Kamameshi, Oishii Desu!

Kamameshi, Oishii Desu!

- detikFood
Kamis, 14 Jul 2005 10:43 WIB
Jakarta - Nasi liwet bukan hanya monopoli orang Solo. Orang Jepang juga memiliki nasi liwet yang unik dan enak. Disantap selagi hangat mengepul dari periuk plus siraman kaldu yang hangat pula. Rasanya gurih lezat apalagi nasinya pulen dan lembut.Setelah sekian lama mengatur waktu, akhirnya siang itu saya singgah ke Nadaman Japanese Restaurant yang berlokasi di lantai 1 Hotel Shangri-la Jakarta. Sudah cukup lama saya tak mampir ke resto ini. Maklum, bukan tak mau makan enak tetapi harga yang relatif mahal membuat saya jarang singgah. Dulu saya selalu nongkrong di ruang teppanyaki, melihat chef memanggang hidangan sambil menikmati daging panggang hangat-hangat. Ternyata, tak ada yang berubah. Senyum dan sapaan ramah sudah menyambut kami di pintu depan.Kali ini saya ingin membuktikan komentar teman saya tentang Kamadaki Gohan alias Kamameshi yang jadi andalan menu lunch di resto ini. Kamameshi memang sedang naik daun. Kalau dulu orang harus makan sukiyaki dan tempura kalau ke resto Jepang maka kini orang mulai beralih ke kamameshi. Kamadaki gohan atau kamameshi tak lain adalah nasi liwet. Nasi bersama bumbu dan lauk dimasak dalam periuk tanah liat atau tembaga (meshi). Sebenarnya nasi yang jadi makanan pokok orang Jepang sudah lama disajikan dengan cara ini. Touge Kamameshi merupakan salah satu kamameshi yang terkenal di stasiun Usui Touge. Beragam pilihan kamameshi tertera pada daftar menu yang terpasang di meja. Komplet dengan gambar dan keterangannya. Ada 7 macam kamameshi yang ditawarkan; Unagi Kamadaki, Kani Kamadaki, Asari Kamadaki, Sansai Kamadaki, Kaisen Kamadaki, Kaki Kamadaki, dan Tori Kamadaki. Kami memutuskan memilih Unagi Kamadaki dan Kaisen Kamadaki. Kamameshi ini disajikan dalam paket bersama acar dan sup. Kamameshi disajikan dalam periuk tanah liat yang tinggi dan besar, dialasi piring keramik. Teko keramik berwarna cokelat berisi kaldu disajikan bersama mangkuk mungil. Tak ketinggalan, mangkuk berisi air putih dan centong kayu untuk mengambil nasi.Unagi Kamadaki, menebarkan aroma asap belut panggang dan shoyu. Irisan belut panggang ditata di atas nasi sebagai topping, bersama irisan dadar telur dan jamur shitake. Saat suapan nasi berikut sedikit belut menyentuh lidah, terasa sangat pulen dan gurih. Hmm? tak kalah sedap dengan nasi liwet Solo. Nasi yang dimasak dengan api kecil di dalam periuk biasanya akan membentuk kerak yang oleh orang Jawa disebut intip. Kerak nasi inilah yang saya dapati di dasar periuk kamameshi. Sedikit sangit, renyah dan harum? Jika kerak terlalu keras, kaldu dalam poci bisa dituangkan dalam periuk. Setelah beberapa saat kerak yang mengembang menjadi renyah-renyah gurih. Sedap sekali, apalagi dinikmati saat hujan dan udara dingin. Kaisen kamadaki, berisi scallop, salmon, udang, kepiting dan sayuran. Nasinya berwarna lebih putih karena tidak memakai shoyu sebagai bumbu. Rasanya tetap lembut dan gurih, meskipun tak terlacak keraknya.Satu set kamameshi rupanya sudah cukup membuat kami kenyang. Dari daftar menu lunch yang sempat saya lirik, ternyata ada juga beragam pilihan yang menggiurkan. Mulai dari menu udon, soba, sampai menu special lunch yang khusus untuk wanita (Ladies Tenshin) hingga mini Kaiseki yang komplet. Ketika meninggalkan resto yang merupakan cabang dari Nadaman yang didirikan di Osaka tahun 1830, saya melihat umeshu, plum wine yang ditaruh dalam stoples kaca. Wah, kalau saja tak terlalu kenyang, plum wine yang harum, legit dan dingin bisa jadi penutup yang pas. NADAMANJapanese RestaurantHotel Shangri-la Jakarta, lantai 1Kota BNI, Jl. Jendral Sudirman, JakartaTelp: 021-570-7440Harga: kamameshi mulai Rp.60.000,00 - Rp. 80.000,00 ++Jam Buka: makan siang: 11.30-14.00; makan malam: 18.00-22.00 (Odi/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads