Sepulang kerja kemarin, rasanya saya ingin 'nyate' alias makan sate. Hmm.. bingung juga mencari warung sate yang enak. Saya kangen dengan sate kmabing muda yang beberapa kali saya cicipi saat sedang berada di Tegal. Selama di Jakarta saya belum mendapatkan yang rasanya mirirp dengan tempat asalnya.
Bersama seroang teman akhirnya saya menemukan tempat makan sate kambing asli Tegal. Tepatnya berada di Jl. Tanjung Duren Raya No.69. Rumah Makan 'Wong Tegal' namanya. Di tempat ini mengkhususkan diri menyediakan makanan khas Tegal terutama sate kambing muda dan juga nasi bogana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tahu pletok yang masih kemepul hangat tersaji lebih dulu. Tahu pletok ini adalah tahu yang diberi topping adonanΒ sagu yang diberi bumbu bawang dan irisan daun kucai. Tahunya digoreng kering kres..kres.. Konon nama pletok ini diberikan karena pada saat digoreng si tahu sering mengeluarkan bunyi 'pletok'.
Makan tahu pletok makin mantap saat dicocol ke dalam sambal kecap. Rasa pedas dan gurih jadi satu menciptakan rasa yang dahsyat! Huah..huah.. bibir saya megap-megap pedas, segelas es teh manis pun membilas rasa pedas di lidah.
Selagi asyik dengan tahu pletok, satai kambing dan juga nasi bogana datang bersamaan. Nasi bogana disajikan dalam piring putih yang sudah beralaskan daun pisang. Nasinya berwarna kuning, dengan topping suwiran opor ayam, setengah telur pindang, serundeng daging, tumis kacang panjang, tumis tempe, dan tak ketinggalan sambal gorengnya.
Nasinya pulen, serundeng dan opornya gurih pas di lidah. Tapi saya sempat kaget saat mencicipi sambalnya. Lidah saya seperti tersengat! Sambal gorengnya cukup pedas tapi bikin nagih! Sate kambing pesanan saya terdiri dari 10 tusuk dalam satu porsi. Yang menjadi ciri khas di sate Tegal adalah daging kambing yang digunakan dipilih yang usianya masih muda sekitar 3 hingga 5 bulan.
Selain itu, cara membakar satai nya pun unik. Tidak menggunakan bumbu-bumbu apapaun saat membakarnya, jadi masih polos. Dagingnya dipotong dadu berukuran 1,5 hingga 2 cm. Selain daging, satai kambing ini juga dikombinasikan dengan gajih (lemak) yang menjadikannya semakin gurih.
Satai kambing khas Tegal memakai sambal kecap sebagai aduannya. Kecap manis Djoe Hoa yang dicampur dengan sambal, dan potongan bawang merah dan juga tomat. Rasa manis kecap yang tidak etrlalu kuat membuat rasa daging kambing tetap mencolok. Saat dicoba, dagingnya sangat empuk. Hampir tidak ada perlawanan saat dikunyah. Nyam..nyam..
Satai kambing Tegal memang tersohor karena hampir selalu memakai kambing usia 3 - 5 bulan sehingga dagingnya sangat empuk tanpa aroma lemak yang tajam. Karena itu sering disebut 'bathibul' atau 'balibul' alias 'di bawah tiga bulan' atau 'di bawah lima bulan'.
Tampilan pecak udang langsung menggelitik selera. Harum aroma udang yang sudah bercampur dengan sambal terasi yang menguap menggelitik hidung. Tak terelakkan lagi, si udang pun langsung jadi target selanjutnya. Udangnya di goreng sebelum dicampur bersama dengan sambal terasi yang dibuat dadak. Harum aroma terasi menggugah selera makan saya malam itu.
Peluh pun langsung mengalir deras membanjiri kening hingga leher. Sapuan es teh manis sedikit mengurangi rasa pedas di lidah. Sayang sekali saya tidak memesan teh poci dengan gula batu. Padahal makan satai Tegal dengan teh poci sebagai endingnya akan lebih suedep lagi!
Tapi kali lain saya ke tempat ini, pasti saya akan memesan teh poci dengan gula batu sebagai pelangkap bersantap saya. Harga yang dibandrol untuk seporsi satai kambing pun cukup murah Rp 25.000,00Β sedangkan pecak udang Rp 15.000,00, Tahu pletok Rp 10.000,00, dan nasi bogana Rp 14.000,00.
RM. Wong Tegal
(Masakan Khas tegal)
Jl. Tanjung Duren Raya No.69C, Jakarta Barat
Telp: 021-567 4250
(eka/Odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN