Overcooked Beefsteak @ Lembah Pakar

Overcooked Beefsteak @ Lembah Pakar

- detikFood
Kamis, 28 Sep 2006 11:51 WIB
Jakarta - Kata seorang teman, mencari steak di Bandung tidak sulit. Dari warung tenda sampai resto berbintang punya aneka steak andalan. Tetapi, mencari steak yang benar-benar enak ternyata tak mudah. Akhirnya kami 'terpaksa' menikmati beefsteak yang overcooked dan terlalu asin. Padahal kami menikmatinya di ketinggian Lembah Pakar di resto yang tergolong populer dan laris manis!Gara-gara kami ingin menikmati udara dingin di daerah Bandung atas maka malam itu kami memutuskan untuk bersantap malam di salah satu resto yang ada di ketinggian bukit. Dari 4 buah resto yang ada di daerah perbukitan, akhirnya kami memutuskan singgah di The Valley. Menjelang pukul 19.00 resto sudah hampir penuh terisi. Bahkan di pintu masuk sudah terjadi antrean, mirip suasana pesta perkawinan di gedung pertemuan. Untung saja kami kebagian tempat di teras luar, sayap kanan yang disukai orang karena berudara terbuka dan beratap langit. Dari ujung sisinya kita bisa menikmati kerdip lampu pemandangan malam kota Bandung.Karena hanya disinari temaram cahaya lilin, kamipun agak sulit membaca daftar menu yang panjang. Di bagian main course, dibagi menjadi tiga Japanese Selection, Oriental favorites, dan Western. Berhubung niat awal kami menyantap beefsteak maka pilihan kamipun jatuh pada Tenderloin Steak dan Chicken Four Seasons. Sebagai pembuka kami memesan Marina Caesar Salad dan The Valley Spaghetti untuk pengenyang. Karena ramainya resto maka kami harus bersabar untuk menanti pesanan datang. Marina Caesar Salad, datang lebih dulu, disajikan dalam piring oval. Isinya cumi-cumi, udang, kani stick, salmon dan gindara panggang plus lettuce. Dilumuri saus mustard, rasanya salad ini tak terlalu spesial. Tak ada taburan keju Parmesan sehingga rasanya STD alias Standard saja. The Valley Spaghetti yang disajikan kemudian merupakan seafood sapghetti. Irisan cumi dan beberapa ekor udang dilumuri saus tomat yang pekat. Rasanya dominan asam dengan semburat rasa manis, sementara aroma basil, oregano dan merica yang menjadi ciri khas saus spaghetti tak terlacak sama sekali. Spaghettinya menurut kami agak lewat dari al dente, kalau tak bisa dibilang over cooked. Kedua sajian ini ternyata belum bisa menarik selera kami, padahal hembusan sepoi angin dingin sudah membuat kami ingin menyantap yang hangat.Chicken Four Seasons yang kami tungu-tunggu akhirnya datang, disajikan dalam piring segi empat besar. Gulungan daging ayam berlapis tepung roti disajikan dengan sepotong lasagna dan salad buah. Steak ayam ini tak berbeda jauh dari Chicken Cordon Bleu. Fillet ayam digulung dengan daging asap dan keju. Saat diiris, kejupun meleleh sempurna. Rasanya cukup enak, bagian luarnya renyah dan bagian dalamnya lembut gurih karena lelehan keju. Saus pelengkapnya terasa terlalu 'datar', rasa gurih kaldu dalam saus kurang terasa. Pelengkap yang disajikan menurut kami agak berlebihan. Potongan lasagna, rasanya terlalu manis dan salad bayam yang diaduk dengan mayones terasa terlalu gurih. Salad buah yang disajikan benar-benar membuat kami terkaget-kaget. Fruit Cocktail kalengan, diaduk dengan saus mayones. Mengapa tidak memakai potongan buah segar saja yang asam segar? Padahal dalam satu piring rasa makanan sudah berlumuran saus dan gurih habis! Kami memesan Tenderloin Steak dengan daging sapi lokal. Steak ini disajikan dalam piring segi empat juga, bersama pure kentang berbentuk pir, setup jagung muda dan wortel serta salad bayam. Saat memesan, pelayan tidak menanyakan, apakah daging steak mau dimasak 'medium' atau 'welldone'. Mungkin karena kami memesan daging sapi lokal. Maka steakpun kami terima dalam keadaan 'welldone' sedikit agak 'overcooked'. Empuk meskipun agak kering (lebih mirip irisan empal karena tipis) dan rasanya agak asin. Saus jamurnya tak terlalu istimewa, aroma khas jamur tidak tercium lagi karena jamur agak lonyot. Ya, rasa kecewa kamipun sedikit terobati dengan suasana perbukitan yang sejuk dengan kerdip bintang di langit. Mungkin benar, kalau ke tempat ini harus membawa pasangan sehingga beefsteak yang sedikit liatpun terasa enak karena dimakan berdua. Jika melihat penyajian hidangan dan susunan menu rasanya koleksi The Valley tak beda jauh dengan resto lain yang ada di sekitarnya bahkan beberapa resto di Bandung. Kata orang, ini disebabkan karena resto-resto tersebut memakai konsultan yang sama. Tak heran jika rasa dan penampilanpun tak ada bedanya. Dengan perut yang belum kenyang dan selera yang belum terpuaskan kamipun memutuskan untuk turun ke daerah Dago bawah mencari roti bakar atau ayam bakar yang lebih pasti rasanya. The Valley Bistro Cafe and Suki GardenJl. Lembah Pakar Timur No. 28 (Dago) BandungJam Buka: 10.30 - 00.00 wibHarga : Rp. 34.500 - Rp. 160.000 plus pajak dan servis 15,5% (ely/Odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads