Jakarta - Bebek goreng alias begor memang menu yang sedang populer saat ini. Gurih dan empuk, itulah yang kami rasakan ketika mencicipinya. Hmm... luar biasa lezat! Belum lagi dicocol dengan ketiga jenis sambal yang puedess, huah huah... rasanya kami pun tak bisa berhenti mengunyah!!"Bebek kan baunya amis dan dagingnya juga keras," begitulah komentar saya yang tidak menyukai hidangan bebek ini ketika seorang teman mengajak makan siang bermenu bebek. Ya, siang itu saya dan teman-teman memang tengah mencari restoran untuk 'membungkam' bunyi kerucuk perut kami yang sudah lapar. "Pokoknya bebek yang ini enak kok," bujuk teman saya berusaha meyakinkan. Akhirnya setelah terkena 'rayuan bebek', saya pun terpaksa mengalah untuk makan siang kali ini. Ternyata tempat yang dituju tidak begitu jauh dari kantor kami. Terletak di bilangan jalan Suryo, Senopati akhirnya mobil pun dibelokkan memasuki areal parkir restoran. Papan nama berwarna orange yang cukup besar bertuliskan "Pondok Suryo, Bebek Goreng Surabaya" menyambut kami di halaman depan restoran.Resto ini ditata dengan interior khas Jawa, perabotan kayu dengan hiasan etnik. Terkesan agak suram dan kuno karena ada beebrapa benda hiasan kuno yang ditata sebagai pajangan. Meja dan kursi ditata dengan gaya ruang makan keluarga Jawa. Membaca daftar menu yang disodorkan ternyata menunya bukan hanya bebek. Ada pindang buntut, pecel madiun, dan rujak cingur. Tampaknya semua makanan tersebut berbau Surabaya. Tetapi ketika membalik halaman terakhir terdapat sederetan menu dengan judul Chinese Food, yang terus terang tak terpikirkan oleh saya tersedia juga disini. Karena niat kami makan nasi bebek, maka bebek goreng menjadi pilihan utama kami. Bebek goreng dan nasi cobek komplet bebek menjadi pilihan kami. Juga belut penyet dan pecel Madiun. Nasi cobek komplit bebek yang disajikan pertama langsung menggugah selera. Bau bebek yang masih mengepul hangat menyerbu hidung kami. Kemudian hidangan lain seperti pecel madium, bebek goreng, dan yang terakhir belut peyet telah komplet tersaji. "Hmm... kok baunya enak sekali ya," spontan saya mengomentari bau harum bebek goreng yang menggoda. Nasi komplit bebek tersebut tersaji dalam dua wadah yang berbeda. Nasi ditaruh di dalam cobek batu yang sudah berisi ulekan sambal. Sedangkan bebek ditaruh dalam piring anyaman mungil yang beralaskan daun pisang. Suapan nasi bercampur yang masuk ke dalam mulut cukup membuat kaget. Pertama, ulegan sambalnya masih agak kasar, rasanya hanya dominan asing (harap maklum lidah saya agak terbiasa dengan sentuhan manis!). Suwiran daging bebek yang hangat kecokelatan segera menyusul masuk ke dalam mulut saya. Daging bebek yang (biasanya) saya dapati alot alias liat ternyata begitu empuk, lembut dan mulus saat ditelan. Rasa gurih bawang, sedikirt jejak jahe menebarkan aroma harum dan sangat pas gurihnya. Makin enak saat dicocol dengan tiga jenis sambal, yaitu sambal hijau (mungkin sambal rawit tetapi kurang pedas), sambal mentah dan sambal goreng.Olahan begor ini memang khas Surabaya, tak ada jejak rasa manis sedikitpun. Nyaris gurih abis, yang tersisa di mulut hanya rasa gurih saja. Bagian luar kulitnya kering dan dagingnya sangat lembut. Menunjukkan proses penggorengan yang sempurna suhu minyaknya. Pecel Madiun yang disajikan di atas pincuk, dilengkapi dengan irisan timun dan rempeyek kacang. Rasa sambal pecelnya cukup enak, meskipun masih dominan gurih. Hanya saja kurang terlacak aroma kencur dan wangi daun jeruk purut. Coba saja ditambah taburan petai Cina alias mlanding, pasti akan lebih dahsyat lagi. Sambil mengunyah daging bebek dan mencomot racikan pecel, kami tak lupa mencicipi belut penyet. Sedikit mengejutkan penampilannya. Karena awalnya kami kira belut disajikan 'telanjang' digoreng kering, ternyata belut agak besar ukurannya dibalut adonan tepung yang renyah krenyes-krenyes. Di atasnya diberi topping sambal cabai rawit merah plus bawang putih. Rasanya? Sangat heboh, gurih renyah belut beradu dengan pedas gurih sambal mentah ulek. Sepotong bebek goreng/bakar/peyet dihargai Rp 16.000,00. Nasi cobek komplit bebek Rp 32.000,00 dan pecel madiun Rp 11.000,00. Sedangkan untuk belut peyet dihargai Rp 20.000,00. Rasanya harga tersebut tidaklah mahal dibanding dengan kelezatan rasanya. Yang penting tak perlu harus jauh-jauh ke Surabaya buat menikmati nasi bebek yang lezat. Setelah menikmati Bebek Pondok Suryo ini, saya kok jadi 'jatuh hati' ya sama begor... Nggak percaya? Buktikan saja sendiri!! Pondok Suryo, Bebek Goreng SurabayaJl Suryo no.16, SenopatiTelp: 021-739 3358 (Menerima Delivery)
(dev/Odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN