FAO mengeluarkan peringatan khusus untuk Liberia, Sierra Leone dan Guinea, ketiga negara dengan penderita Ebola terbanyak. Pembatasan yang dilakukan pada pergerakan masyarakat dan terbentuknya zona karantina memicu belanja makanan berlebih, kekurangan sumber daya pangan, dan kenaikan harga.
“Di ketiga negara yang terpengaruh Ebola, situasi pertanian dan makanan sangat buruk. Masyarakat antara tidak bisa membeli makanan atau tidak banyak makanan tersedia,” tutur Vincent Martin selaku kepala FAO di Dakar, Senegal, Afrika.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga singkong di pasar Monrovia di Liberia meningkat hingga 150 persen pada minggu pertama Agustus. Perbatasan ditutup dan pengurangan perdagangan melalui pelabuhan telah mengurangi persediaan makanan di ketiga negara tersebut.
World Food Programme (WFP) dan FAO dari PBB telah menyetujui program darurat untuk mengantarkan 65.000 ton makanan ke 1,3 juta masyarakat yang terserang Ebola selama tiga bulan. Makanan tersebut akan dikirim ke pasien Ebola yang dikarantina dan komunitas di sekitar perbatasan Guinea, Liberia dan Sierra Leone.
Di Liberia yang paling cepat terjangkit wabah dari negara lainnya menyatakan pada bulan Agustus mereka hanya mempunyai persediaan beras untuk satu bulan. WFP menyatakan mereka perlu menggalang dana sebesar $70 juta (Rp 824 Milyar) untuk program darurat ini.
Sebagai tambahannya, FAO juga akan menggalang dana $20 juta (Rp 235 Miliar) untuk membantu populasi yang terisolasi menanam bahan makan mereka.
“Pengantaran makanan ke populasi tidak cukup. Apa yang diajukan oleh FAO adalah bagaimana cara mengembalikan lagi mata pencaharian mereka dan membantu menyediakan peralatan untuk memproduksi bahan makanan dan makanan kaya nutrisi seperti memelihara ayam atau menanam sayur dengan siklus pendek,” tambah Vincent.
(dni/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN