Tulisan 'Depot Malang' terpampang jelas di depan sebuah rumah yang berada di daerah Cikajang, Jakarta Selatan. Jauh dari kesan mewah, sebuah halaman rumah tua dengan halaman luas disulap menjadi tempat bersantap. Pemandangan ini mengingatkan saya dengan sebuah rumah makan sejenis yang berada di daerah Grogol, Jakarta Barat.
Yang membuat saya cukup terkesan, saat melangkah masuk meja dan kursi kayu nan sederhana ditata apik dan tampak bersih. Suasana makin menyenangkan saat terdengar suara gemericik air dari arah taman. Pemandangan hijau pot-pot tanaman sengaja ditata sang pemilik untuk membuat fresh mata.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti namanya, menu yang ditawarkan disini hampir semuanya masakan Jawa Timur. Ada rawon, tahu tek, cwimie, dan soto ayam. Tanpa banyak pikir panjang saya langsung memesan rujak cingur favorit saya dan seporsi tahu tek pilihan teman saya.
Rujak cingur pesanan saya disajikan dalam pinggan putih kontras dengan siraman bumbu petis yang melimpah ruah diatasnya. Wah⦠baru melihatnya saja air liur saya sudah hampir menetes.
Rujak cingur versi Depot Malang ini berisi irisan bangkoang, kedondong, timun, tauge, kangkung, serta tempe dan tahu. Dari siraman bumbu yang royal tampak menyembul irisan cingur yang cukup besar. Selain bumbu petis tentunya, 'cingur' atau tulang rawan dari bagian hidung dan bibir sapi inilah yang menjadi kekhasan makanan dari Jawa Timur ini.
Rasa krenyes-krenyes bangkoang dan lembutnya cingur berpadu serasi dengan bumbu petis yang asin pedas. Hmm... sungguh membuat mulut saya tak bisa berhenti mengunyah. Sesekali saya menyeka keringat yang berlelehan akibat pedasnya bumbu petis yang 'nonjok' abis.
Sayangnya rujak cingur disajikan dengan porsi yang tidak begitu besar. Sehingga setelah rujaknya habis kerupuk gendar yang sejak tadi mengintip dibalik kaleng kerupuk akhirnya menjadi sasaran selanjutnya. Kriukkβ¦kriukk kerupuk gendar pun saya nikmati sambil menococolnya dengan bumbu petis yang tersisa di piring. Uenakβ¦ rekkk!
Tampak teman saya berada di seberang meja masih asyik mengunyah makanannya. Setahu saya tahu tek biasanya dipotong kecil-kecil dengan menggunakan gunting. Tak heran jika ada pula yang menyebut makanan tersebut sebagai tahu gunting. Irisan tahu berwarna kecokelatan dipotong kecil-kecil. Lalu ada pula irisan kentang, tauge, dan daun seledri yang disiram oleh bumbu kacang tanah ini jelas tak kalah menggoda. Kerupuk aci yang ditaburkan royal diatasnya, menutupi sebagian besar piring tahu tek.
Saat saya ikut mencicipinya, hmm.. rasanya nyaris mirip ketoprak. Namun bedanya selain bumbu kacang, saya juga merasakan jejak bumbu petis meskipun tidak terlalu kuat kuat dan sedikit bawang putih. Sehingga rasanya menjadi sangat khas... gurih-gurih pedas dan enak.
Sebagai ending kami menyeruput segelas teh tubruk anget yang segera meluncur menghangatkan tenggorokan slurrpp... Yang istimewa teh ini menggunakan Teh Bandulan asal Pekalongan sehingga rasanya 'beda', lebih wangi dan segar. O ya bahkan kami pun sempat membeli dua bungkus teh bandulan tubruk yang dijual seharga Rp 2000,00 per bungkus.
Seporsi rujak cingur dipatok dengan harga Rp 17.000,00, Tahu Tek Rp 15.000,00 dan Rp 1500,00 untuk segelas besar teh hangat. Redanya hujan mengiringi kami dan pengunjung lainnya pulang dengan senyum puas dan perut kenyang!
Depot Malang
Jl. Cikajang No.32, Kebayoran Baru
Jakarta Selatan
Telp: 021-7206810
Range Harga: Rp 2.500,00 β Rp 18.000,00 (eka/Odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN