The Holy Crab: Tak Perlu Gengsi Melahap Kepiting dan Udang dengan Tangan!

- detikFood Jumat, 14 Feb 2014 19:32 WIB
Foto: Detikfood
Jakarta - Suara orang memukul-mukul dengan palu terdengar di meja sebelah. Cairan merah kekuninganpun bercipratan. Kemudian, orang-orang tampak mengerubuti sesuatu yang telah terkoyak di tengah-tengah meja. Pesta kepiting!

Di The Holy Crab, jangan harap bisa jaim (jaga imej). Tangan berlepotan saus dan mulut asyik menyeruput daging dari cangkang kepiting sudah jadi pemandangan umum di sini. Wah, tak cocok untuk lokasi kencan pertama!

The Holy Crab yang baru dibuka 3 Februari lalu menawarkan konsep a la Louisiana, Amerika Serikat. Berdasarkan pengalaman Albert Wijaya, executive chef sekaligus pemilik The Holy Crab, orang-orang di sana biasa menggelar seafood di meja lalu menyantapnya bersama-sama.

Saat Anda duduk, meja panjang di hadapan Anda akan dilapisi kertas. Anda juga akan diminta mengenakan celemek plastik. Kemudian, alat-alat seperti palu kayu, nutcracker (tang penjepit yang biasanya dipakai untuk memecah kacang berkulit keras), alat pencungkil plastik, serta sendok plastik diletakkan di meja.

Pesanan Anda akan datang tanpa wadah piring maupun mangkuk. Pelayan membawanya dalam kantung plastik bening besar. Tak perlu ragu, langsung tuangkan saja kepiting, udang, atau kerang beserta sausnya ke atas meja!

Pecahkan cangkang kepiting yang keras dan ambil dagingnya dengan bantuan alat-alat tadi. Hati-hati, sausnya bisa terciprat ke mana-mana saat Anda memukul kepiting dengan palu. Itulah gunanya memakai celemek. Jadi, jangan malu! Langsung saja nikmati daging kepiting lembut beserta sausnya dengan tangan Anda.

Kamipun berkesempatan mencoba sendiri pengalaman makan seru a la The Holy Crab. Kami memilih mud crab (Rp 45.000/100 gram) dan udang (Rp 28.000/100 gram), masing-masing dengan kepedasan medium. Sebagai pelengkapnya kami memesan jagung manis (Rp 20.000) dan cajun fries (Rp 25.000).

Pesanan datang sekitar 20 menit karena restoran sedang penuh saat itu. Kepiting seberat kira-kira 800 gram dan udang ditaruh di plastik terpisah, masing-masing disertai tiga potong jagung manis dengan bonggolnya. Langsung saja kami menuangkannya ke meja. Sausnya yang merah kentalpun berlumuran.

Udangnya cukup besar. Setelah kepala, ekor, dan kulitnya dibuang, muncullah daging udang yang putih agak oranye. Kematangannya pas, sehingga dagingnya terasa kenyal-kenyal empuk saat dikunyah. Nyam nyam!

Kalau Anda tak terbiasa memecah cangkang kepiting, jangan takut-takut memukulnya dengan palu. Telusuri capit dan bagian lainnya untuk mengambil dagingnya yang putih dan terasa agak manis. Kalau perlu, seruput saja. Slurp! Daging kepiting berikut bumbunya langsung mendarat di mulut.

Nah, setelah udang dan kepitingnya dikupas, cocolkan ke sausnya yang berwarna merah kecokelatan. Terasa bumbunya agak medok dengan rasa lada hitam, bawang bombai, dan bawang putih yang kuat. Sesekali terlihat cacahan daun seledri. Sayang, mungkin karena sausnya dimasak agak terlalu lama, ada sedikit rasa pahit tertinggal di lidah.

Kamipun menggerogoti jagung manisnya yang menjadi pelengkap sajian ini. Tak lupa ngemil cajun friesnya yang disajikan di keranjang besi kecil. Tekstur kentang goreng shoe string ini renyah dengan sedikit jejak pedas karena dicampur serbuk cabai.

Kalau sudah selesai, lap dulu tangan dengan paper towel (tisu dapur) yang tersedia di setiap meja sebelum menuju wastafel.

Selain mud crab dari Papua dan udang, The Holy Crab juga menyediakan king crab legs dari Alaska, lobster dari Kanada, snow crab legs, serta blue crab (rajungan) dan clams (kerang) lokal. Restoran ini juga menjadi satu-satunya penyedia dungeness crab asal Amerika.

Pilihan sausnya mulai dari mild, medium, spicy, sampai Holy Moly!. Adapula beberapa camilan renyah dan pelengkap seperti onion rings dan nasi putih. Untuk membasuh mulut setelah berpesta seafood, tersedia aneka soft drink dan bir.

Menurut Albert, saus a la Louisiana ini sudah disesuaikan dengan lidah Indonesia. Iapun sengaja memilih kepiting jantan karena lebih terjamin ketersediaannya. "Kepiting betina biasanya bertelur dan dari situ muncullah anak-anak kepiting. Kalau kepiting betina kita jadikan konsumsi, siapa yang menelurkan generasi kepiting berikutnya?"

Sebaiknya Anda memesan tempat dulu sebelum datang ke sini. Pasalnya, restoran dua lantai berkapasitas 150 orang ini selalu penuh karena lantai duanya belum dibuka. Namun, tak perlu khawatir. Kekesalan Anda setelah menunggu lama dapat terlampiaskan dengan memukul-mukul cangkang kepiting!

Lantas, mengapa diberi nama The Holy Crab? "Holy Crab itu ungkapan takjub, takjub bahwa rasa kepitingnya enak banget!" ungkap Albert.


The Holy Crab
Jl. Gunawarman No. 55, Kebayoran Baru
Jakarta Selatan
Telepon: 021-29236155
Jam buka: Senin-Kamis (17:00-22:00), Jumat-Minggu (12:00-15:00, 17:30-22:00)


(fit/odi)