Email: diasya[at]xxx.com
Suasana pasar tradisional seperti Pasar Mayestik memang mulai jarang ditemukan di ibu kota. Tetapi jika Anda ingin bernostalgia sekaligus menikmati jajanan kuliner yang menggiurkan seperti mi kondang 'Sakidjan'. Nah, berkunjung ke Pasar Mayestik bisa jadi pilihan!
Bangunan Pasar Mayestik, Jakarta Selatan ini sudah berusia kurang lebih 30 tahun. Disana Anda akan menemukan lorong-lorong yang dipenuhi oleh beragam pedagang yang menawarkan berbagai barang dan jasa mulai dari ikan dan sayur segar, sandal jepit, serbet, seragam, perhiasan emas, jasa jahit-menjahit sampai jasa membuat piala.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di lantai 2 kios no 33-34, ada tempat makan favorit bila saya bila berkunjung ke pasar ini, yaitu kedai Mie Kondang Sakidjan dan Kios Es Remaja Bang Udin. Kedua kedai ini berada di tengah belantara kios penjahit dan perhiasan emas. Di kedai ini saya biasa melepas lelah, rasa lapar, dan dahaga setelah berkeliling berbelanja.
Kedai mie dan es yang letaknya saling berdampingan ini telah ada sejak saya duduk di bangku SMP, yaitu sekitar 20 tahun lalu. Keadaan dan dekor kedai ini tidak berubah dari tahun ke tahun, tetap dengan dinding triplek dan dilengkapi dengan jajaran meja dan bangku panjang yang terbuat dari kayu.
Menu yang ada saat ini juga tidak berbeda dengan yang ditawarkan 20 tahun lalu, yaitu mie ayam bakso dan pangsit. Sedangkan Kios Es Remaja Bang Udin tetap mengandalkan es campur sebagai menu utama. Siang itu saya memesan mie ayam komplit (dilengkapi dua butir bakso dan beberapa potong pangsit goreng) dan es campur.
Sambil menikmati mie ayam dan sesekali mencungkil dan menyeruput manis dan segarnya es campur, saya mengamati para pelanggan di kedai itu. Seperti biasa kedai mie dan es ini selalu dipenuhi pelanggan pada jam makan siang. Mayoritas pelanggan adalah kaum hawa, tepatnya para ibu yang berbelanja di Pasar Mayestik. Ada juga beberapa karyawan yang bersantap siang di sana.
Untuk makanan dan minumannya sendiri saya nilai cukup enak untuk ukuran kedai mie dan es. Untuk menu mie ayam, kuahnya bening dan terasa kaldunya. Baksonya empuk dan terasa dagingnya. Pangsit gorengnya renyah dan tidak terasa apek. Potongan tumisan ayamnya pun gurih dan banyak dagingnya, tidak seperti di beberapa kedai mie lain yang lebih banyak menyajikan potongan kulit yang saya tidak begitu suka. Pantas saja konon Pak SBY pun menyukai mi yang satu ini.
Untuk es campurnya, potongan buah alpukat dan kelapa mudanya cukup royal. Ditambah kolang-kaling, cincau hitam, sirup merah, dan guyuran susu kental manis, semuanya bercampur menjadi suguhan yang manis dan menyegarkan. Semangkuk mie ayam komplit dihargai Rp 10.000,00 dan untuk semangkuk es campur anda cukup membayar Rp 4.500,00. Satu hal lagi yang membuat saya gemar berkunjung ke kedua kedai ini adalah keadaan kedai yang cukup bersih.
Selama saya menyantap makan siang saya saat itu, tidak ada lalat yang mengganggu. Tapi memang keadaan kedai yang berada di dalam gedung tanpa mesin pendingin, cukup membuat para pelanggan berkeringat karena kegerahan. Tapi jangan gentar, nikmatnya sajian kedai Mie Kondang Sakidjan dan Kios Es Remaja Bang Udin dan seronoknya pengalaman berbelanja di Pasar Mayestik tetap membuat orang kembali ke sana termasuk saya.
Mi Kondang 'Sakidjan'
Lantai 2, Pasar Mayestik
Jakarta Selatan
(dev/Odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN