Jakarta - Seperti biasa, saya selalu merayakan lebaran bersama keluarga di Bandung. Di hari terakhir puasa, makanan favorit khas lebaran telah siap tersaji. Menunya apalagi kalo bukan gudeg, opor ayam, brongkos, sambal goreng hati dan ase cabe hijau. Semuanya gurih berkat santan yang berlimpah. Karena saya tidak begitu doyan makanan bersantan, maka satu hal yang paling saya tunggu-tunggu adalah saat silaturahmi setelah shalat Idul Fitri. Karena pada saat itu tetangga sebelah akan datang bersalam-salaman sambil membawa semangkuk besar rujak cuka buatan sendiri untuk keluarga saya. Rujak cuka khas Bandung yang terbuat dari irisan kol, ketimun, tauge, bangkuang dan nanas yang disiram dengan saus encer berwarna merah perpaduan dari cabe rawit merah, gula pasir, garam dan cuka yang diuleg kasar dengan taburan kacang goreng di atasnya. Rasanya yang asam segar menghilangkan sisa eneg dari menu lebaran.
Sedihnya, beberapa hari setelah lebaran usai, tetangga saya meninggal dunia karena sakit.
Entahlah, apakah di lebaran tahun depan akan dapat kiriman rujak cuka lagi....
(gls/gls)