Dengan Berlomba dan Diberi Hadiah Anak Lebih Mudah Konsumsi Sayuran dan Buah

- detikFood Rabu, 08 Okt 2014 12:02 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Umumnya anak-anak kurang suka sayuran. Penelitian terbaru mengungkapkan cara jitu membuat anak- anak doyan sayuran. Dengan berkompetisi dan tentunya mendapatkan hadiah.

Studi yang dilakukan oleh Edinburg University menyebutkan memicu semangat kompetisi anak bisa mendorong anak memakan lebih banyak sayuran.Selain itu terlihat anak perempuan merespon kompetisi makan sayur lebih baik dibanding anak laki-laki.

Studi ini melibatkan 600 anak umur enam hingga 10 tahun dari 31 sekolah Inggris. Untuk penilaian individual, anak- anak diberikan stiker jika memilih seporsi buah atau sayuran saat makan siang atau membawa bekal buah dan sayuran. Mereka akan diberikan hadiah jika mereka memilih lebih dari empat jenis sayuran dan buah dalam seminggu.

Sementara dalam kelompok kompetisi anak sekolah kedua juga diberikan stiker saat memilih seporsi sayuran dan buah, tapi mereka dibagi dalam empat kelompok. Anak- anak yang ada dalam grup dengan stiker terbanyak di akhir minggu akan diberikan hadiah ekstra.

Peneliti juga meneliti grup kontrol yang tidak diberi hadiah setelah mengonsumsi buah dan sayuran. Tim peneliti yang terdiri dari Universitas Edinburgh, Bath, dan Essex menemukan hasilnya berbeda tergantung umur, jenis kelamin, dan background. Tapi, secara keseluruhan konsumsi sayuran meningkat dan efek dari kompetisi dalam grup jauh lebih efektif dibanding individual.

“Mereka akan mengambil satu buah dan sayuran per minggu pada saat makan siang. Peningkatkan konsumsi satu anak cukup signifikan, seminggu setelah kami menghapuskan sistem hadiah konsumsi sayuran tetap bertahan di sebagian besar partisipan,” tutur Prof Michelle Belot dari Edinburgh University kepada BBC (08/10/2014).

Enam bulan kemudian, tim peneliti ternyata tidak menemukan efek penurunan yang cukup siginifikan. Padahal beberapa penelitian psikologi menunjukkan saat anak diberi hadiah, pola makan yang terbentuk akan mulai ditinggalkan. Tapi, peneliti tidak menemukan hal tersebut.

(dni/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com