Mengulang Jejak Kelezatan 'Janganan' Bu Sri

- detikFood Senin, 30 Mar 2009 14:02 WIB
Jakarta - Meskipun sederhana sayuran rebus yang terdiri dari kangkung, kol dan tauge ini disiram bumbu kacang yang kental agak kecokelatan. Rasanya gurih mlekoh dengan jajak manis gurih dan pedas yang seimbang. Disuap dengan kerupuk kanji putih yang renyah rasanya benar-benar nikmat. Persis seperti bertahun-tahun silam saat pertama mencicipi pecel ini!

Belum lagi setengah jam mampir di kota Semarang, saya sudah terbayang-bayang kesegaran rasa janganan (pecel) bu Sri yang ada di kawasan jalan Pekunden. Udara panas menyengat malah membuat saya makin tak bisa mengusir bayangan segar dinginnya es kolak di warung ini. Jadilah disela-sela waktu yang sempit Warung Rujak Cingur 'Bu Sri' menjadi target utama saya.

Memasuki warung yang ada di emperan rumah bu Sri ini nyarus tak ada yang berubah. Meja kayu dengan bangku-bangku sederhana memenuhi ruangan yang terasa agak sejuk dengan tiupan kipas angin. Andalan utama warung bu Sri yang ada di jalan Pekunden ini adalah rujak cingur. Tetapi di panas yang terik itu saya justru nyidam pecel alias janganan dalam istilah Semarangan.

Ternyata selain seporsi pecel, saya tergoda juga melikat tampilan gado-gado yang dipesan oleh orang di meja sebelah. Maka gado-gado pun saya pesan. Khusus untuk minumannya sengaja saya memesan es kolak yang lama tak saya nikmati. Pilihan di warung yang ada sejak lebih dari 30 tahun silam ini adalah pecel kangkung, rujak Surabaya, rujak buah yang dicacah (cincang) atau rujak iris.

Pelengkap lain yang jadi jagoan bu Sri adalah es kolak dengan campuran degan (kelapa muda) atau bubur (bubur sumsum). Untuk minuman dingin juga ada sederetan minuman yang menggiurkan; es degan, es bubur, es dawet, es blewah, es campur dan es sirop. Di tiap meja panjang selalu tersedia, bihun dan bakmi goreng berbungkus daun, martabak mini yang crispi, bakwan, tahu goreng dan aneka makanan gorengan lainnya.

Sepiring cekung berisi pecel sudah tersaji dalam beberapa menit, Tempat meracik pesanan ada di sisi kiri dan seperti open kitchen, gampang diamati termasuk proses mengulek bumbu. Kalau biasanya bumbu pecel warnanya kemerahan maka bumbu pecel buatan bu Sri ini justru agak kecokelatan dan menebarkan aroma wangi kacang tanah goreng.

Kunyahan pertama langsung terasa renyahnya kangkung dan daun kol. Kangkungnya bukan kangkung cabut/akar tetapi kangkung sawah yang renyah dengan tekstur daun yang tebal. Bumbu pecelnya terasa gurih, sedikit manis dan pedas dengan jejak petis yang cukup kuat. Agaknya racikan bu Sri yang berasal dari Jawa Timur ini memakai petis udang sehingga ada aksen rasa legit yang unik. Tak ada yang berubah, rasa pecelnya tetap sedap nikmat!

Nasib si gado-gado siram pun tak jauh berbeda. Campuran sayuran (kol, kacang panjang) selada, kentang, tahu, tomat ditutup saus yang agak kemerahan dengan taburan emping berlimpah. Hmm... siapa tahan godaannya? Rasa bumbu yang gurih ringan dengan paduan manis dan pedas yang seimbang membuat gado-gado ini memang jadi dahsyat enaknya!

Rasa kangen yang mendalam membuat saya makan agak kalap. Padahal mata saya sudah tak tahan melihat racikan petis kangkung yang menggiurkan. Rebusan daun kangkung ditutup saus petis yang cokelat kehitaman. Walah…ini kalau dicocol dengan kerupuk kanji tak terbayang enaknya! Sayang perut saya sudah mulai kencang.

Rasa gurih di mulutpun saya bilas dengan semangkuk es kolak. Sengaja saya tak memilih es kolak dengan berbagai campuran karena saya ingin merasakan kembali kenikmatan es kolak buatan bu Sri ini.

Kolak disajikan dalam mangkuk sedang berisi potongan pisang kapok, kolang-kaling, dan diberi kuah kolak, sirop merah plus es batu. Kucuran sirop merah yang wangi inilah yang jadi keunikan kolak ini. Belum lagi pisangnya yang kenyal lembut legit dan kolang-kaling muda yang lembut. Kuah kolaknya legit, tidak terlalu kental dengan aroma gula merah yang wangi!

Nostalgia rasa lezat ini masih saya sambung dengan seporsi rujak iris. Irisan aneka buahnya tak jauh beda dengan rujak buah umumnya. Yang membedakan justru saus rujaknya. Disajikan dalam piring sedang dalam jumlah cukup banyak. Tak terlalu kental, berwarna kuning kecokelatan. Saat dicocol barulah terasa jejak asam Jawa yang dominan. Rasanya pun jadi tak melulu manis, ada semburat asam yang tajam dan pedas yang menyegarkan!

Untung saja saya tak tergoda dengan bungkusan daun pisang mungil yang berisi mi dan bihun goreng khas Jawa. Karena perut saya sudah beanr-benar tak bisa diajak kompromi karena kekenyangan! Tak salah sepertinya jika tiap kali saya ingin mencicipi pecel di warung bu Sri tiap kali mampir ke Semarang.

Harga yang ditawarkan juga tak mahal. Seporsi rujak dan pecel Rp. 7.000,00 dan seporsi gado-gado Rp. 11.000,00 Sedangkan es kolak Rp. 6.000,00. Tak mahal bukan untuk sepotong nostalgia yang lezat dan sedap!

Warung Rujak Cingur 'Bu Sri'
Jl. Pekunden Timur I no. 2
Semarang
Telp: 024-8411419


(dev/Odi)