Wajib Ada di Meja Tamu! Ini 5 Fakta Unik Kue Kering Saat Lebaran
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
Kue kering memeriahkan momen hari raya Idul Fitri sebagai suguhan di meja tamu. Kehadiran kue kering di perayaan lebaran bukan tanpa sebab. Ada sejarah panjang di baliknya.
Tak hanya hidangan berat, momen hari raya Idul Fitri juga dimeriahkan dengan kehadiran kue kering di atas meja. Setiap tahun banyak kue lebaran kekinian yang bermunculan. Namun kue kering jadul atau klasik tetap punya ruang tersendiri bagi masyarakat Indonesia.
Kue-kue kering, seperti nastar, kastengel, hingga putri salju tidak sekadar dijadikan camilan. Kue ini juga kerap menjadi bagian memori masa kecil hingga membangkitkan kembali suasana rumah yang hangat.
Kue kering klasik juga telah menjadi bagian dari tradisi lebaran di Indonesia secara turun temurun. Di balik kehadiran kue lebaran ini, ada sejumlah fakta menarik yang mungkin belum banyak diketahui.
Berikut 5 fakta serta sejarah kue kering lebaran di Indonesia, seperti dilansir dari floweradvisor.co.id (26/1).
1. Pertama kali ditemukan di Persia
Kue kering sebenarnya pertama kali ditemukan di Persia. Foto: Twitter @food_fess/detikFood |
Sebelum datang dan menyebar ke Indonesia, kue kering sebenarnya pertama kali ditemukan di Persia atau saat ini dikenal dengan sebutan negara Iran, Timur Tengah.
Berdasarkan catatan sejarah, kue kering pertama kali ditemukan pada abad ke-7 yang diciptakan secara tidak sengaja.
Penemuannya unik karena awalnya di daerah Persia ada tukang roti sedang menjalankan aktivitas memanggang roti. Dulu proses pemanggangan kue cukup sulit, terutama dalam hal pengaturan suhu oven.
Oleh karena itu, para pembuat kue melakukan trik menentukan suhu tepat pada oven dengan cara menjatuhkan sedikit adonan kue ke dalamnya. Adonan yang jatuh inilah disebut menjadi awal mula terciptanya kue kering.
2. Dikenal sebagai kudapan mewah di Eropa
Di Eropa, kue kering juga termasuk ke dalam golongan kudapan mewah. Awal mulanya kue ini hanya bisa dinikmati oleh kaum bangsawan Eropa. Tetapi pedagang muslim punya andil besar dalam memperkenalkan kue kering ke berbagai negara dunia.
Kue ini disebut-sebut pertama kali disebarkan di Spanyol karena saat itu wilayahnya berhasil ditaklukan oleh penguasa muslim.
Seiring berjalannya waktu, kue ini tidak hanya menjadi kudapan anggota kerajaan atau bangsawan, tetapi juga bisa dinikmati oleh rakyat biasa.
3. Produksi yang dikontrol
Awalnya produksinya juga hanya rumahan lalu diberikan ke asosiasi profesional. Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi |
Awalnya pembuatan kue kering juga hanya berskala industri rumahan yang dihasilkan dari berbagai jenis resep.
Kemajuan teknologi pada abad ke-17-19 lalu mendorong pengusaha kue untuk memproduksi kue kering secara besar-besaran. Pembuatan kue juga mulai dikontrol hati-hati oleh asosiasi profesional.
Penyebaran kue kering pun meluas, hingga dijadikan kudapan wajib pada perayaan di Eropa maupun Amerika.
4. Masuknya kue kering ke Indonesia
Kue putri salju menjadi salah satu kue kering populer di Indonesia. Foto: Getty Images/ROHE Creative Studio |
Keberadaan kue kering dalam kehidupan masyarakat Indonesia juga sudah sangat lama.
Pertama kali kue ini masuk pada zaman kolonial Belanda. Jenis kue yang diperkenalkan pada saat itu adalah kue nastar.
Nastar sendiri diambil dari kata belanda 'ananas' yang artinya nanas dan 'taart' yang artinya pai atau tart. Jadi secara keseluruhan, nastar diartikan sebagai tart nastar.
Tetapi awal diperkenalkan, isian kue nastar bukanlah nanas, melainkan blueberry. Inovasi lalu muncul ketika masyarakat kesulitan menemukan blueberry di Indonesia. Oleh karena itu, diganti menjadi nanas.
5. Adaptasi dengan cita rasa lokal
Lama kelamaan masyarakat Indonesia mulai mengadaptasi kue kering tersebut. Mereka memadukan teknik Eropa dengan bahan dan selera lokal hingga lahirlah beberapa kue lebaran yang sangat identik dengan Indonesia.
Mulai dari kue nastar yang berbahan dasar adonan mentega dengan isian nanas melimpah. Ada juga putri salju yang berbentuk bulan sabit dengan taburan gula halus di atasnya.
Kue lebaran juga tidak hanya menjadi hidangan. Seiring berkembangnya waktu, kue ini juga dijadikan simbol menyambut tamu.
Tradisi penataan kue lebaran dalam stoples selama merayakan hari raya juga sudah mulai populer pada abad ke-20. Kue kering juga sering dipilih karena tahan lama dan praktis untuk disajikan selama beberapa hari.
(aqr/adr)
-
TelurResep Semur Telur dan Tahu ala Betawi, Menu Ekonomis yang Sedap
-
Minuman3 Resep Es Campur Spesial untuk Buka Puasa, Segar dengan Isian Melimpah
-
Tahu dan TempeResep Martabak Tahu Kulit Lumpia yang Renyah dan Isiannya Gurih
-
AyamResep Soto Ayam Semarang Berkuah Bening Segar untuk Sahur



