Kurangnya Asupan Gizi pada Anak Dapat Tingkatkan Risiko Stunting

Kurangnya Asupan Gizi pada Anak Dapat Tingkatkan Risiko Stunting

Lusiana Mustinda - detikFood
Senin, 29 Feb 2016 14:23 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Kurangan asupan gizi pada anak dapat sebabkan gangguan tumbuh kembangnya. Stunting menjadi salah satu masalah di Indonesia, dimana anak tumbuh dengan tubuh yang pendek.

Stunting merupakan masalah gizi yang sebabkan tinggi badan anak tidak sesuai dengan standar tinggi anak seusianya. Tak hanya pendek, stunting pada anak juga dapat sebabkan penurunan fungsi sistem imun, kognitif hingga hambatan perkembangan.



SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, angka kejadian stunting di Indonesia mencapai 37,2 persen. Tingginya prevalensi stunting pada anak membuat Indonesia masuk dalam masalah stunting lima besar di dunia.

“Kasus stunting di Indonesia banyak ditemui di wilayah Barat Indonesia, seperti NTT,” tutur Ir. Ahmad Syafiq, Msc, PhD, Ahli Gizi sekaligus pengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia pada (18/02).

Syafiq menambahkan, pada 1.000 hari pertama kehidupan sangat mengancam potensi dari intelektualitas anak. Dimana, perkembangan otak dalam 3 tahun pertama kehidupan ini mencapai 80 persen dan sangat berhubungan dengan kecerdasan.

Untuk mengatasi hal ini, pemerintah sudah mulai lakukan gerakan 1.000 hari pertama kehidupan, penyuluhan gizi, suplementasi gizi pada bayi dan balita hingga suplementasi zat besi pada ibu hamil.



Stunting juga dikaitkan dengan konsumsi susu. “Konsumsi susu di Indonesia hanya 15,5 persen. Kami membandingkan anak yang minum susu lebih rendah berisiko stunting. Hal ini dikarenakan, susu dibuat melalui proses fortifikasi dengan tambahan vitamin dan mineral,” jelas DR. Ir. Heryudarini Harahap, M. Kes dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI).

Selain kalsium, untuk mencegah stunting pada anak juga perlu dilakukan peningkatan asupan gizi sesuai kebutuhan pada ibu hamil. Karena masa periode emas anak dimulai sejak dalam kandungan hingga usianya mencapai 2 tahun.


“Posyandu juga menjadi salah satu ujung tombak gizi bagi masyarakat. Para kader memiliki peran yang besar sekali untuk mengubah pola asuh keluarga terhadap anak menjadi lebih baik sehingga diharapkan kader rutin untuk mengikuti seminar untuk mengupdate ilmunya sehingga dapat menghadapi masyarakat dengan lebih percaya diri,” jelas Syafiq.

(lus/odi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads