Hati-hati, Konsumsi Pizza Bisa Tambah Asupan Kalori, Lemak, dan Garam Berlebih pada Anak

Hati-hati, Konsumsi Pizza Bisa Tambah Asupan Kalori, Lemak, dan Garam Berlebih pada Anak

- detikFood
Rabu, 21 Jan 2015 19:29 WIB
Foto: Getty Images
Jakarta - Di Amerika Serikat, pizza adalah salah satu kontributor terbesar dalam makanan anak. Hal ini perlu dicermati. Sebab, menurut studi di jurnal Pediatrics, mengonsumsi pizza menambah kalori dan lemak ekstra pada rata-rata anak.

Lisa M. Powell dari School of Public Health, University of Illinois at Chicago, AS beserta rekannya menganalisis data National Health and Nutrition Examination Survey. Mereka mengambil sampel nasional anak-anak berusia 2-19 tahun pada tahun 2003-2010.

Anak-anak dan remaja ini disurvei soal makanan yang mereka konsumsi pada 24 jam sebelumnya sebanyak dua kali dalam periode 10 hari. Khusus anak-anak, orang tua merekalah yang menjawab pertanyaan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Survei pada 2009-2010 menunjukkan bahwa 20% anak-anak dan 23% remaja memakan pizza pada hari tertentu. Di hari mereka menyantap pizza, anak-anak mengonsumsi rata-rata 408 kalori dari pizza sedangkan remaja 624 kalori. Asosiasi Jantung Amerika menyarankan anak-anak usia 4-18 tahun mengonsumsi 1.200-2.200 kalori per hari, tergantung usia dan gender mereka.

Angka tadi sebenarnya lebih rendah dari hasil survei tahun 2003-2004. Penurunan tersebut mungkin karena anak-anak mengonsumsi pizza lebih sedikit pada waktu tertentu di 2010. Atau, kata Powell, bisa juga karena pizza itu sendiri jadi sedikit lebih sehat.

Bagaimanapun juga, di hari mereka memakan pizza, anak-anak mengonsumsi rata-rata 83 kalori dan remaja 230 kalori lebih banyak daripada di hari lain. Anak-anak dan remaja juga mengonsumsi 3-5 gram lemak jenuh serta 100-400 mg sodium lebih banyak pada hari memakan pizza.

"Artinya, anak-anak tidak cukup mengimbangi bagian lain diet mereka ketika mengonsumsi pizza. Inilah nutrien yang ingin kami batasi," jelas Powell kepada Reuters Health (20/01/2015).

Pizza sebagai camilan dikaitkan dengan kalori, lemak, dan garam ekstra yang paling banyak dibanding pizza untuk makan siang atau malam. "Efeknya cukup buruk sebagai camilan. Memang tidak semua anak mengonsumsi pizza sebagai camilan, namun hal ini seharusnya tak mereka lakukan," tegas Powell.

Konsumsi pizza mungkin menurun, tapi ukuran pizza di AS bertambah selama beberapa tahun terakhir. Selain itu, konsumsi pizza secara global berbeda dengan di AS.

"Di negara-negara dengan penghasilan rendah dan sedang, pasar pizza sangat besar," ujar Barry Popkin, profesor gizi dan peneliti kesehatan masyarakat di University of North Carolina at Chapel Hill, AS.

Powell berharap para orang tua menyadari peranan pizza dalam konsumsi anak-anak. Bersama-sama, para dokter anak dapat mendesak industri pizza agar membuat produknya lebih sehat. Mungkin dengan menurunkan kandungan lemak jenuhnya.

"Upaya ini sukarela, namun saya berharap para orang tua dapat menggunakan uang mereka untuk membuat pilihan yang lebih sehat," harap Powell.

(fit/odi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads