ...