Kumandang takbir ba’da Ashar di Masjid dekat rumahku mulai terdengar, subhanallah sungguh ini suatu momen yang paling menyenangkan. Betapa tidak, setelah berpuasa sebulan penuh akhirnya hari kemenangan pun tiba. Dan di sore yang menyenangkan ini, aku masih sibuk berkutat di dapur bersama ibu. Rencananya kami mau masak sop kimlo untuk dihidangankan di lebaran nanti. Sudah tahu kan apa itu sop kimlo? Sebenarnya bumbu kuahnya sama saja seperti membuat sop ayam atau soto pada umumnya. Bedanya, sop yang satu ini lebih terasa segar dan juga disajikan bersama jamur, telur puyuh, pentol dan sosis ayam. Membayangkannya saja, perutku sudah lapar. Aku tidak sabar menunggu besok!
Setelah mengiris wortel dan seledri, aku pun istirahat sejenak. Maklum, sudah sejak pagi tadi aku membantu ibu masak. Ibu mengajakku untuk shalat Ashar berjamaah, baru kemudian melanjutkan masak “biar masakan kita diridhoi Allah, kita harus disiplin shalat,” canda ibu padaku saat kami hendak mengambil air wudhu. Setelah shalat, ibu dan aku melanjutkan memasak, kali ini ada bapak yang ikut serta membantu. Sebenarnya bapak tidak mahir memasak, hanya saja bapak ini paling jago membuat lontong ketupat. Memang, membuat lontong dengan memakai daun janur sebagai pembungkusnya memang lebih merepotkan daripada menggunakan plastik transparan. Tapi, penggunaan plastik transparan itu berdampak buruk bagi kesehatan. Kebetulan aku mengambil jurusan kimia di universitas negeri di kota Palangka Raya, aku sudah mengetahui bahayanya benda elastis itu. Jadi, aku selalu mengingatkan bapak ibuku untuk tidak mengkonsumsi lontong yang menggunakan plastik.
Alhamdulillah, menjelang maghrib semuanya sudah beres, tinggal ketupat saja yang masih ‘proses’. Iseng-iseng, aku coba mengabsen bahan-bahan sop kimlo. Ada jamur kuping, kembang tahu, wortel, bunga sedap malam, pentol, sosis, makroni lidi, mi sohun, telur puyuh, irisan daun seledri dan suiran ayam. Tidak ketinggalan, sepanci besar kuah sopnya juga sudah mengepul dari tadi. Apalagi ibuku yang sangat jago masak ini sudah mencampur rempah-rempah lezat ke dalam sop kimlo. Wah dijamin deh, semangkuk sop kimlo ini bisa bikin kita puas dan kenyang seharian!
Keesokan harinya usai shalat Ied, rumah kami bak restoran baru buka. Ada sanak saudara dan tetangga dekatku menyerbu hadir, niatnya sih mau silaturrahim sekalian sarapan. Aku, kakak dan ibuku langsung membuatkan sop kimlo dan es jeruk. Awalnya sih mereka ribut mengobrol di ruang tengah sembari mencicipi kue-kue lebaran, tapi setelah disuguhi semangkuk sop kimlo hangat dan es jeruk segar, obrolan pun langsung terhenti. Kami semua pun makan dengan lahapnya, sesekali terdengar komentar dari budeku, “wah enak sekali sopnya, lengkap lagi isinya!” komentarnya, “jangan lupa tagihannya ya” celetukku kemudian. Mendengar itu, semua pun tertawa.
Ya, seperti itulah lebaran di keluarga besarku. Kami keluarga Jawa, memang paling suka menjadikan sop kimlo sebagai hidangan utama saat lebaran. Selain berkuah dan segar, makanan ini memang paling cocok disantap beramai-ramai seperti ini. Dan sekali lagi, sop kimlo berhasil menghangatkan lebaran kami.
(gls/gls)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN