Cuaca yang mendung gerimis akhir-akhir ini membuat saya agak melankolis. Justru yang ada di angan-angan saya sosok nenek saya. Selain berhobi memasak, nenek yang wong Suroboyo asli ini juga sering mengajak saya jajan tahu campur. Maka jadilah rasa kangen saya rangkap dua, kangen nenek ya kangen tahu campur.
Makanya saat melihat spanduk putih bertulisan 'Tahu Campur, Rawon, Tahu Telur/Tek, Soto Ambengan, Rujak Cingur' yang berkibar di sebuah warung di emperan toko aluminium saya bagai tersengat. Langsung saja saya mampir ke warung ini. Warung yang buka mulai pukul 18.00 ini sudah dipadati pengunjung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aroma wangi tahu telor yang sedang digoreng dalam wajan merebak ditiup angin. Saya harus bersabar karena antrian pembeli lumayan banyak. Tahu campur disajikan dalam piring cekung, nyaris tak terlihat isinya karena tertutup kerupuk kanji. Kalau di Jawa Tengah orang menyebut tahu campur, wujudnya berupa tahu goreng dengan topping tauge atau irisan kol dengan kuah kacang.
Versi Surabaya, tahu campur justru berkuah kecokelatan. Ada helaian mi kuning, iris tahu goreng, irisan daun selada, plus irisan lento. Lento ini perkedel singkong yang berbumbu bawang putih dan ketumbar yang dikepal pipih dan digoreng. Lento ini menjadi bahan wajib yang harus ada di tahu campur.
Saat kuah kecokelatan saya aduk dengan sambal petis udang yang ada di bawah piring warna kuahnya agak kehitaman dengan aroma petis yang wangi. Hirupan pertama langsung terasa nuansa manis, pedas dan rasa gurih khas petis udang. Hmm.. benar-benar mengelus lidah. Ada beberapa irisan daging sapi dengan sempalan otot yang kenyil-kenyil gurih. Kerupuk kanji yang setengah melempem terendam kuah membuat rasanya makin enak. Porsi yang tak terlalu besar inipun langsung ludes dari piring!
Begitu saya membalikkan sendok di piring tahu campur, sepiring rujak cingur pun tersaji di depan saya. Tampilan rujak cingur ini berupa gunungan sayuran yang disiram kuah cokelat kehitaman kental. Irisan cingur alias hidung dan pipi sapi ditaruh di sisinya. Walah, kok sangat menantang ya!
Rujak ini berisi irisan lontong, tahu, bengkuang, timun, nanas, tauge dan kangkung rebus. Jadi mirip racikan Rojak Malaysia. Setelah diaduk dengan sausnya, warnanya jadi cokelat dekil. Tapi saat menyentuh lidah, barulah terasa dahsyatnya. Ada rasa pedas, gurih, krenyes-krenyes pisang batu, rasa manis gula merah dan petis udang. Benar-benar eksotik! Apalagi rujak cingur ini diuleg bumbunya saat dipesan, atau ala minute sehingga segar rasanya.
Tanpa mengingat kalau hari sudah malam, rujak cingurpun nyaris licin dari piringnya. Kali ini perut saya benar-benar kenyang. Makan malam kali iniΒ mengobati rasa kangen sayaΒ Apalagi saya bisa ngobrol Suroboyoan dengan mas-mas penjualnya yang berasal dari Jawa Timur.
Waktu membayarpun saya tak terlalu kecewa, seporsi tahu campur dibandrol Rp. 9.000,00 dan seporsi rujak cingur Rp 10.000,00. Harga yang lumayan murah buat pengobat rindu Suroboyo! Nah, kalau sedang dilanda rindu dendam seperti saya, boleh saja mencari sasaran warung seperti ini!
Tahu Campur Surabaya
Jalan Raya Serpong, Tangerang
(Emperan toko aluminium, samping warung Daeng Lewa dan Soto Ambengan)
Buka jam 18.00 β 22.00
(dev/Odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN