Apa Benar Makanan Sehat Bisa Membuat Anak Kurang Suka Fast Food?

Lusiana Mustinda - detikFood Rabu, 03 Feb 2016 19:39 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Para professor dari Ohio State, melakukan penelitian menarik tentang pola makan anak. Ada anggapan, ​konsumsi ​makanan sehat secara alami dapat turunkan kebiasaan makan sehat. Tapi benarkah?

Tim peneliti yang dipimpin oleh Sarah Anderson, seorang professor epidemiologi, menemukan bahwa anak-anak prasekolah yang tinggal di daerah berpenghasilan rendah di Colombus, secara teratur mengonsumsi buah dan sayur setiap hari. Tapi mereka tidak selalu menolak makanan manis dan makanan cepat saji.



Gail Kaye, asisten professor dari Clinical Public Health mengatakan, terkadang diet bisa dievaluasi dengan menggunakan skor gabungan yang memadukan berapa banyak makanan sehat dan tidak sehat yang dikonsumsi seseorang.

"Aspek sehat dan tidak sehat dari diet anak mungkin berubah jadi independen dari satu dan lainnya. Asumsi bahwa perilaku makanan sehat akan mengganti perilaku makan yang tidak sehat ini ternyata tak sepenuhnya berjalan,” jelas Kaye yang dilansir dalam The Lantern (02/02).

Untuk penelitian ini, 290 orangtua dan wali dari 357 anak-anak prasekolah diwawancara. Orangtua dan wali diminta untuk menunjukkan konsumsi anak-anak dari berbagai jenis makanan dalam seminggu terakhir.



Buah, sayuran dan susu dikategorikan sebagai makanan sehat. Sementara minuman manis, makanan cepat saji camilan manis dan asin dianggap sebagai makanan tidak sehat dari diet anak-anak.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir separuh anak-anak mengonsumsi buah dua kali atau lebih dalam sehari. Lebih dari sepertiga dari mereka makan sayuran beberapa kali sehari dan sekitar 96 persen minum susu setidaknya sekali sehari.

Namun, hanya 33 persen anak-anak dalam studi yang tidak mengonsumsi minuman manis seperti soda. Dan 29 persen yang tidak konsumsi makanan cepat saji. Sebagian besar anak-anak makan camilan asin dan manis setiap hari. Kaye mengatakan, tim peneliti masih menguji hipotesis dalam sampel yang jauh lebih besar.

"Kami melakukan penelitian di Colombus dengan sampel yang sangat kecil. Sehingga kami akan melihat apakah jenis penelitian yang sama dengan sampel yang lebih presentatif dari anak-anak AS akan menghasilkan hasil yang sama atau tidak," kata Kaye.

Sedangkan Carol Smathers, asisten professor dari Public Health mengatakan bahwa jika kesimpulan tidak berlaku, orangtua perlu mengambil dua pendekatan untuk mengatasi obesitas anak-anak yang berfokus pada pendidikan gizi dalam memilih "makanan yang baik" dan tidak memilih "makanan tidak sehat."

"Sebuah penekanan yang lebih besar mungkin perlu dengan menghilangkan makanan dan minuman tidak sehat dari lingkungan anak-anak,” tutup Smathers.

(msa/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com