Sekitar tahun 1990 an resto-resto di Amerika mulai dihinggapi trend baru, konsep 'open kitchen' alias dapur terbuka. Tak ada lagi rahasia dapur, chef akan memasak langsung di tempat terbuka, yang bisa dipelototi oleh pelanggan. "Makanan bisa disajikan lebih cepat, lebih segar, lebih efisien waktu," demikian tutur Abrarnowitz, pemilik CafΓ© Society, New York yang memakai sistem 'open kitchen' tahun 1987.
Dengan gencarnya globalisasi maka sepuluh tahun belakangan ini hampir semua resto di Jakarta juga menganut konsep yang sama. Kalau dulu hanya sushi bar atau shushiya yang berani tampil di depan pelanggan kini hampir semua resto. Dari bakmi, ayam bakar sampai cafΓ© di hotel berbintang. Padahal kalau mau jujur sebenarnya para tukang gado-gado, ketoprak dan bami ayam dorongan lebih dulu memanjakan konsumen dengan sistem racikan terbuka di depan pelanggannya. (Ini masih ditambah embel-embel pesan 'tambah saus', 'tambah cabai', 'tambah lontong'.)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada tanggal 8 Desember yang lalu, di suatu malam yang dingin, hotel Mulia Senayan Jakarta meresmikan pengoperasian 'The CafΓ©'. CafΓ© seluas 1700 m2 di lantai dasar ini menggenapi jumlah cafΓ© yang sejenis di Jakarta tahun 2007 ini. Konsep AYCE alias All You Can Eat atau makan sekenyangnya merupakan konsep yang dianut oleh cafΓ© hotel-hotel berbintang.
Tak hanya konsep AYCE tetapi konsep menu global juga menjadi acuan untuk meraih pelanggan. Keragaman menu menjadi andalan utama. Makanan Eropa, India, Cina, Italia, dan Indonesia disajikan secara prasmanan di dapur terbuka. Bahkan jamu segar racikan penjual jamu gendong juga bisa dipesan. Mau beras kencur, kunyit asem, ngeres linu atau singkir angin? Tinggal sebut saja, si mbok peracik bakal mengantar ke meja Anda.
Malam itu sayapun memanjakan lidah dengan sepotong kecil tempe mendoan, sepotong salmon sushi, plus sepotong kecil foie gras dari Prancis yang dibalut gulali sebagai sajian pembuka. Dari Asian kitchen aroma bawang putih menebar harum, diikuti aroma bebek Peking, ayam panggang dan kaldu ayam yang mengepul. La mien, mi segar dipilin langsung di depan mata. Sementara di seberang aroma rempah chicken tandoori menusuk hidung. Ada roti prata, roti pita, nasi briyani plus kari kambing. Akhirnya sepotong ikan halibut asap dari laut Pacific, salmon asap dari Norwegia, belut asap dan kakap asap dari Jepang menjadi pilihan kedua saya untuk saya nikmati dengan saus tartar dan capers.
Kalau menurutkan mata, ada aneka pasta yang diracik sesuai keinginan di bagian western food. Belum lagi rosted beef dan baked lamb chops dengan mashed potatoes yang lembut. Sebagai pengiring makan, ada beragam jus, kopi, teh hingga aneka wine tersedia di bagian minuman. Untuk pencuci mulut, di sudut agak jauh di seberang terdapat lemari kaca dengan aneka kue-kue dan cokelat. Sebut saja aneka buah di dunia, aneka cake tersohor (black forest, opera cake, truffle cake, tiramisu, sacher torte, dll) dan cokelat praline paling enak, semuanya ada. Bahkan kalau sedang nyidam es doger, es puter dan es dawet, semuanya komplet tersedia.
Rupanya malam itu setelah menikmati aneka ikan asap saya hanya sanggup menutup dengan 2 buah chocolate praline dan segelas kecil fruit cocktail! Untuk menghadirkan semua hidangan global, seperti hotel berbintang lainnya The CafΓ© juga mengusung 5 orang chef mancanegara.
Urusan global bukan hanya pemanasan bumi tetapi juga urusan perut. Pendeknya jika mau, tak usah jauh melanglang dunia, semua makanan dari belahan dunia pun tersedia tanpa batas. Bisa dinikmati sesuka hati, bahkan dalam waktu bersamaan. Jadi lambung yang mungil dan mulur bagai karet bisa saja diisi dengan la mien dari Hongkong, salmon dari Norwegia hingga chicken tikka dari India. Jika perut tanpa batas maka tinggal selera, mata dan dompet yang bicara.
Dengan satu harga makan sepuasnya Anda pun tak bakal bisa melahap semua jenis makanan yang disediakan. Akhirnya selera yang akan menjadi filter. Yang terakhir tentu saja harga. Bicara soal harga, kalau dihitung-hitung dengan petualangan kuliner yang asyik, efisien waktu dan kelezatan, sepertinya harga antara Rp. 139.000,00 β Rp. 230.000,00 plus pajak relatif murah. Mengingat tak ada ongkos transpor melintasi benua, dan tak perlu antri lagi! Soal keaslian bahan-bahan makanan tak usah khawatir, hampir semua hotel berbintang mendatangkan bumbu dan bahan asli dari negara asalnya. Dengan makin majunya alat transportasi maka tiram segar dari Washington bisa sampai Jakarta dalam hitungan jam. Nah, apakah Anda siap mengglobalkan perut? (dev/)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN