PBB Setujui Program Pengantaran Pangan Darurat untuk Daerah Wabah Ebola

PBB Setujui Program Pengantaran Pangan Darurat untuk Daerah Wabah Ebola

- detikFood
Rabu, 03 Sep 2014 16:16 WIB
Foto: Telegraph
Jakarta - Wabah Ebola yang menyerang Afrika Barat selain membahayakan juga keamanan pangan daerah tersebut. Di tengah kelangkaan makanan dan harga semakin naik,FAO menyatakan keadaan ini akan makin buruk.

FAO mengeluarkan peringatan khusus untuk Liberia, Sierra Leone dan Guinea, ketiga negara dengan penderita Ebola terbanyak. Pembatasan yang dilakukan pada pergerakan masyarakat dan terbentuknya zona karantina memicu belanja makanan berlebih, kekurangan sumber daya pangan, dan kenaikan harga.

“Di ketiga negara yang terpengaruh Ebola, situasi pertanian dan makanan sangat buruk. Masyarakat antara tidak bisa membeli makanan atau tidak banyak makanan tersedia,” tutur Vincent Martin selaku kepala FAO di Dakar, Senegal, Afrika.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Produksi beras dan jagung akan menurun selama musim panen bersamaan dengan migrasi dan pembatasan yang menyebabkan tenaga kerja kurang di ladang pertanian. Panen seperti minyak kelapa sawit, kakao, dan karet akan sangat terpengaruh karena banyak keluarga kehilangan pendapatan dan nutrisi karena wabah ini.

Harga singkong di pasar Monrovia di Liberia meningkat hingga 150 persen pada minggu pertama Agustus. Perbatasan ditutup dan pengurangan perdagangan melalui pelabuhan telah mengurangi persediaan makanan di ketiga negara tersebut.

World Food Programme (WFP) dan FAO dari PBB telah menyetujui program darurat untuk mengantarkan 65.000 ton makanan ke 1,3 juta masyarakat yang terserang Ebola selama tiga bulan. Makanan tersebut akan dikirim ke pasien Ebola yang dikarantina dan komunitas di sekitar perbatasan Guinea, Liberia dan Sierra Leone.

Di Liberia yang paling cepat terjangkit wabah dari negara lainnya menyatakan pada bulan Agustus mereka hanya mempunyai persediaan beras untuk satu bulan. WFP menyatakan mereka perlu menggalang dana sebesar $70 juta (Rp 824 Milyar) untuk program darurat ini.

Sebagai tambahannya, FAO juga akan menggalang dana $20 juta (Rp 235 Miliar) untuk membantu populasi yang terisolasi menanam bahan makan mereka.

“Pengantaran makanan ke populasi tidak cukup. Apa yang diajukan oleh FAO adalah bagaimana cara mengembalikan lagi mata pencaharian mereka dan membantu menyediakan peralatan untuk memproduksi bahan makanan dan makanan kaya nutrisi seperti memelihara ayam atau menanam sayur dengan siklus pendek,” tambah Vincent.

(dni/odi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads