Nyam... Nyam Terpikat Nasi Joglo

Nyam... Nyam Terpikat Nasi Joglo

- detikFood
Rabu, 31 Des 2008 16:18 WIB
Jakarta - Tak hanya terpikat dengan Selat Solo, Gule Tengkleng, dan Nasi Joglo yang ada di restoran ini. Interiornya yang berbentuk seperti rumah tardisional joglo ini juga tak kalah memikat mata. Jika liburan ini belum ada rencana, yukk... mampir saja ke restoran di bilangan Bintaro ini!

Liburan panjang Natal dan Tahun Baru kali ini membuat saya berkesempatan untuk mengunjungi seorang teman di kawasan Bintaro. Semakin sore, semakin banyak rumah makan dan cafe yang tampak dari arah jalan raya Bintaro ini. "Kita mampir makan dulu yuk," ajaknya. Wah, perut yang dari tadi berkeruyukan setiap melewati restoran seakan melonjak gembira. Ajakan tersebut tentu saja tidak saya sia-siakan begitu saja.

Saya sendiri kurang menguasai daerah Bintaro. Seingat saya tak lama setelah melewati sekolah High Scope, mobil pun berbelok memasuki sebuah halaman dengan bangunan seperti djoglo. Di depan restoran unik tersebut tertera tulisan dari ukiran kayu 'Djoglo Solo' Restoran & Gallery.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat melangkahkan kaki ke dalam restoran, saya langsung berdecak kagum. Interior restoran yang bergaya tradisional ini sangat kental. Pembatas ruangan dari kayu jati berukir atau yang biasa disebut 'sketsel' dan tiang-tiang kayu jati yang tinggi dengan kokoh menyangga bangunan segera menarik minat saya. Sedangkan beberapa tas buatan tangan, baju batik, dan lukisan pun ikut dipajang dengan tulisan 'dijual'.

Area bersantap ala lesehan lebih menarik minat kami dibandingkan duduk di kursi. Tak lama seorang pelayan datang dengan membawakan buku menu. Seperti namanya 'Djoglo Solo', hampir semua menu yang ditawarkan adalah masakan Jawa. Sebut saja pepes garang asam, gudeg komplet, selat solo, tengkleng, dll. Sedangkan pilihan kami jatuh pada Nasi Joglo Spesial, Selat Solo, dan Gule Tengkleng.

Tak perlu menunggu terlalu lama, pertama-tama jus jeruk dan es dawet telah tersaji di atas meja. Es dawetnya disajikan dalam gelas lebar berkaki pendek. Isinya standard saja, dawet alias cendolnya terbuat dari tepung beras dengan rasa gurih santan. Menurut saya es dawet ini tidak terlalu manis, mungkin karena gula aren yang jadi siropnya kurang banyak.

Nasi Joglo Spesial disajikan dalam wadah anyaman bambu yang dilapisi dengan kertas cokelat. Isinya cukup komplet, selain setangkup nasi, ada ayam bakar, irisan timun, tahu goreng, sambal kentang, urap yang terdiri dari daun kenikir, kacang panjang, dan tauge. Sebagai pelengkap lainnya ada sambal yang disajikan dalam wadah mungil terpisah.

Nasinya terasa enak dan pulen, sedangkan keistimewaan lainnya terletak pada ayam bakar yang berwarna kecokelatan. Koyakan pertama menggunakan tangan tidak mengalami kesulitan. Saya menduga pastilah sebelumnya ayam direbus dengan bumbu cukup lama, sehingga lembut dan bumbunya meresap hingga ke dalam. Kunyahan pertama langsung terasa jejak manis dari kecap manis yang pas. Apalagi lelehan karamel yang keluar dari bagian ayam yang gosong, dimakan bersama urap hmm... makin menambah nikmat rasanya nyam nyam!

Jika biasanya tengkleng dimakan tanpa nasi yang bagi orang Jawa biasa disebut 'gadon', kali ini kami memesannya bersama nasi. Di Solo makanan khas Solo berbahan dasar kambing ini bisanya disajikan dengan pincuk daun pisang ini cukup populer. Namun di restoran ini tengkleng disajikan dalam mangkuk yang cukup besar dengan sambal dan irisan jeruk nipis dalam wadah terpisah.

Semangkuk tengkleng berisi buntut kambing, jeroan, tulang, irisan tomat yang kesemuanya dicampur menjadi satu. Namun tidak seperti tengkleng khas Solo yang dimasak tanpa Santan, tengkleng di Djoglo Solo ini diracik menggunakan santan. Tak heran jika hidangan ini disebut sebagai Gule Tengkleng. Warna kuahnya tak jernih, melainkan nyaris seperti soto betawi yaitu kuning kecokelatan.
Saat menghirup kuahnya yang masih mengepul panas, rasa asin dan gurih santan serta jejak rempah langsung menyerbu lidah. Yang paling saya sukai saat menikmati tengkleng adalah menikmati tulang-tulangnya dengan menggunakan tangan. Hmm... sungguh merupakan kenikmatan tersendiri.

Saat saya sedang asyik menikmati tengkleng, teman saya sudah beralih menikmati Selat Solo. Ya, konon makanan ini merupakan hidangan keraton meskipun namanya mirip dengan 'Salad'. Yang membedakannya Selat Solo dengan saladnya orang bule ini adalah terdapat daging yang mirip bistik atau semur daging plus dengan kuahnya. Pelengkap lainnya berupa daun salada, irisan wortel, buncis, bawang merah dan gorengan kentang yang diris panjang-panjang.

Tak lama kami pun menyerah kekenyangan. Sambil menyeruput segelas jus jeruk dan es dawet yang menyegarkan sambil mengobrol santai ditemani alunan musik karawitan Jawa. Untuk menikmati semua kelezatan hidangan tersebut kami cukup membayar Rp 63.500,00. Nah, tak mahal bukan?

Belum puas rasanya saya menjelajahi kuliner Bintaro. Lain waktu rasanya saya harus kembali kesini, tentunya untuk mencicipi restoran lainnya yang belum sempat saya singgahi!

Djoglo Solo, Restoran & Gallery
Jl. Tegal Rotan No. 52A, Bintaro
Harga: Rp 2.000,00 - Rp 19.000,00
Telp: 021-9829 0704
(dev/Odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads