Pariwisata Indonesia (di Malaysia!)
Rabu, 07 Nov 2007 10:59 WIB
Jakarta - Awal tahun 2007 ini, di harian nasional terbesar, kita melihat iklan dua halaman mengundang orang Indon (istilah Malaysia yang agak pejorative terhadap orang Indonesia) berwisata ke Malaysia. Iklan peluncuran akbar Visit Malaysia Year 2007 itu memuat kalender acara yang patut dikunjungi di Malaysia antara Januari-Desember 2007. Iklan itu setidaknya membuktikan bahwa negeri jiran tetangga kita ini paham betul sebuah pemeo yang berbunyi: if you give peanuts, you get monkeys. Malaysia mengundang kaum berduit Indonesia - bukan mereka yang cuma menyandang ransel - untuk membelanjakan rupiahnya di Malaysia. Memang, orang-orang Indonesia yang bertandang ke Malaysia kebanyakan tinggal di hotel berbintang, belanja puas-puas di Suria KLCC, makan-makan di restoran-restoran bagus, serta memeriksakan kesehatan di rumah-rumah sakit modern.Di setiap kantung kursi pesawat MAS, terdapat satu brosur yang boleh dibawa pulang, berisi keterangan lengkap tentang kalender acara Visit Malaysia Year 2007 itu. Lagi-lagi, penempatan sumber informasi yang tepat untuk menjaring potensi wisatawan.Malaysia tampak tidak canggung dan tidak tanggung-tanggung dalam meluncurkan program pariwisatanya. Kalau memakai istilah tokoh iklan dunia David Ogilvy: go the whole hog! Malaysia tahu benar bahwa pariwisata adalah sektor ekonomi penting bagi bangsa yang dinikmati oleh para pemodal maupun pengusaha kecil. Hukum ekonomi yang berlaku: it takes money to make money.Pada tahun 2005, statistik resmi Malaysia menyatakan kedatangan 16,5 juta wisatawan asing ke Malaysia. Diperkirakan jumlah wisatawan asing mencapai 18 juta pada tahun 2006, dan u2013 dengan gelaran Visit Malaysia Year 2007 ini u2013 pasti jumlahnya akan melebihi 20 juta pada 2007. Yang patut diacungi jempol adalah upaya Malaysia menyiapkan warga masyarakatnya sendiri untuk menyambut para tamu yang diundang pada tahun 2007. Menurut saya, ini justru ihwal yang paling penting. Pada akhir tahun 2006, media-media nasional Malaysia memuat iklan satu halaman untuk mengimbau warga Malaysia bersikap ramah kepada para tamu bangsa. "Go out of your way," begitu imbauan iklan itu, "to make our guests feel at home."Β Β Β Β Kultur PariwisataSejak tahun 2000, kedatangan wisatawan asing di Indonesia berkisar pada angka lima juta per tahun. Laporan BPS bahkan menyebut bahwa selama September-Oktober 2006 terjadi penurunan jumlah turis asing. Ini memang gambaran yang menyedihkan. Tetapi, sedih belaka tidak akan mengubah kondisi.Menurut saya, bagian terpenting yang belum disiapkan di Indonesia adalah membangun kultur pariwisata. Setiap pelancong tahu bahwa bila di bandara utama mereka disambut oleh pengemudi taksi gelap, maka mereka sedang berada di negara yang kurang aman. Tetapi, mengapa di Bandara Soekarno-Hatta pemandangan sehari-hari ini tidak dibasmi? Bukankah masih banyak pula pengemudi taksi kita yang mengambil keuntungan dari para turis dengan berbagai cara? Apakah para pengemudi taksi sudah diberi bekal basic courtesy dan basic English untuk melayani para wisatawan?Saya pernah terpaksa memarahi seorang penjual rokok di tepi Jalan Jaksa, Jakarta Pusat, yang menggoda dua orang wisatawan perempuan dengan keusilan yang berlebihan. Saya tanya kepadanya: siapa saja pembeli rokok di kios ini? Jawab: kebanyakan pembeli adalah turis. "Kalau begitu, turis yang baru Anda ganggu itu adalah matapencaharian Anda. Jangan diganggu, dong. Berbuatlah ramah, supaya mereka akan memberitakan keramahan bangsa ini dan mengajak teman lainnya berwisata ke sini."Hal-hal seperti itulah yang di-address dengan baik oleh Kementerian Pariwisata Malaysia. Bila turis tidak merasa aman dan nyaman berada di satu negara, akankah mereka datang kembali? Akankah wisatawan merekomendasikan kepada teman mereka untuk datang ke negara itu?Prinsip Pemerataan UsangTidak mudah memasarkan pariwisata Indonesia. Tetapi, juga tidak sulit-sulit amat. Hal pertama yang harus dilakukan adalah pemetaan terhadap kondisi umum sumber daya pariwisata Indonesia, serta hal-hal yang memengaruhinya.Setelah Tragedi Bom Bali 1, yang kemudian disusul dengan Tragedi Bom Bali 2, saya berpendapat bahwa sebaiknya Pemerintah memfokuskan perhatiannya pada upaya menggalakkan wisata nusantara. "Pasar"-nya sudah ada di sini, tinggal mengarahkan dengan tepat dan baik. Untuk memasarkan wisatawan nusantara, strategi multi-destinasi dapat ditempuh. Harus pula ada strategi komunikasi dan pengemasan produk yang tepat agar kaum berduit Indonesia tidak hanya ingin pergi ke Santorini, tetapi juga ingin berlibur menikmati indahnya pasir putih di Bintan Lagoi.Pilihan itu - sasaran wisatawan nusantara atau wisatawan mancanegara - tidak pernah tegas diambil. Terlihat dari strategi yang tidak jelas dalam penerapan. Dengan keterbatasan yang ada, saya bisa memahami bila di bursa pariwisata internasional, kios Pariwisata Indonesia lebih kecil dan lebih "redup" dibanding kios Fiji - negeri yang jauh lebih kecil. Tetapi, justru dengan keterbatasan anggaran maka strategi terfokus harus menjadi pilihan. Demi prinsip pemerataan yang dihidupkan pada masa Orde Baru, kita selalu berusaha menjual produk pariwisata multi-destinasi u2013 ya Bali, ya Toraja, ya Danau Toba, ya Bunaken, ya macam-macam. Strategi seperti ini hanya dapat dilaksanakan bila anggarannya kuat.Memang, memilih salah satu destinasi unggulan untuk dipasarkan secara terfokus akan membuat Pemerintah dituding sebagai "menganakemaskan" satu provinsi. Tetapi, apa boleh buat? Anak emas bukanlah strategi yang salah untuk mencapai satu tujuan. By trying to achieve so many things at once, we might end up getting nothing!Ya, Indonesia memang masih tertinggal dalam menggarap sektor pariwisata, sekalipun kita punya sumber daya pariwisata yang jauh lebih unggul. Ya, Indonesia memang masih belum punya kultur melayani tamu dengan ramah. Ya, pesawat yang kita terbangi mungkin akan hilang. Ya, kapal yang kita tumpangi mungkin akan tenggelam. Ya, kereta api kita mungkin akan bertabrakan atau anjlok.Tetapi, saya tetap seorang putra Indonesia yang bangga akan bangsanya. Kalaupun sesekali saya pergi ke luar negeri untuk urusan pekerjaan dan liburan, saya tetap tidak bosan-bosan untuk lebih banyak berwisata di Indonesia - dengan moda transportasi dan sarana pariwisata yang dioperasikan oleh putra Indonesia.I love Indonesia!
(dev/Odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN