Nyerutup Koffie Mantep Harganja Djoedjoer di Kopitiam Oey

- detikFood Jumat, 03 Apr 2009 16:05 WIB
Jakarta - Setangkup roti tawar tebal dan empuk, beroles selai dan keju bersanding serasi dengan kopi sisillia yang legit dingin segar. Lagu 'Widuri' berlagam keroncong pun mengiringi kenikmatan segelas kopi ini. Suasana sore di kopitiam ini membuat waktu pun serasa berhenti, kepenatanpun mengendur dari tubuh!

Suatu sore, saat terjebak kemacetan rutin di Jl. Sabang sudut mata saya tertumbuk pada sebuah papan bertuliskan 'Kopitiam Oey'. Bangunan ini mengingatkan saya dengan gaya rumah-rumah peranakan jaman dahulu. Deretan jendela-jendela kayu dan kedua pilar di pintu masuk memperkuat kesan jadoel.

Diantara dua pilar merah menyala yang ada di pintu masuk, tampak sebuah standing banner bertuliskan 'Soft opening, 50% discount all drinks'. Yang menarik sebuah gambar yang sudah tak asing lagi di TV, Bondan Winarno turut menghiasi banner. Rasa penasaran yang kuat membuat saya memutuskan berhenti dan melangkah masuk ke dalam kedai ini.

Suasana rumah jaman para babah dan nyonya langsung terasa saat masuk ke Kopitiam Oey. Langit-langit yang cukup tinggi berhiaskan lampu-lampu dalam sangkar burung yang ditutup sehelai kain berwarna merah. Membuat pancaran cahaya tidak terlalu kuat menerangi para pengunjung yang sedang menikmati kopi di kursi-kursi kayu sederhana.

Dinding-dinding pun tak dibiarkan kosong begitu saja. Berderet-deret gambar dan lukisan para noni Shanghai, iklan kopi aroma , dan teh tjap botol makin memperkuat kesan tempo doeloe yang unik. Hmm.. ternyata kali ini saya tak salah, kopitiam ini memang milik pak Bondan Winarno, yang berkaus hitam sore itu menyambut saya dan pengunjung dengan ramah. Jadilah acara ngopi sore itu sungguh istimewa!

Tak begitu banyak menu yang ditawarkan. Layaknya kopitiam di Singapore yang menawarkan kopi dan makanan ringan seperti roti srikaya atau bubur. Kopitiam Oey ini menawarkan beberapa menu yang bisa diorder pagi, siang dan malam. Namanya saja kedai kopi, sebagian minuman yang diawarkan adalah kopi selain juga teh. Mulai dari kopi Vietnam yang menjadi favorit pengunjung, kopi toebroek Djawa, kopi saring Atjeh, kopi soesoe Indotjina, juga wedang oewoeh asli Imogiri.

Untuk makanannya, selain boeboer ajam Benteng ada berbagai pilihan roti bakar, mulai dari yang ringan seperti roti selai atau roti panini dan roti telor Belanda yang mengenyangkan. Menu tradisional yang cukup berat juga tersedia seperti gado-gado Bonbin yang kondang itu, sate ayam Ponorogo, lontong tjapgomeh Bonbin, dan sego ireng yang unik.

Untuk meredam udara panas sore itu saya memesan segelas es kopi sisilia dan es teh mint. Roti berlapis selai dan keju beserta setangkup panini menjadi pilihan sore itu. Kopi sisilia tampil menggiurkan dengan bongkahan es batu dan busa di atasnya. Aroma kopinya wangi menusuk hidung. Benar saja saat diserutup, hmm... suegerr abis! Kopinya tidak terlalu pahit dengan semburat manis sirop gula yang serasi. Begitu pula teh dengan daun mint segar yang dicampurkan kedalamnya, semburat manis, pedas mentol, dan dingin berhasil melegakan tubuh yang terasa gerah.

Di Indonesia istilah kopitiam sendiri belum begitu populer. Istilah 'kopitiam' tersebut berasal dari kata kopi (Melayu) dan bahasa Hokkien 'tiam' yang artinya kedai. Berbeda dengan di Singapura dan Malaysia kopitiam bukan hal yang baru karena disana budaya minum kopi sudah tertanam sejak dulu. Penamaan 'Oey' sendiri menurut sang empunya diambil dari nama 'Winarno' yang dalam bahasa Cina disebutkan sebagai 'Oey'.

"Sungguh ironis di Indonesia tidak ada warung kopi, mengingat Indonesia merupakan penghasil kopi terbesar ke-3 di dunia. Saya ingin ngopi menjadi bagian budaya di Indonesia, dengan harga murah orang sudah bisa menikmati kopi yang enak," ujar Pak Bondan saat ditanya alasannya mendirikan kopitiam ini. Di Pontianak dan Batam kedai kopitiam ini biasanya dimiliki orang Hainan (Tionghoa). Cara membuat kopinya disaring dengan memakai air panas dari teko khusus bercorong panjang.

Roti bakar tampil sederhana. Yang istimewa justru rotinya yang tebal dan empuk dengan olesan tipis mentega yang meresap hingga ke dalam serat roti, olesan tipis selai strawberry dan keju Cheddar. Sedangkan roti panini, roti isi gaya Italia ini terdiri dari setangkup pitta bread yang lembut dan tipis. Didalamnya diberi olesan saus tomat, dua lembar smoked beef, dan keju mozarella. Meskipun sederhana, rasanya hmm... nyummy abis, cocok buat saya yang doyan keju!

Kenikmatan ngopi ini makin bertahan karena ada fasilitas free wifi. Sambil mengecek email, ngobrol dan nyerutup kopi dingin, senjapun mulai turun. "Widuri elok bagai rembulan..." lagu keroncong yang mendayu-dayupun membuat tubuh jadi santai kembali, siap menyongsong malam.

Saat membayar bon, sayapun membuktikan kata-kata pak Bondan yang ditulis di banner 'Koffie Mantap Harganja Djoedjoer'. Ya secangkir kopi harganya tak lebih dari Rp 12.000,00 (setelah didiskon 50% malah jadi Rp 6.000) dan harga roti dan makanan tak lebih dari Rp 30.000,00. Kalau mau ngopi atau sarapan sebelum ke kantor atau menghindari kemacetan, rasanya kopitiam ini bisa jadi persinggahan yang nyaman!

Kopitiam Oey
Djalan Haji Agoes Salim 18 (Sabang)
Djakarta Poesat
Telp: 021-3924475
Buka: 07.00 - 21.00


(dev/Odi)