Tak mudah mencari restoran yang berada di bilangan Rancakendal, Bandung ini. Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit dari pusat kota Bandung sampailah saya di Boemi Joglo. Jalanan berliku dan sempit yang saya lalui sebelumnya sungguh menjadi tak berarti saat Boemi Joglo menyambut kami dengan segala keunikannya.
Bagunan resto terletak di bawah, tepatnya di pinggir bukit sehingga kami harus menuruni tangga berbatu sebelum mencapai bangunan utama restoran. Nuansa alami dan teduh sangat terasa dari rimbunnya pepohonan yang ada di kiri dan kanan area restoran. Hal tersebut membuat kami ingin bersantap di teras pinggir sehingga bisa melihat kehijauan bukit. Namun sayang, ternyata semua pondokan telah terisi penuh, kami pun terpaksa mengambil tempat di bangunan utama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suasana resto terasa sunyi, hanya semilir angin bertiup dari arah teras luar. Daftar menu yang disodorkan membuat perut kami makin keroncongan. Racikan menu Jawa dan Sundanya tidak terlalu banyak tetapi sangat memikat. Sebut saja nasi liwet, sate maranggi, dan tempe mendoan yang menjadi favorit di Boemi Joglo ini.
Karena hari sudah agak siang dan perut sudah lapar maka kami memilih nasi liwet sebagai pilihan utama. Nasi liwet ditawarkan dalam bentuk porsi yaitu untuk dua, empat, atau enam orang. Nasi liwet porsi 4 orang plus lauk tambahan tempe mendoan, sayur asam, sate meranggi, empal, babat, kerupuk dan tahu goreng akhirnya menjadi pilihan.
Sebagai pembuka tempe mendoan yang panas mengepul disajikan di atas piring anyaman lidi beralas daun pisang lengkap dengan cocolannya. Sambal kecap rawit plus jeruk limau. Waduh, tak tahan dengana roma gurihnya maka tempe mendoan yang berbalut adonan tepung ini langsung kami santap. Tepungnya gurih merata, renyah, krenyes-krenyes. Setelah terkena sambal kecap rawit, tempe mendoan yang hangat pun meluncur lancar ke perut kami!
Kalau di Bandung umumnya nasi liwet disajikan dalam kendil aluminium maka di resto ini nasi liwet disajikan dalam clay pot bertutup yang biasa dipakai untuk menyajikan sapo tahu. Saat tutup dibuka, aroma harum gurih nasi langsung menguap. Nasi liwet ini bertopping daun kemangi, irisan ikan asin, cabai hijau, cabe merah, dan bawang goreng. Dimakan saat masih mengepul panas, rasanya gurih dan pulen hmm... sedap nian!
Sebagai pendamping nasi liwet ini sate maranggi dari Purwakarta, disajikan di atas hot plate mengepul panas juga sehingga sate tetap panas. Gigitan pertama langsung terasa empuk lembutnya daging sapi yang berselang-seling dengan potongan lemak. Sate meranggi yang ini tidak memakai balutan kelapa parut sehingga rasanya gurih-gurih manis. Aroma bawang putih dan ketumbarnya tercium lamat-lamat.
Begitu pula dengan empal dan babat yang dibumbu bacem juga empuk, sangat nikmat berpadu dengan nasi liwet dan cocolan sambal terasi. Tahu gorengnya juga disajikan panas mengepul. Tahu Sumedang yang digoreng cantik kekuningan, isinya lembut dan makin enak dicocol dengan sambal kecap rawit. Sungguh makan siang yang menyenangkan!
Apalagi dengan harga yang ditawarkan yaitu Rp 55.000,00 untuk nasi liwet porsi empat orang, Rp 8000,00/buah untuk babat dan daging goreng, Rp 17.000,00 untuk mencicipi kelezatan sate maranggi, dan Rp 7000,00 untuk seporsi tempe mendoan. Pastinya, kalau ke Bandung saya pasti akan kembali ke resto ini!
Boemi Joglo
Jl. Rancakendal Luhur No.17
Bandung
Telp: 022-91121679 (dev/Odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN