Jatuh Cinta Pada Hidangan Babah

Jatuh Cinta Pada Hidangan Babah

- detikFood
Selasa, 25 Nov 2008 14:20 WIB
Jakarta - Bakso Akiaw ini kenyal lembut 'full' daging sapi. Mi lamien dari tepung kacang hijau, halus mentul-mentul dengan topping ayam yang gurih abis. Bahkan babat gongso ala Semarang pun, empuk dengan tonjokan rasa cabai yang menggigit. Semuanya ditawarkan dalam suasana etnik peranakan ala babah dan Nyonya tempo doleoe. Mau coba?

Sebuah food court ala peranakan di Jakarta memang belum pernah saya jumpai di Jakarta ini. Tak heran jika saat food court sejenis ini hadir di Jakarta, langsung saja saya penasaran untuk segera mengunjunginya. Akhirnya pada suatu kesempatan, saya dan seorang teman kantor pun menembus kemacetan Mampang dan meluncur menuju bilangan Jakarta Utara.

Saat tiba kami langsung segera menuju lantai 3, Mal Kelapa Gading tempatΒ  Eat & Eat ini berada. Tak jauh di depan eskalator sebuah papan kayu besar bertuliskan 'Eat & Eat Creating Food Adventure' langsung menyapa kami. Tak sia-sia rasanya perjalanan jauh ini, pandangan pertama langsung membuat kami jatuh cinta pada suasana antik yang coba dihadirkan di food court yang bernama 'Eat & Eat Food Market' ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagai berpindah dimensi, kami mengamati setiap sudut yang ditata bak food street ala Singapore. Kesan kuno dan antik yang ditimbulkan sangat kontras dengan suasana mal yang serba modern. Meja dan kursi kayu jaman babah yang jadoel plus dengan pernak-pernik antik ditata alami di setiap sudut. Sangkar burung dari kayu digantungkan tinggi di langit-langit, rantang-rantang, bakoel, dan payung kertas Cina makin menghidupkan suasana jaman para Nyonya dan Babah jaman doloe.

Meksipun berkesan jadoel, namun transaksi di food court ini tidak menggunakan uang tunai melainkan kartu elektronik. Oleh karena itu kami pun bergegas mengisi ulang kartu dengan sejumlah nominal tertentu di kasir yang telah disediakan. "Jika nantinya nominal rupiah masih tersisa nanti bisa ditukarkan kembali dengan uang tunai," ujar sang kasir menjelaskan sebelum saya beranjak pergi.

Setelah menggengam kartu di tangan, kami pun segera mengedarkan pandangan untuk mencari sasaran. Meskipun tergolong baru, tak kurang dari 34 counter makanan tersebar di food court yang cukup luas tersebut. Tak heran jika pilihannya cukup banyak dan hampir semuanya terlihat menggiurkan.

Uniknya lagi setiap counter tidak menggunakan brand restoran tertentu melainkan makanan andalan yang mereka jual. Hmm.. rasanya hal ini jadi memudahkan pengunjung untuk segera menemukan makanan yang mereka inginkan.

Untuk hidangan Indonesia sendiri pilihannya cukup banyak ada Raja Gurami, Nasi Bebek, Nasi Ayam Gg Baru Semarang, Babat Gingso, hingga Tahu gejrot plus rujak asinan yang diracik langsung oleh sang penjual dari gerobaknya. Sedangkan hidangan Malaysia dan China terdiri dari Mee Malaysia, Nasi Hainan Singapore, Hokkien Mee - Tiong Bahru, Carrot cake & Mee Siam, hingga Sekba untuk hidangan non halalnya.

Akhirnya pilihan saya jatuh pada Bakso Akiaw 99 dan semangkuk Es Medan Jely dari counter Fruit Station. Sedangkan teman saya menjatuhkan pilihan pada Mie Lumen Sydney.

Counter Bakso Akiaw 99 cukup ramai. Maklum di Mangga Dua sendiri Bakso Akiaw ini sudah tersohor karena rasanya yang juara. Pilihan bakso Akiaw ini terdiri atas bakso halus sapi, urat, ikan, dan babat. Ketiganya dapat dicampur atau dipesan sendiri-sendiri per porsi dengan tambahan berupa kwetiaw, nasi, atau mie.

Campuran bakso halus dan urat menjadi pilihan plus dengan kwetiaw sebagai pelengkapnya. Bau kaldu yang berasal dari uap kuah bakso sesekali menggelitik hidung selagi kami menunggu antrian hmm... harum! Bakso Kwetiaw ini tersaji dalam dua mangkok terpisah. Yang pertama berisi 8 buah bakso campur (bakso sapi halus & urat) berukuran sedang dengan kuah yang mengepul panas. Sedangkan mangkok lainnya berisi kwetiau dengan topping daun bawang dan bawang goreng yang royal.

Saat kuah kaldu menyatu dengan kwetiaw menciptakan sensasi rasa yang luar biasa. Saat menghirup kuahnya yang panas, rasa gurih tak berlebihan segera mengalir menghangatkan tenggorokan. Jejak bawang putih dan kaldu sangat terasa di lidah. Rasa bakso sapinya sendiri istimewa, teksturnya kenyal lembut dengan rasa daging yang kuat dan tanpa jejak bahan pengawet.

Tak hanya itu, keistimewaan Bakso Akiaw ini juga dapat ditemukan pada kwetiaunya. Mi yang dibuat sendiri ini bertekstur lentur dan lembut. Saat keduanya dipadukan, hmm... slurpp sedap!

Mie Lumen asal Sydney ini mirip dengan mi ayam. Minya kecil-kecil dengan topping berupa suiran daging ayam dan daun bawang. Mie Lumen ini cukup unik karena terbuat dari kacang hijau. Hmm... minya bebas bahan pengawet dan sudah pasti kaya vitamin dan berprotein tinggi. Tekstur mi terasa lembut ketika menyetuh lidah, saat diaduk dengan sedikit sambal yang rasanya pedas manis ini jadi semakin mantap! Nyam nyam!

Sebagai ending, kami menyantap semangkok Es Medan Jely. Es ini terdiri dari campuran sirop dan macam-macam isi seperti selasih, jelly yang berbentuk lucu seperti bintang dan kapal terbang, dan lechy. Rasanya meski tidak begitu istimewa namun cukup menyegarkan.

Untuk kesemua hidangan ini kami cukup mengeluarkan uang sebesar Rp 63.000,00. Harga yang cukup sesuai baik untuk ukuran rasa maupun suasana yang ditawarkan. Lain kali kami pun tak keberatan untuk kembali dan mencicipi hidangan lainnya yang belum sempat kami nikmati.

Eat & Eat Food Market
Mall Kelapa Gading 5, 3rd floor
Jl. Kelapa Gading Boulevard
Jakarta Utara
(dev/Odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads