Catatan Bondan Winarno

Jakarta Kota Pantai?

- detikFood Kamis, 03 Apr 2008 16:10 WIB
Jakarta - Siapa sih warga Jakarta yang sadar bahwa sejatinya Jakarta adalah kota pantai? Maklum, sebagian besar pantai Jakarta yang bagus sudah di-claim oleh perusahaan pengembang dan tidak dapat dimasuki warga kota kecuali bersedia membayar dengan karcis yang cukup mahal.

Belum lama ini saya berada di Turki dan singgah ke dua kota pantai yang indah: Istanbul yang dibelah Selat Bosphorus, dan Izmir di pantai Laut Aegea. Pantai-pantainya sangat indah. Seluruh pantai dipersembahkan untuk kepentingan dan kenikmatan warga kota. Tidak ada lahan di tepi pantai yang dipatok untuk kepentingan komersial, kecuali memang kavling-kavling yang sudah sejak zaman dulu dipakai sebagai kawasan hunian maupun bangunan bersejarah.

Di setiap distrik di Istanbul dan Izmir, dibangun taman-taman tepi pantai. Pada musim semi seperti sekarang ini, bunga-bunga tulip bermekaran dengan cantiknya. Tidak ada karcis masuk. Biaya parkir mobil pun tidak seberapa. Bangku-bangku taman terjaga dan terawat bersih. Begitu juga fasilitas toilet umum tanpa bayar yang bersih, kering, dan tidak berbau.

Yang paling mengesankan saya adalah tersedianya berbagai alat fitness untuk umum yang tersedia di taman-taman kota itu. Kalau di berbagai taman kota biasanya kita melihat alat-alat permainan untuk anak-anak, di Istanbul dan Izmir juga tersedia 'mainan' untuk orang dewasa berupa alat-alat fitness ini. Bagusnya lagi, semuanya terawat dan dapat dipergunakan. Tidak ada yang rusak!

Alangkah dimanjakannya warga kota Istanbul dan Izmir dengan taman-taman umum di tepi pantai. Di luar taman, selalu ada penjual minuman dan makanan yang tertata rapi untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang sedang berpelesiran.

Izmir bahkan mempunyai promenade cantik di sepanjang pantainya. Namanya Ataturk Caddesi. Tetapi, lebih dikenal dengan sebutan Kordon, karena ia memang mirip cordon alias pita indah yang menghiasi tepian pantai.

Ketika pertama kali berkunjung ke sana dulu, saya seakan mengalami deja vu - seolah-olah saya sedang berada di Nice, kota pantai indah di Prancis Selatan. Tidak heran pula bila orang menjulukinya sebagai 'The Riviera of the East'.

Di sepanjang Kordon, terdapat restoran-restoran dan butik-butik asri. Beberapa restoran di situ bahkan punya reputasi internasional. Kebanyakan menghidangkan masakan seafood. Contohnya adalah 'Deniz' yang selalu memenangi berbagai medali kuliner.

Pengelola kedua kota itu jelas menunjukkan keberpihakannya pada rakyat umum. Bukan kepada segelintir warga negara yang mampu membayar berapa pun untuk secara eksklusif menikmati anugrah alam. Hal yang sama juga kita rasakan di negara-negara maju Eropa dan Amerika.

Di semua negara maju kita juga melihat tata kota yang tidak mengizinkan pihak swasta atau perorangan meng-claim kawasan pinggir pantai. Di Portofino, San Remo, Nice, Cannes, San Francisco, Singapura, dan lain-lain, hotel-hotel tidak langsung berada di bibir pantai. Selalu ada bagian pantai yang dapat dilewati masyarakat umum tanpa bayar atau minta permisi.

Mengapa kita warga Jakarta merasa tidak mempunyai pantai?

Sambil mengenang almarhum Prof. Dr. Otto Sumarwoto yang baru saja meninggalkan kita, saya ingin mengulangi imbauan beliau. Pak Otto selalu mengingatkan para pejabat Pemerintah agar mengubah orientasi pikiran dari darat ke laut. "Sudah terbukti orientasi darat yang dilakukan rezim Presiden Soeharto salah, kok kita mengulanginya lagi sekarang?" tanya beliau.

Pikiran Pak Otto itu sama persis dengan pikiran almarhum Jenderal TNI Soemitro semasa hidupnya. "Saya memang orang Angkatan Darat. Tetapi, kalau kita tidak berorientasi ke laut, Angkatan Darat kita ini tidak akan berarti apa-apa. Terlalu besar beban untuk mempertahankan kedaulatan negara dari darat bila laut kita menganga tak terkawal," begitu kata-kata beliau yang selalu saya ingat.

Jangankan laut! Masyarakat kita pun terbukti tidak menghargai sungai. Buktinya, sungai di Indonesia selalu menjadi tempat sampah – dari hulu sampai ke hilir. Perhatikan juga tata letak rumah-rumah di tepi sungai. Bukankah kebanyakan rumah justru diletakkan membelakangi sungai? Agar sungai langsung menjadi jamban mereka?

Saya curiga para pejabat DKI pun tidak memikirkan laut dan sungai sebagai elemen keindahan. Orientasi mereka selalu pada tanah – terra firma. Kalau Manila saja sudah mampu membersihkan sungai di dalam kota, di Jakarta sungai baru mendapat perhatian ketika banjir melanda.

Mana ada sungai di Jakarta yang dikelola kebersihan dan keindahannya? Mana ada riverside park yang ditata asri di Jakarta? Bahkan, salah satu hambatan terbesar bagi gagasan penataan ulang 'Jakarta Old Town Kotaku' justru adalah Kali Besar yang jorok dan bau.

Di masa lalu, para noni dan sinyo berpelesiran ke Cilincing dengan Yacht Club-nya yang merupakan tempat dansa-dansi seronok. Sekarang? Siapa yang mau pelesiran ke Cilincing? Eh, ngomong-ngomong, di mana sih Cilincing itu?

Di masa lalu, ketika bagian pantai Pantai Impian Jaya Ancol masih dikenal sebagai Pantai Bina Ria – sekalipun ada kesan negatif bila keluyuran di sana di malam hari – setidaknya warga Jakarta masih punya pantai yang murah untuk dikunjungi.

Saya tidak bersikap kritis terhadap PT. Pembangunan Jaya yang telah membangun Ancol sedemikian rupa hingga menjadi tempat pelesiran yang lumayan bagus bagi warga kota. Yang saya tuntut adalah visi dari pengelola Kota Jakarta untuk menyediakan taman-taman publik di tepi pantai yang gratis, indah, aman, dan menyenangkan bagi warga kotanya yang penat. Tidak sadarkah mereka bahwa hidup di Jakarta ini sangat stressful?

Pihak swasta pun dapat ikut serta dalam inisiatif ini, khususnya bagi warga kota yang memang punya uang untuk membayar kebutuhan rekreasi mereka. Baru-baru ini di Ancol ada sebuah tempat makan-minum bernama 'Segarra' yang cukup saya sukai. Tempat itu benar-benar menempatkan laut sebagai elemen artistik utama.

Memang, 'Segarra' belum setara dengan 'ku-de-ta' di Legian, Bali, tetapi not bad, lah! Kita membutuhkan puluhan – bila tidak ratusan – tempat semacam 'Segarra' itu sebagai fasilitas rekreasi warga kota.

Barangkali, ya barangkali, bila banyak tersedia taman-taman indah di tepi pantai, akan banyak anak-anak Indonesia yang berpikir maju bahwa laut adalah sumber daya yang penting bagi bangsa. Maklum, generasi pemimpin yang sekarang kan kurang memikirkan hal itu?

(dev/Odi)