Dendeng Balado Si Uni: Lamaknyo, Dendeng Renyah Gurih dari Ranah Minang

ADVERTISEMENT

Dendeng Balado Si Uni: Lamaknyo, Dendeng Renyah Gurih dari Ranah Minang

- detikFood
Jumat, 11 Jul 2014 16:18 WIB
Foto: Detikfood
Jakarta -

Renyah dan gurih dendeng Minang berpadu dengan sambal yang diulek kasar seketika menerbitkan air liur. Meski seharusnya disantap bersama nasi, daging kering yang tipis dan garing ini enak juga jadi camilan. Dendeng balado!

Menurut cerita, dendeng pertama kali ditemukan oleh orang-orang Minangkabau. Mereka mengeringkan daging sapi agar tahan lama dan bisa dibawa bepergian. Dendengpun berkembang menjadi dendeng sapi yang manis kenyal serta dendeng Minang yakni dendeng batokok dan dendeng balado.

Jika dendeng batokok basah dan disajikan dengan sambal lado mudo (cabai hijau), dendeng balado kering dan bertabur sambal cabai merah (balado). Di restoran Minang, biasanya dendeng balado berwarna hitam, diiris tipis, dan digoreng sampai kering.

Meski demikian, dendeng balado tersebut masih terlalu basah untuk dikirimkan ke tempat jauh, dibawa bepergian dalam waktu lama, atau disimpan berhari-hari. Berbeda jika Anda membeli dendeng balado satu ini.

Dendeng Balado Si Uni dikemas dalam kotak plastik tembus pandang. Selain dendeng, sebotol sambal dan sebotol bumbu goreng yang mirip serundeng sudah termasuk dalam paket.

Berbeda dengan dendeng balado di restoran Minang, Dendeng Balado Si Uni berwarna cokelat terang dan lebih kering. Tak tampak jejak minyak pada kemasannya. Dalam satu kotak terdapat beberapa iris tipis daging kering.

Saat digigit, kerenyahannya melebihi dendeng balado di restoran. Rasanya gurih tanpa memakai penyedap rasa. Karena renyah, tipis, dan ringan, tak sadar tangan terus mencomot dendeng seperti sedang ngemil. Ups!

Setelah mencicipi dagingnya saja, kali ini kami menuangkan sambal serta bumbu gorengnya ke atas dendeng. Cabai merah yang diulek kasar memberi warna cerah pada dendeng, sedangkan bumbu gorengnya berperan sebagai taburan yang menambah cita rasa.

Dendeng yang ringanpun jadi terasa lebih meriah. Sambalnya terasa pedas menggigit karena menggunakan cabai rawit yang tak dibuang bijinya. Minyaknya yang berwarna oranye perlahan diserap dendeng dan memuluskan jalannya di tenggorokan setelah dikunyah.

Terjejak rasa ketumbar dan kemiri pada bumbu gorengnya. Remah bumbu dendeng ini menebar wangi rempah yang tajam. Jika dimakan begitu saja, bumbunya terasa asin. Memang lebih enak dicampur dengan dendeng atau jadi taburan nasi putih hangat!

Rudy, pemilik Dendeng Balado Si Uni, terinspirasi dendeng balado buatan ibunya. Dendeng ini masih dimasak secara tradisional alias tanpa mesin. Daging melewati proses perebusan, pemipihan, dan penggorengan berkali-kali sampai renyah. Total waktu memasak dendeng, sambal, dan bumbunya 12 jam!

Rupanya, warna dendeng yang cerah karena daging sapi yang digunakan adalah bagian gandik (silver side), yakni bagian terluar dan paling dasar dari paha belakang sapi. Mengingat persediaan bagian daging sapi ini terbatas di pasaran, dendeng tidak bisa dipesan mendadak.

Jika disimpan dengan benar, dendeng dan bumbunya bisa tahan sekitar dua minggu. Ini karena keduanya digoreng sampai kering, bukan karena ditambahi bahan pengawet. Sambalnya sendiri bisa disimpan selama sebulan asalkan di kulkas.

Kemasannya yang praktis dan dendengnya yang tahan lama membuat Dendeng Balado Si Uni cocok untuk oleh-oleh atau dibawa ke luar negeri untuk menumpas kangen masakan Indonesia. Buat lauk santap sahur atau lauk teman makan ketupat di hari raya juga cocok.

Tertarik memesan? SMS ke 087781260410 atau email ke dendengbaladosiuni@gmail.com 3-7 hari sebelum tanggal pengantaran yang diinginkan. Barang bisa diantar ke seluruh Jakarta atau diambil sendiri di Bintaro. Ukuran medium bisa dibeli dengan harga Rp 85.000, large Rp 160.000, family Rp 220.000, dan double family Rp 320.000.


Dendeng Balado Si Uni
http://www.dendengbaladosiuni.com/

(fit/odi)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT