Jakarta - Hari masih belum begitu siang saat kami memutuskan untuk mencoba mampir ke rumah makan betawi yang menurut info seorang teman, rugi jika dilewatkan. Sekilas, rumah makan betawi yang terletak di bilangan Duren Tiga, Jakarta Selatan ini biasa-biasa saja, dengan spanduk warna kuning menyolok bertuliskan RM Betawi Ibu Hj. Nurlailah, persis di tepi jalan raya Duren Tiga. Saat kami melangkahkan kaki ke dalamnya, terlihat jajaran kursi putih lumayan banyak berjumlah sekitar 50 buah. Ibu Hj. Nurlailah menyambut kami dengan senyum lebar. Karena ayam gorengnya terkenal maka kamipun memesan ayam goreng komplet dengan kepala ayam, dan jeroannya. Juga sayur asem, sup iga dan emping goreng. Sekitar 10 menit, nasi dan ayam goreng yang masih panas sudah tersaji di meja. Kalau di warung nasi uduk Betawi yang lain disediakan jeroan sapi, daging sapi, ikan atau seafood maka di rumah makan bu haji ini hanya ada ayam goreng. "Sejak pertama jual di th.1975 di daerah Mampang menu saya ya hanya ayam goreng" demikian jelas ibu Hj. Nurlailah yang masih meracik sendiri semua bumbu masakannya. Saat kami cicip, ayam goreng yang merupakan ayam kampung ini sangat empuk. Rasa bawang putih dan bawang merah dalam bumbu yang dipakai untuk mengungkep ayam masih kuat terasa. Tak perlu usaha keras untuk mencabik daging ayamnya. Luarnya kering dan bagian dalamnya sangat lembut. Hmm... tak heran jika ayam goreng ini jadi primadona. Pelengkap makan ayam ini adalah sambal kacang dan sambal terasi. Aroma terasi tercium kuat pada sambal terasi ini, tidak terlalu pekat tetapi sedikit encer, karena air tomat yang dihaluskan bersama sambal. Cocolan sambal terasi dan sambal kacang memberi 'highlight' rasa yang pas buat ayam goreng yang gurih abis! Jeroan ayam yang digoreng garing, diiris kasar dengan taburan bawang goreng rasanya juga sama hebohnya dengan ayam goreng. Tak heran jika dalam sehari minimal 50 ekor ayam dipotong untuk ayam goreng.Sasaran berikutnya yang kami cicipi adalah Sup Iga. Agaknya sup iga khas Betawi ini juga menjadi andalan rumah makan ini. Hampir tiap meja terlihat memesan sup iga. Sup iga sapi ini benar-benar panas mengepul saat disajikan. Taburan irisan daun bawang dan emping goreng yang dimemarkan membuat sup ini sangat menggiurkan. Saat kuahnya menyentuh lidah... hmmm... sup bening ini memang lezat. Ada semburat aroma cengkih, merica yang sangat harum hingga aroma lemak iga sapi yang tajam tak terlacak lagi. Apalagi daging iganya juga empuk. Harga makanan di rumah makan Betawi Hj. Nurlailah ini variatif, mulai dari Rp. 2.000,00 untuk tahu tempenya, ayam goring per potong Rp. 6.500,00 sampai dengan Rp. 10.000,00 untuk sop iga sapi.Salah satu minuman yang menarik minat kami dan patut Anda jajal adalah bir pletok. Minuman khas Jakarta yang ber-merk-kan Abang None ini terbuat dari jahe, pandan, serai, kayu secang, cabe jawa, gula dan air. Bir pletok ini dikemas dalam botol dan enak diminum dingin dengan es batu. Warnanya cokelat kemerahan dan rasanya mirip wedang jahe dengan aroma rempah yang kuat. Awalnya terasa pedas di tenggorokan tetapi lama-lama menghangatkan badan. Bir yang tak beralkohol ini memang dulu sangat popular sebagai minuman etnik Betawi. Memang diberi nama 'bir' karena larangan minum minuman beralkohol. Tak seperti bir yang dianggap maksiat, bir pletok justru berkhasiat mencegah sakit tenggorokan, masuk angin dan perut kembung. Usaha rumah makan Betawi ini dijalankan seorang wanita paruh baya yang asli Betawi, Ibu Hj. Nurlailah bersama anak laki-lakinya. Berawal di tahun 1975 di depan pangkalan taxi Blue Bird di daerah Mampang berupa warung tenda, kemudian pindah ke Mampang Prapatan VI, lalu ke Warung Buncit dan akhirnya ke Duren Tiga. Urusan manajeman memang di serahkan pada anak lelakinya tetapi urusan belanja dan meracik bumbu masih ditangani langsung. Tak heran jika sampai sekarang pelanggan setianya selalu saja ketagihan ayam goreng dan sup iganya yang sedap.Rumah Makan BetawiIbu Hj. NurlailahJl. Duren Tiga, Jakarta SelatanTelp: 021-7985542HP. 08128045044
(sci/)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN